Risma Janji Pertahankan Keunikan Kampung Nelayan

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ikut mengecat  rumah nelayan yang ada di sekitar Pantai Cumpat Kenjerang, Minggu (10/4). Kegiatan ini merupakan puncak Bulak Fest 2016. [gegeh bagus]

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ikut mengecat rumah nelayan yang ada di sekitar Pantai Cumpat Kenjerang, Minggu (10/4). Kegiatan ini merupakan puncak Bulak Fest 2016. [gegeh bagus]

Puncak Bulak Fest 2016
Surabaya, Bhirawa
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengecat rumah nelayan di kawasan Cumpat, Kecamatan Bulak agar terlihat indah dan tidak kumuh. Kegiatan itu  sekaligus untuk menandai puncak kegiatan Bulak Fest 2016.
Risma mengajak semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Surabaya bergotong royong mengecat 28 bangunan rumah permanen yang ada di sekitar Jalan Cumpat Haji Ulung yang dekat dengan pesisir laut. Hal ini untuk mempercantik bangunan rumah yang selama ini dihuni oleh para nelayan.
Risma yang dijadwalkan datang pukul 07.30 sudah datang sejak pukul 07.00. Wali Kota perempuan pertama di Surabaya ini langsung memegang kuas beserta ember berisi cairan cat. Dengan mengenakan helm pengaman, ia langsung mengecat tembok yang terlihat kusam. Rumah nelayan pertama dicat warna hijau tua dan oranye.
Gerak Risma ini pun langsung diikuti bersama Kepala SKPD lainnya, seperti Sekretaris Daerah Kota Surabaya Hendro Gunawan, Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Surabaya Eri Cahyadi, Kepala Dinas Pertanian Kota Surabaya Joestamadji, serta beberapa SKPD lainnya dan beberapa Camat.
Risma terlihat lama mengecat rumah warga yang masih terbuat dari gedek, termasuk pagarnya yang masih terbuat dari bambu. Satu per satu pagar yang terbuat dari bambu itu dicat dengan aneka warna, mulai dari warna kuning, merah, biru, hijau, dan orange. “Kayune iku yo dicat rek, ojok temboke tok (kayunya itu ya dicat rek, jangan temboknya saja, red),” katanya kepada petugas.
Risma menambahkan untuk menawarkan kekhasan warga kampung nelayan ini salah satunya memperbaiki sanitasi dan akses jalannya. Ia berjanji akan mempertahankan keunikan kampung nelayan mengingat di Jakarta sudah banyak reklamasi. “Di Jakarta kan banyak orang yang menghilangkan kampung nelayan kemudian dibangun baru. Saya nggak mau, sebenarnya sudah ada anggaran itu, tapi saya nggak mau. Justru inilah keunikan kampung nelayan yang berbeda-beda,” ujarnya.
Risma menjelaskan, kawasan pinggiran Pantai Cumpat dan Kenjeran akan menjadi destinasi baru di Kota Surabaya. Bahkan, di Surabaya akan menjadi kampung nelayan yang khas dan beda dengan daerah lainnya. “Saya tidak bisa membawa Bulak keluar (diperkenalkan ke kancah internasional) kalau kotor, makanya harus bersih dan teratur itu kuncinya sebuah tempat wisata. Mereka (warga Bulak) harus mengerti dahulu tentang pentingnya kebersihan,” jelasnya.
Oleh karena itu, Risma menyampaikan banyak terimakasih kepada komunitas #bicarasurabaya yang telah berusaha mendorong destinasi wisata di kawasan pinggiran itu. Pasalnya, dengan adanya Bulak Fest 2016 ini, warga bisa ikut terdorong untuk meramaikan kawasan pinggiran Surabaya, terutama Gedung Sentra Ikan Bulak (SIB). “Terimakah kepada komunitas #bicarasurabaya yang telah sukses menyelenggarakan ini, meskipun Pemkot Surabaya membantu yang paling sedikit,” katanya. [geh]

Tags: