Meneguhkan Pendidikan Keluarga Agamis

Syaiful AminOleh:
Syaiful Amin
Peminat Kajian Sosial-Agama ; Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sunan Giri Surabaya

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang agamis, yaitu bangsa yang berpegang teguh pada nilai-nilai budi luhur agama. Hal ini menjadi potensi tersendiri untuk menciptakan realitas kehidupan berbangsa yang lebih baik, sejahtera, seimbang, dan bermartabat. Sebab semua agama telah mengajarkan dan menuntun ummatnya untuk menjadi ummat yang paling baik, berbudi luhur, dan unggul di dalam semua bidang. Namun demikian, idealitas dengan realitas dalam kehidupan kita sebagai Bangsa yang agamis tidaklah senantiasa sejalan berbanding lurus. Bangsa Indonesia seharusnya menjadi bangsa yang maju dengan potensi nilai-nilai agama yang dimiliki serta potensi-potensi yang lain.  namun realitas yang kita hadapi kini berbeda, Indonesia justru belum mampu beranjak dari keterpurukan yang membelenggu, belum bisa mengatasi dekadensi moral yang kian mengakar. Ini adalah sebuah ironi yang berkepanjangan.
Disadari atau tidak, kini bangsa Indonesia mengalami krisis multidimensi, yaitu krisis yang menyelinap di setiap sendi kehidupan berbangsa. Dekadensi moral menjadi krisis yang paling akut dan paling mengancam terhadap eksistensi kehidupan berbangsa dan beragama. Krisis tersebut kian hari kian menimpa semua lapisan masyarakat, mulai dari lapisan masyarakat yang secara hirarkis berada di paling atas sampai pada lapisan yang paling bawah. Korupsi, suap menyuap, “jual beli” hukum terjadi dimana-mana, dari tingkat pusat sampai pada tingkat daerah. Bahkan pejabat desa pun tidak mau ketinggalan dalam praktek risywah tersebut.
Selain di kalangan pejabat, dekadensi moral juga tengah terjadi kalangan guru,   remaja, pelajar, dan mahasiswa. Dimana-mana terjadi yang namanya tawuran, pesta narkoba, free sex, aborsi, pembunuhan, pencurian, penganiayaan, pencabulan, dan semacanya. Kondisi ini menunjukkan bahwa bangsa ini sudah sekian parahnya mengalami dekadensi moral.
Untuk mengatasi dekadensi moral tersebut tentu tidak lepas dari peran Pemerintah sebagai pemangku kebijakan, peran lembaga pendidikan sebagai tempat untuk mengasah segala kecerdasan, peran masyarakat sebagai control sosial,  dan yang paling penting adalah peran pendidikan keluarga (orang tua) sebagai pendidikan paling mendasar.
Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak dalam membentuk jati diri generasi penerus bangsa. Anak-anak yang dilahirkan dalam bingkai keluarga adalah aset utama untuk meneruskan estafet perjuangan bangsa. Oleh karenanya, harus dicetak untuk memiliki karakter yang kokoh dan memiliki jati diri bangsa yang terbingkai dalam nilai-nilai Agama. pendidikan keluarga merupakan modal dasar bagi perkembangan keperibadian anak pada masa dewasanya. Pendidikan keluarga adalah pokok permasalahan yang harus diperhatikan. Baik buruknya anggota keluarga sangat bergantug pada keberhasilan proses pembinaan dan pendidikan dalam rumah tangga.
Membina dan mendidik anggota keluarga bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi pada zaman globalisasi – informasi seperti sekarang ini, maka tugas itu menjadi kian berat. Satu contoh, betapa tayangan acara di televisi telah berhasil menyedot perhatian dan energi yang besar dari masyarakat kita. Mulai anak-anak, remaja, sampai orang tua, semua terlena. Jika tidak ada perhatian dalam hal pembinaan dan pendidikan dalam keluarga, maka niscaya dampak negatif globalisasi tidak akan terbendung. Pendidikan Keluarga adalah tulang punggung atau kunci dari kemajuan sebuah bangsa. Akan tetapi yang dimaksud pendidikan keluarga dalam hal ini bukanlah pendidikan yang hanya berorientasi pada pengembangan fisik dan ilmu pengetahuan semata, melainkan pendidikan keluarga yang bernafaskan nilai-nilai agama, atau lazim disebut dengan istilah keluarga agamis.
Pendidikan keluarga agamis adalah pendidikan yang mampu mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Sebab pendidikan keluarga yang hanya berorientasi pada fisik dan pengembangan ilmu pengetahuan semata, sementara budi pekerti diabaikan, maka bisa dipastikan akan menghasilkan generasi yang mempunyai intelektualitas tinggi, tetapi moralitasnya rendah, bejat, apatis, dan tidak bertanggung jawab sebagaimana yang tengah terjadi saat ini.
Dari hal inilah, pendidikan keluarga agamis penting untuk diketengahkan, didiskusikan, serta diinternalisasikan pada masing-masing individu anggota keluarga. Tujuannya tidak lain sebagai upaya   untuk mengatasi dekadensi moral generasi Bangsa. Sehingga kemajuan dan kesejahteraan bangsa tidak hanya menjadi sebuah impian belaka.

                                                                                                      ———— *** ————-

Rate this article!
Tags: