Pamekasan Raih Penghargaan TOP 99, Inovasi Pelayanan Publik Tingkat Nasional

Bupati Pamekasan, Drs Achmad Syafii, MSi, (nomor 2 dari kanan) berpose usai menerima penghargaan usai presentasi makalah Inovasi Pelayanan Publik 'Intan Satu Saka'.

Bupati Pamekasan, Drs Achmad Syafii, MSi, (nomor 2 dari kanan) berpose usai menerima penghargaan usai presentasi makalah Inovasi Pelayanan Publik ‘Intan Satu Saka’.

Pamekasan, Bhirawa.
Pemerintah Kabupaten Pamekasan meraih penghargaan terbaik TOP 99, Inovasi Pelayanan Publik tingkat Nasional. Penghargaan bidang pengembangan populasi hewan ternak sapi dengan inovasi ‘Intan Satu Saka’, itu dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur & RB Republik Indonesia.
Keberhasilan ini, tentu melalui seleksi sangat ketat dari 2.476 peserta menjadi 99 peserta yang menerima penghargaan TOP 99, berkat kemauan dan keras Bupati bersama SKPD, khususnya dinas Peternakan dan masyarakat agar kota ini menjadi i-con sebagai ‘pulau sapi’.
Dikembangkannya gemar berternak melalui inovasi satu tahun satu kelahiran disebut “Intan Satu Saka” karena sapi Madura (Pamekasan, Red) secara nasional sebagai sumberdaya genetic lokal/plasma nutfah sesuai Keputusan Menteri Pertanian No. 3735/Kpts/HK.040/11/2010.
Bupati Pamekasan, Drs Achmad Syafii, MSi, mendapat kehormatan menjadi narasumber di symposium dan gelar penghargaan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik di gedung JX Internasional Jatim, Jalan. A. Yani 99 Surabaya, (31 Maret – 2 April 2016).
Bahwa program “Intan Satu Saka” untuk  memberdayakan Petani melalui sapi potong sangat relevan dan mempunyai makna strategis, didukung 70 persen petani mempunyai ternak sapi. Analisisnya, sebelum “Intan Satu Saka”, bahwa produktivitas rendah, jarak beranak relative pajang, respon program Inseminasi Buatan (IB) rendah, bersifat trasional sebagai usaha sampingan belum berorentasi bisnis.
Pendekatan persuasive partisipatif mampu mengubah pola pikir peternak dengan kearifan lokal dapat mengoptimalkan potensi reproduksi Sapi Madura. Program IB, satu tahun satu kelahiran, semula hanya 5 persen populasi menjadi 40 persen jarak kelahiran sapi 12 -14 bulan.
Selain itu, meningkatkan nilai partisipasi masyarakat semula Rp. 8.750.000 (350 ekor X Rp. 25.000) menjadi senilai Rp. 223.725.000 (8.949 ekor X Rp. 25.000) di tahun 2015, dengan biaya IB Rp. 25.000, diraih keuntungan 5 – 10 juta, dalam usia 3 bulan sapi siap jual.
Kalkulasi program ini pada 2008 hanya berkisar 3,5 miliar (350 ekor sapi X Rp. 10 juta) meningkat sebesar 89 miliar 480 juta rupiah (8.949 ekor sapi X Rp. 10 juta). Maka 25 kali lipat program inovasi ini, menguntungkan karna hasil jauh lebih besar dari anggaran disediakan Pemerintah (Rp. 140.920.000, Red) di 2015 ini.
“Syukur Alhadullah, kita bisa merih penghargaan Inovasi Pelayanan Publik,” kata Bupati Achmad Syafii. Menurutnya, penghargaan hanya salah simbol keberhasilan dari kerja keras namun terpenting selalu konsisten meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. “Bila pelayanan itu baik maka hasil pembangunan juga baik.” tandasnya.
Penghargaan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik akan diseleksi mencari 35 peserta terbaik dari yang terbaik, yang akan berpeluang mengikuti penilaian tingkat Internasional. [din,adv]

Tags: