Istri Pejabatpun Larut Dalam Permainan

Dolanan tradisional tidak hanya diminati anak-anak, tapi juga orang tua dan ibu pejabat yang datang ke Festival Kampung Anyar.

Dolanan tradisional tidak hanya diminati anak-anak, tapi juga orang tua dan ibu pejabat yang datang ke Festival Kampung Anyar.

Kota Batu, Bhirawa
Dolanan tradisional tak hanya mengasyikkan bagi anak-anak, tetapi juga menjadi permainan yang mengasyikkan bagi ibu-ibu pejabat. Seperti Ny Dian, istri Camat Batu  Aris Setiawan dan Ny Sari, istri Lurah Sisir tanpa ragu memainkan permainan ini bersama-sama anak-anak yang memenuhi Kampung Dolanan di Festival Kampung Anyar (FKA) 2016 di Kelurahan Sisir, kemarin (14/8).
Dolanan anak tradisional ini seolah menjadi magnet bagi orang dewasa. Begitu melihat anak-anak mereka bermain engklek, ibu-ibu pun tergiur ikut memainkan permainan yang kini jarang ditemui dikehidupan sehari-hari.
“Sedikit lupa caranya, harus ngobrol dulu sama teman-teman, baru ingat cara permainannya,” ujar Sita, salah seorang guru TK yang kemarin juga ikut mendampingi siswanya bermain.
Sesekali para ibu ini tertawa tergelak karena kereweng yang mereka lempar gagal masuk ke dalam kotak.  Permainan tradisional ini ternyata tidak membuat anak-anak dan orang tua tertarik untuk memainkannya, tapi juga bisa membangkitkan nostalgia masa lalu para orang tua. Apalagi dolanan tradisional yang ada di FKA 2016 ini tidak hanya engklek saja. Ada juga permainan gobak sodor, bektor, egrang dan klakeran yang semuanya menjadi primadona dalam dolanan tradisional di Festival Kampung Anyar. Ratusan siswa yang memenuhi areal kampung dolanan dengan sabar antri bergantian menggunakan lapangan dan alat yang ada.
Bahkan ada anak yang tidak mau pulang karena belum memainkan salah satu permainan. “Ya terpaksa pinjam dulu motor-motoran dari bekas sandal jepit, dijalankan beberapa meter, baru anak saya bersedia pulang,” ujar Farida, warga Kelurahan Sisir.
Panitia Pelaksana Festival Kampung Anyar, Hari Sungex mengatakan, salah satu tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk melestarikan permainan tradisional yang tergeser dengan gadget. “Dibalik permainan tradisional ada kearifan lokal yang tersimpan, itu yang ingin kita lestarikan dalam festival ini,” ujar Hari.
Selain dolanan tradisional, berbagai kegiatan dilaksanakan dalam festival ini. Antara lain pemeriksaan gigi gratis yang dilaksanakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Batu di lokasi festival. Juga dilaksanakan jalan sehat napak tilas pejuang, dimana anak-anak dan orang tua diajak jalan kaki mengelilingi jalan-jalan nama Pahlawan yang ada di Kota Batu. Kemudian dilanjutkan dengan dongeng yang menceritakan siapa sebenarnya Pahlawan dari Kota Batu yang bernama Bejo, Munif, Kapten Ibnu dan 9 pahlawan Kota Batu lainnya.
“Selama ini anak-anak hanya mengenal nama-nama itu sebagai nama jalan saja. Anak-anak tidak tahu siapa mereka dan bagaimana kiprah mereka dalam perjuangan,”jelas Hari. Untuk itu, dalam festival ini panitia sengaja mendatangkan Harijono MC, seorang tokoh masyarakat Kota Batu yang sejarah dan kiprah Pahlawan Kota Batu. [nas]

Tags: