Moratorium Lahan Sawit

Kelapa SahidKebakaran lahan yang “meng-ekspor” asap akan berkurang secara efektif. Presiden Jokowi telah menginstruksikan moratorium izin pembukaan lahan kelapa sawit. Selanjutnya akan diiringi intensifikasi tanam, sehingga hasil panen kelapa sawit bisa dua kali lebih besar. Moratorium itu akan memupus penghasilan haram dari proses pembalakan liar. Tak terkecuali penghasilan negara tetangga dari investasi sawit.
Tetapi Inpres juga bisa tak digubris oleh berbagai pihak. Diperlukan “pengawalan” Inpres, agar benar-benar berlaku. Jika efektif, maka sistem tanam sawit akan mengalami modernisasi. Sudah lebih dari 100 tahun, sistem tanam sawit dilakukan secara tradisional ala kadarnya. Sehingga hasilnya tidak maksimal. Pada sisi lain, lahan yang digunakan kebun sawit akan mengalami korosi tanah sangat cepat. Tidak bisa digunakan sebagai ladang sawah.
Indonesia, selama ini dikenal sebagai penghasil sawit terbesar dunia. Secara kenegaraan, Indonesia meng-ekspor 38% kebutuhan CPO (crude palm oil) dunia. Malaysia pada peringkat kedua. Namun lebih 60% pohon kelapa sawit dunia berasal Indonesia. Karena sebagian kelapa sawit Malaysia ditanam di Indonesia, khususnya di Kalimantan bagian barat, dan Sumatera bagian utara. Maka wajar Indonesia meng-inginkan menjadi pengendali CPO dunia, diantaranya melalui intensifikasi ladang.
Kebun kelapa sawit sudah menyeruak, menjadi pengharapan petani, pengusaha, dan BUMN. Saat ini, luas lahan kelapa sawit Indonesia mencapai 9,1 juta hektar. Sekitar 3,79 juta hektar milik petani. Dengan produktivitas rata-rata sebesar 3,8 ton CPO per-hektare per-tahun. Harga sawit di kebun (milik rakyat, belum jadi minyak) sekitar Rp 1.500,-per-kilogram (Rp 1,5 juta per-ton). Tetapi harga CPO (sudah jadi minyak) menjadi US$ 600,- per-ton (Rp 7,8 juta).
Sawit sudah bisa dipetik pada usia pohon 3,5 tahun sejak tanam (berupa kecambah). Pada usia setelah 10 tahun mengalami puncak panen. Kelebihannya, sawit berbuah tanpa mengenal musim. Pada areal 1 hektar bisa ditanami 130-an batang. Jika dimiliki 20 hektar lahan, maka bisa dilakukan petik tiap akhir pekan. Per-batang pohon menghasilkan 10 kilogram. Tidak produktif lagi pada usia setelah 20 tahun.
Pasca usia 20 tahun inilah, kebun kelapa sawit menjadi permasalahan, karena harus diperbarui. Jalan satu-satunya, hanya dibakar. Atau membuka lahan baru dengan cara membakar hutan pula. Diperkirakan sebanyak 50 juta warga pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, terpapar dampak kabut asap. Bukan hanya penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yang diderita, melainkan sudah menyebabkan korban jiwa.
Indonesia darurat kabut asap, dengan ratusan titik api, dengan hamparan ratusan hektar. Ini (darurat kabut asap bukan) bukan gejala alam, melainkan kebanditan terhadap lingkungan hidup. Pemerintah sampai mengerahkan personel TNI gabungan untuk memadamkan api. Juga menyiagakan kapal perang untuk meng-evakuasi warga terdekat areal yang terbakar.
Istimewanya, sebelum operasi (pemadaman) dimulai, didahului dengan shalat istisqo’, doa minta hujan segera diturunkan. Sebab, pengerahan pesawat untuk water bomber, tidak akan mencukupi. Hanya hujan (dari langit) yang bisa mengalahkan kobaran api yang terlanjur meluas. Selanjutnya, niscaya diperlukan cara lebih sistem untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan. Termasuk dengan paradigma fisika botani. Yakni, penanaman pohon yang difungsikan sebagai penyimpan air. Sekaligus me-lokalisir kebakaran agar tidak merembet semakin jauh.
Moratorium perizinan lahan sawit (baru), mestilah diikuti intensifikasi, sejak tanam hingga pasca-panen. Pemerintah juga akan memperoleh pungutan resmi  (CPO fund) yang lebih lebih besar. Tahun (2016) ini CPO fund diperkirakan sebesar Rp 9,6 trilyun. Hanya diperlukan keberanian pemerintah untuk segera memulai moratorium. Hikmahnya, harga sawit dunia dibawah kontrol Indonesia. Sekaligus mengamankan lingkungan hidup.

                                                                                                   ———- 000 ———–

Rate this article!
Moratorium Lahan Sawit,5 / 5 ( 1votes )
Tags: