Dana Bantuan Bedah Rumah Kemenpera untuk Warga Miskin di Jombang Disunat

Salah satu rumah warga Mojojejer yang mendapatkan bantuan bedah rumah terpaksa harus berhenti karena dananya habis, Selasa (9/8). [ramadlan]

Salah satu rumah warga Mojojejer yang mendapatkan bantuan bedah rumah terpaksa harus berhenti karena dananya habis, Selasa (9/8). [ramadlan]

Potongan Setiap Penerima Rp 1 hingga Rp 1,5 Juta
Jombang, Bhirawa
Sungguh memprihatinkan nasib warga miskin Desa Mojojejer Kecamatan Mojowarno penerima bantuan bedah rumah. Pasalnya bantuan bedah rumah dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) melalui Bantuan Stimulan Perumahan Rakyat (BSPS) sebesar Rp 10 juta harus dipotong Rp 1 hingga Rp 1,5 juta.
“Saat sosialisasi kita menerima Rp 10 juta untuk setiap rumah yang dapat bantuan bedah rumah. Namun dipotong administrasi sebesar Rp 1,5 juta, kami akhirnya hanya menerima Rp 8,5 juta, “ujar Sujono, salah satu warga saat ditemui di rumahnya, Selasa (9/8).
Keluhan senada juga disampaikan Rubianto yang terpaksa menumpang di rumah orang lain. Sementara bantuan program bedah rumah belum bisa ditempati. Ia mengaku tidak berani mengambil risiko seperti warga lainnya, nekat pinjam uang untuk merampungkan pendirian rumah. “Bantuan tidak cukup untuk membangun rumah, karena belum selesai sementara terpaksa menumpang di rumah tetangga,” bebernya.
Bantuan yang diterima seharusnya sama, yakni Rp 10 juta. Namun, dari angka tersebut dirinya hanya menerima bantuan sebesar Rp 9 juta. “Yang Rp 1 juta dipotong, katanya untuk biaya administrasi,” imbuhnya.
Dari jumlah itu sekitar Rp 2 juta sekian diberikan dalam bentuk uang tunai untuk ongkos pekerja. Sisanya diberikan dalam bentuk material bangunan, seperti batu bata, pasir, semen serta satu unit pintu depan rumah termasuk jendela. “Jadi sisa uang sekitar Rp 6,9 juta tersebut tidak diberikan dalam bentuk uang, tapi berupa material bangunan,” bebernya.
Dikonfirmasi terpisah, Auladana selaku Plt Sekdes Mojojejer mengaku tidak tahu persis terkait pelaksanaan program bedah rumah untuk warganya tersebut. Namun dia tak menampik jika sebagian dana bantuan dipotong sebesar Rp 1,5 juta  untuk biaya administrasi. “Pastinya saya tidak tahu, isunya ada pemotongan, biar nanti Pak Kades yang menjelaskan, namun kebetulan Pak Lurah sedang keluar kota,” jelasnya ditemui di kantor desa kemarin.
Menurutnya, pelaksanaan program bedah rumah yang diperuntukkan bagi warga miskin 2016 sudah rampung semua. Bahkan pemerintah desa pada 2017 nanti juga telah mengajukan sebanyak 13 warga yang rencananya mendapat program bedah rumah.  “Setahu saya semua pekerjaan sudah selesai, artinya sudah layak huni semua,” terangnya.
Zakariya membeberkan total warga yang menerima bantuan bedah rumah pada 2015 lalu sebanyak 28 warga miskin. Total nilai bantuan mencapai Rp 280 juta. ” Masing-masing penerima mendapat Rp 10 juta, dan bantuan itu masuk ke rekening desa kemudian baru diserahkan ke penerima. Sebelumnya pihak desa membentuk panitia bedah rumah,” bebernya.
Zakariya mengakui, belakangan sebagian warga mempertanyakan perihal peruntukan dana potongan tersebut. “Memang warga sudah pernah mengadu ke desa terkait sejumlah dana bantuan yang dipotong, tapi seperti apa tindaklanjutnya saya tidak tahu,” pungkasnya. [rur]

Tags: