Pedagang Pasar Keputran yang Tergusur Didominasi Pengungsi Sampit

Banyak stan telah beralih fungsi menjadi hunian semi permanen.

Banyak stan telah beralih fungsi menjadi hunian semi permanen.

Surabaya, Bhirawa
Pedagang Pasar Tradisional Keputran yang menempati stan sebagai tempat tinggal semi permanen disinyalir adalah pengungsi kerusuhan Sampit Kalimantan 2001 silam.
Selain itu, diduga ada oknum yang ‘bermain’ dalam hal sewa-menyewa stan hingga jutaan rupiah sejak puluhan tahun. Karena itu pedagang bisa menempati stan dan diubah menjadi hunian semi permanen.
Saat ini semuanya masih ditelusuri dan dicarikan solusi. Apalagi sebelumnya tidak ada pendataan yang dilakukan di lantai dua Pasar Keputran. Pendataan baru dilakukan setelah stan itu dibongkar oleh petugas gabungan Rabu kemarin.
Kecamatan Tegalsari  yang wilayahnya menaungi Pasar Keputran mengatakan pihaknya sama sekali belum pernah melakukan yustisi pada pedagang Pasar Keputran khususnya di lantai dua untuk pendataan. Padahal, setiap kecamatan diharuskan untuk melakukan pendataan kepada warga pendatang.
Camat Tegalsari Sair pun mengakui dirinya belum pernah melakukan yustisi di Pasar Keputran. Meski sudah terlacak keberadaan tempat tinggal semi permanen di lantai dua, namun ia tak bisa melakukan pendataan tanpa adanya bantuan dari instansi lain.
“Selama ini nggak pernah masuk ke situ (Pasar Keputran) untuk melakukan yustisi karena takut. Orang-orang PD Pasar Surya saja masih ewuh pakewuh kok,” katanya saat dikonfirmasi Bhirawa, Kamis (7/4) kemarin.
Dengan penertiban yang dilakukan petugas gabungan dari Satpol PP, Bakesbangpol Linmas, Bapemas, Dispendukcapil Kota Surabaya serta di-backup oleh kepolisian dan TNI, Sair mengaku sangat terbantu. Dengan begitu, dia baru mengetahui secara detil kondisi yang ada di Pasar Keputran lantai dua ini.
“Setelah tahu dijadikan tempat hunian, saya tanya ke pihak PD Pasar Surya katanya mereka pengungsi dari Sampit. Dan memang ada sebagian, tapi kami kesulitan untuk membuktikan karena rata-rata pedagang memiliki KTP semua mayoritas dari Sampang,” jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, stan Pasar  Keputran lantai dua akhirnya dibongkar Satpol PP) Kota Surabaya dan petugas gabungan, Rabu (6/4). Hal ini setelah didapatkan puluhan stan beralih fungsi jadi hunian para pedagang. Mereka pun pasrah meski sudah membayar jutaan rupiah per tahun pada pemilik stan sebelumnya.
Ditanya ada pedagang bayar stan hingga jutaan rupiah, Sair membenarkan akan hal tersebut. Namun, dia belum mengetahui detilnya kemana uang tersebut. “Saya memang menemukan pedagang yang bayar hingga jutaan itu. Setahu saya kan cuma bayar stan per bulannya mulai Rp 30- 40 ribu saja,” ungkapnya.
Sair berharap ada upaya yang dilakukan PD Pasar Surya secara konkrit terkait banyaknya pedagang yang meluber ke jalan. “Tolong, pihak PD Pasar jangan magak kalau mau merevitalisasi pasar. Selama pasar kondisinya seperti ini, tidak akan ada pembeli yang mau masuk pasar,” harapnya.
Sementara, Plt Kepala PD Pasar Surya Surabaya Bambang Parikesit mengatakan bahwa lapak  yang sempat dibongkar oleh petugas adalah yang tidak berizin atau melanggar aturan. Seperti berjualan di jalanan pasar. Untuk lantai dua, pihaknya telah memiliki rancangan untuk menampung para pedagang yang selama ini berjualan di luar dan di jalanan. Ada sekitar 500 pedagang yang berada di luar Pasar Keputran. “Lantai dua ini nanti akan dibuat los pasar serta akan kami percantik tampilannya. Untuk di lantai dua kapasitasnya sebanyak 197 stan,” katanya.
Dijelaskan Bambang, bila ternyata kapasitas lantai dua Pasar Keputran tidak cukup untuk menampung keberadaan pedagang yang berada di luar, maka pihaknya telah menyiapkan pasar yang lain. Antara lain Pasar Bratang, Pasar Krukah dan Pasar Gubeng. “Kami akan kembalikan fungsi pasar dan stan seperti semula. Sekaligus akan kami revalitasi Pasar Keputran. Yakni untuk berjualan dan berdagang, bukan sebagai tempat tinggal tetap,” tandas Bambang.
Kasatpol PP Kota Surabaya Irvan Widyanto pun mengakui kesulitan untuk memastikan apakah pedagang Pasar Keputran di lantai dua adalah buntut dari kerusuhan Sampit. Ia berusaha mendata pedagang satu per satu melalui KTP masing-masing. “Kami kesulitan untuk memastikan pedagang itu benar-benar dari Sampit atau tidak. Karena semua memiliki KTP,” katanya. [geh]

Tags: