Kuasa Perempuan Jawa

Perempuan perkasaJudul          : Perempuan-Perempuan Perkasa Di Jawa Abad XVIII-XIX
Penulis      : Pater Carey dan Vincent Houben
Peresensi : Teguh Afandi (Editor Buku Tinggal di Jakarta)
Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tebal         : xvi+112 halaman
Terbit         : April 2016
ISBN          : 9786026208163

Perbincangan atas topik perempuan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Dalam sebuah studi sastra Jawa, ditemukan bahwa penokohan perempuan dalam sastra klasik selalu identik dengan pembantu. Kondisi ini juga diaminikan pada banyak teks sastra kolonial saat penjajahan. Namun seiring berkembangnya sosial masyarakat, perempuan tampil dengan banyak peran dalam naskah sastra Jawa yang lebih modern. Perempuan hadir sebagai tokoh yang bulat, utuh, bahkan mampu menggerakkan alur.
Bila ditarik lebih ke belakang, saat dongeng dan legenda menguasai pikiran masyarakat Jawa, perempuan selalu hadir sebagai korban atau objek eksploitasi. Dalam kuasa prasangka, perempuan dikesampingkan dan dicibirkan. Buku karya Pater Carey dan Vincent Houben ini mencoba lepas dari kuasa dongeng yang mencengkeram dunia perempuan Jawa. Buku ini menceritakan praktik kekuasaan yang kompleks dan rumit -Jawa- ternyata menyimpan sebuah fakta sejarah. Bahwa perempuan turut andil dalam mengatur alur kekuasaan di Jawa, tak semata sebagai konco wingking atau di belakang laki-laki.
Terdapat sebuah pertanyaan mendasar atas pergeseran kedudukan perempuan, apakah memudarnya secara perlahan model matriarki gaya polinecia dalam garis keturunan perempuan dipengaruhi secara serentak oleh kolonialisme dan islam? (hal.80)
Pertanyaan tersebut seolah menguatkan prasangka bahwa perempuan sampai saat sekarang terus terjebak pada posisi kedua setelah laki-laki. Gelombang modernitas ternyata tak kuasa menggerus paradigma yang sudah terlanjur mengakar dalam benak manusia Jawa pada khususnya, dan kemudian diamini oleh kebanyakan manusia Indonesia.
Kedatangan sistim kolonial yang kemudian mencatat sejarah perempuan Jawa versi mereka, selalu menjadikan perempuan Jawa sebagai ladang eksplorasi badani. Tak ayal bila kemudian dalam catatan-catatan kolonial muncul istilah nyai, gundik yang dekat dengan pengertian pelacur Jawa untuk meneer-meneer kolonial.
Sosok Ken Dedes dan Dewi Mundingsari digambarkan sebagai wakil perempuan Jawa dengan kesempurnaan fisik yang memenuhi rimba khayali barat. Kemolekan tubuh dan nihil peran penting terus ditegaskan dalam uraian.
Lepas dari penjara tubuh, maka kedua penulis ini menyebut sosok perempuan Jawa yang tak hanya menggenapi fantasi akan tubuh perempuan timur. Raden Aye Kusumo dan Nyai Ageng Serang tampil memukau dengan peranan penting yang justru melawan kejinya kolonialisme Barat. Keduanya tak hanya lahir sebagai perempuan bangsawan, melainkan memiliki peranan penting hingga mampu mengatur roda ekonomi pada zamannya.
Perempuan harus berani melepas belenggu badani yang terus mengurung sejak zaman dongeng hingga kolonialisme (dan sebagian hingga sekarang). Buku ini menawarkan sebuah kerangka berpikir perihal peranan dan hak perempuan dewasa ini. Tak melulu soal hubungan perempuan dengan laki-laki. Pun soal hubungan perempuan dengan lingkaran kekuasaan.
“Perempuan bangsawan atau putri raja Jawa bukan budak belian suami seperti sering digambarkan dalam literatur kolonial Hindia Belanda. Perempuan Jawa memiliki hak hukum dan semakin besar kemungkinan mereka menggunakan hak tersebut dalam desersi dan kekerasan pihak suami.” (hal.56)
Pater Carey dan Vincent Houben secara gamblang menghadirkan teks berdasarkan sumber-sumber sejarah yang tersimpan dalam kearsipan Barat, yang masyarakat Indonesia sendiri kesusahan menjangkau. Bukan soal jarak yang membentang, tetapi bahasa dalam penulisan yang juga memaksa kita angkat tangan. Arsip-arsip yang kebanyakan tersimpan dalam Leiden Universiteit Bibliotheek di Belanda dan British Library di Inggris tertulis dalam bahasa Jawa kuno bahkan sansekerta.
Penulis juga mewarkan cara memandang perempuan yang mencoba lepas dari borjuasi Eropa, bahwa perempuan Jawa berperan penting dalam kekuasaan kerajaan Jawa hingga mampu memberikan dampak perubahan sosial. Hingga pada sebuah titik kesimpulan apakah relevan kita mengimpor nilai feminisme Barat yang sejadinya tidak berpijak pada perkembangan sejarah dalam negeri. Dan sebuah luka dari kolonialisme Barat yang terus mencatat perempuan sebagai budak laki-laki.

                                                                                                                       ———– *** ————-

Rate this article!
Kuasa Perempuan Jawa,5 / 5 ( 1votes )
Tags: