ISEI Apresiasi Pakde Karwo Atas Komitmen Pertumbuhan Inklusif

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo berfoto bersama para pengurus ISEI Cabang Surabaya Koordinator Jatim 2016-2019 yang baru dilantik.

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo berfoto bersama para pengurus ISEI Cabang Surabaya Koordinator Jatim 2016-2019 yang baru dilantik.

Pemprov, Bhirawa
Gubernur Jatim Dr H Soekarwo mendapat apresiasi dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Pusat, seusai menyampaikan paparan tentang ‘Strategi Penguatan Pembiayaan UMKM untuk Meningkatkan Daya Saing dan Pertumbuhan Inklusif’, pada seminar nasional dalam menghadapi ketidakpastian global, di Bank Jatim, Kamis (11/8).
Kesempatan itu, Gubernur Soekarwo mengutarakan, menurut jurnal Bank dunia, satu persen penduduk Indonesia menguasai 50 persen aset di Indonesia sehingga disparitas menjadi cukup lebar. Ini warning luar biasa dari Bank dunia. Maka Pemprov Jatim bersama bupati/wali kota melakukan penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Dari size ekonomi Jatim 2015 sebesar Rp1.689,88 triliun, kontribusi UMKM terhadap PDRB cukup besar mencapai 54,98 persen dan menyerap tenaga kerja 98 persen, dan keberadaan UMKM merata di seluruh wilayah Jatim. Apalagi berdasar sensus by name by adress, UMKM  tahun 2011-2012 BPS tercatat 6,8 Juta UMKM, yang siap ekspor 3.476 UKM, perintis ekspor 1.330 UKM, dan inkubator  70.000 UMKM lebih.
“Untuk itu strategi yang harus dilakukan kepada 6,8 juta UMKM daya saingnya harus diperkuat, produknya standarisasi, harga barangnya  lebih murah, lebih baik dan lebih cepat sampai konsumen distribusinya,” tutur Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Soekarwo.
Bersama bupati/wali kota sudah ada program setiap empat bulan sekali membicarakan antara pembangunan nasional, provinsi dan pembangunan kab/kota, plus  pembangunan yang bersifat lokal yang sifatnya menjadi prioritas. Yakni pariwisata, sumber daya alam yang akan dikembangkan dan lain sebagainya.
Pertumbuhan ekonomi Jatim semester pertama 2015 sebesar 5,22 persen, pada semester pertama 2016 naik 5,55 persen. Sementara nasional diperkirakan 5,4 persen, Jatim pada triwulan dua pada 2016 diperkirakan tumbuh 5,6 persen.
“Industrialisasi bisa jalan dengan baik kalau suku bunga rendah, pasar harus dibentuk karena 50 persen pasar dunia turun. Maka pasar dalam negeri yang harus dikembangkan. Untuk itu daya saingnya harus tinggi kualitasnya harus baik, harganya lebih murah dan distribusinya juga cepat. Sehingga infrastruktur harus dibenahi baik laut, darat maupun udara. Itulah circle solusinya,” tandasnya.
Pakde Karwo menyarankan restrukturisasi pola pembiayaan, yang meliputi  Instrumen moneter bunga SBI agar menjadi acuan suku bunga Bank pelaksana (harus ada cut off), Bunga kredit segmen usaha mikro agar dirasionalisasi (agar lebih rendah dari kredit korporasi).
Dalam pembiayaan pembangunan harus diketahui detail kapasitas usaha target grup pembangunan, supaya dapat mengetahui apakah government spending harus melalui banking system atau masih harus diintervensi melalui grant Government spending harus bersifat elastis untuk fungsi stimulus (tergantung keadaan/kapasitas fiskal), dan penerapan kebijakan fiskal pada UMKM (pemungutan pajak) agar di-minimize.
Chief Economist BRI dan Dosen UGM Dr Anggito Abimanyu mengatakan, pertumbuhan ekonomi DKI, Jatim dan Jabar lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi daerah-daerah penghasil memerlukan dukungan APBN. Sementara daerah sumber pertumbuhan atau investasi memerlukan peran  Perbankan.
“Pertumbuhan ekonomi daerah akan sangat tergantung pada fungsi intermediasi perbankan. Fungsi bank-bank daerah belum bisa diandalkan karena struktur portofolio yang terfokus pada kredit pinjaman konsumsi,” imbuhnya.

Berharap ISEI Ikut Mendorong Tumbuhnya Industrialisasi
Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Untuk itu, Gubernur Jatim Dr H Soekarwo berharap pengurus ISEI Cabang Surabaya Koordinator Jatim periode 2016-2019 yang baru dilantik tetap grounded melihat problem pembangunan, tentunya harus mendorong industrialisasi kembali.
Jika proses industrialisasi tidak di bidang agro akan menimbulkan bencana terhadap anak muda yang dikhawatirkan akan urbanisasi. Maka strategi pendidikan harus dirubah total. Soluasinya pendidikan fokus pada vocational. Meningkatkan Rasio SMK 70 persen dan SMA 30 persen.
Plus pengembangan  BLK semula 18 ribu per tahun menajdi 28 ribu per tahun dan membangun akhir 2017 sebanyak 370 SMK mini pendidikan selama enam bulan bekerja sama dengan Jerman. “Agar mereka masuk tenaga kerja dan memberikan nilai tambah terhadap desa, jika ke luar negeri menjaditenaga kerja  formal. Sehingga Deparlu bisa memebrikan perlindungan  hukum terhadap tenaga kerja seperti itu,” tandansya.
Sekretaris Umum Pengurus Pusat ISEI Adriyani dalam kesempatan itu mengatakan, negara-negara maju pertumbuhan ekonominya juga semakin menurun. Hal itu juga menunjukkan bahwa ekonomi dunia sudah berubah dari negara maju ke negara berkembang, salah satunya Indonesia.
Dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen  penguatan terhadap eksport belum signifikan maka daerah dituntut tidak hanya bicara ekonomi secara umum, tapi menyikapi eksport impor secara lokal. Nasional tidak ada artinya kalau setiap daerah tidak berorientasi tentang ekspor impor, sehingga cenderung hanya mengandalkan APBD saja. “Jatim saya lihat luar biasa sudah melakukannya sehingga inflasi di Jatim terbaik,” ujarnya
ISEI di daerah punya tantangan besar kontribusinya terhadap perekonomian lokal, sehingga perekonomian nasional bisa menjadi kuat. Penguatan sangat penting karena saat ini permintaan dunia menurun 50 persen . berarti banyak perusahaan mengurangi produksi.
Tantangan terbesar adalah kemiskinan. Tidak hanya kepala daerah tapi anggota ISEI dan para ekonom bukan hanya membahas angka kemiskinan tapi pengurus harus bisa menurunkan angka kemiskinan. “Saya harap pengurus ISEI bisa memantau masyarakat miskin menjadi mandiri, berwirausaha membina dalam kelompok-kelompok usaha,” harapnya.
Ketua ISEI Cabang Surabaya Koordinator Jatim periode 2016-2019 Dr Eko Purwanto, SE MSi  mengatakan, pergantian pengurus ISEI Surabaya salah satu tujuan utamanya adalah regenerasi yang akan berdampak pada peningkatan kontribusi organisasi dalam upaya pengembangan ekonomi khususnya di Jatim dan Surabaya.
Peran ISEI dalam pengembangan perkonomian dilakukan melalui konsep pemikiran dalm upaya membangun perekonomian antara lain melaui kegiatan seminar. Tema seminar kali ini dilatarbelakangi ketidak pastian dalam pereknomian global yang indikasinya antara lain krisis ekonomi eropah yang sampai saat ini belum pulih. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memperkuat ekonomi nasional agar dapat mengeliminir dampak negatif dan perkembangan faktor eksternal. [iib]

Tags: