Risma Masih Tunggu Keputusan Megawati

Abdul-Hakim-Wartawan-LKBN-Antara-kiri-Hasto-Kristiyanto-Sekjen-PDI-Perjuangan-tengah-dan-Didik-Prasetiyono-Direktur-Eksekutif-SCG-Consulting-kanan.

Abdul-Hakim-Wartawan-LKBN-Antara-kiri-Hasto-Kristiyanto-Sekjen-PDI-Perjuangan-tengah-dan-Didik-Prasetiyono-Direktur-Eksekutif-SCG-Consulting-kanan.

Surabaya, Bhirawa
Naiknya Tri Rismaharini sebagai Wali kota Surabaya bahkan untuk periode kedua masih dinilai sebagai bentuk keputusan partai yang sentralistik. Keputusan PDIP untuk memajukan perempuan pertama yang menajdi pemimpin Surabaya ini dinilai pakar politik Unair, Priyatmoko , bukan keputusan dari bawah.
Pakar politik sekaligus dosen FISIP Unair DR Priyatmoko dalam membahas buku Merajut Kemelut: Risma, PDI Perjuangan dan Pilkada Surabaya, Senin(11/4) menggambarkan buku  tersebut menggambarkan bagaimana kehadiran Risma sebagai anomali dalam demokrasi.
“Kami sering mengkritisi model demokrasi Partai yg sentralistik, namun Risma lahir dalam model kepartaian seperti itu. Tanpa adanya Megawati yg menjadi pemimpin sentral PDIP, niscaya Risma tidak lahir. Sebab keputusan Risma saat itu adalah keputusan dari atas,” terangnya.
Buku karya Abdul Hakim Wartawan LKBN Antara dan Didik Prasetiyono Direktur Eksekutif SCG Consulting di FISIP Unair ini dinilai menggambarkan legitimasi Risma yang kuat karena kerja kerakyatannya. Buku berjudul ‘Merajut Kemelut : Risma, PDI Perjuangan, dan Pilkada Surabaya’ mendapat apresiasi positif dari Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Dalam Bedah Buku di Universitas Airlangga (Unair) itu, Hasto menegaskan bagaimana sentuhan Risma menjadikan dalam wajah kerakyatan, wajah penuh nilai-nilai kemanusiaan, yang mengintegrasikan harapan rakyat dengan keputusan yang diambil Risma.
“Buku ini menggambarkan bagaimana seorang pemimpin dengan legitimasi sangat kuat karena kerja kerakyatannya, maka akan selalu dibela oleh rakyat,” ujar Hasto kepada wartawan dalam bedah buku di Fisip Unair, Senin (11/4) kemarin.
Menurutnya, buku tersebut mencerminkan bagaimana kedaulatan rakyat tidak bisa diterjang oleh apapun. “Termasuk oleh skenario politik yang saat itu (Pilkada Surabaya 2015, red) mencoba mengganjal kepemimpinan Bu Risma di Surabaya,” katanya.
Hasto mengatakan, apa yang ada di dalam buku tersebut akan mendorong PDI Perjuangan untuk terus melakukan upaya memperbaiki diri. Terutama dalam hal karakter pemimpin yang akan diusung. “PDIP akan melanjutkan tradisi sekolah para calon kepala daerah, sehingga apa yang dilakukan oleh Bu Risma menjadi inspirasi bagi calon kepala daerah yang akan diusung PDIP,” katanya.
Hasto ingin agar tata pemerintahan merakyat dan komitmen terhadap wong cilik terus menjadi kultur dalam pemerintahan yang dijalankan oleh PDI Perjuangan. (geh)

Rate this article!
Tags: