Melek Baca Masih Rendah

Karikatur Butu HurufBaca (dan tulis), terbukti bukan kebutuhan utama pada masa lalu. Karena sekolah terbatas, dan kemiskinan. Harus diakui, hal itu merupakan dampak penjajahan. Termasuk pembatasan akses pendidikan oleh pemerintah kolonial. Pengajaran dilakukan  dengan pola “rakyat mendidik rakyat” di rumah tokoh, atau di pesantren. Sampai dekade 1950-an, masih banyak masyarakat belum terdidik secara moderen (klasikal, sekolah).
Di seluruh benua Asia dan Afrika, sebagai bangsa terjajah, mengalami pembatasan pendidikan secara sosial. Hanya yang berstatus sosial tinggi, dan anak pegawai pemerintah, boleh ber-sekolah formal. Sehingga kemampuan baca tulis dengan huruf latin sangat terbatas. Namun tidak berarti buta huruf. Sebab, sebagian besar masyarakat diajari baca tulis dengan huruf “pribumi.” Di sebagian kawasan Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia dan Brunei) pribumi menggunakan huruf Arab.
Di Arab Saudi (dan Mesir) banyak tokoh dari Indonesia dikenal sebagai intelektual. Sangat piawai, dan menjadi tenaga pengajar pada kelas internasional. Semuanya menggunakan huruf dan bahasa Arab. Namun pada sensus tahun 1950-an, intelektual dan guru-guru, masih tercatat sebagai “butu huruf.” Hanya karena tidak dapat membaca huruf latin! Sampai saat ini, masih banyak masyarakat dianggap “buta huruf” walau dapat membaca dengan huruf Arab.
Sensus kemampuan melek baca, agaknya, masih harus disidik lebih detil. Sensus (kini bernama literasi), masih menempat Indonesia posisi Indonesia seolah-olah pada level “tidak terdidik.” Sebagaimana peringkat Most Literate Nations in the World, Indonesia berada pada posisi ke-60 dari 61 negara. Peringkat dibuat oleh salahsatu universitas yang berbasis di negara bagian Connecticur (AS), Central Connecticut State University.
Harus diakui, generasi masyarakat yang lahir sampai era 1950-an, kurang memperoleh pendidikan formal. Maka bisa dipastikan, yang buta huruf latin, adalah generasi berusia lebih dari 50 tahun. Sebenarnya pemerintah sejak lama melaksanakan program PBH (Pemberantasan Buta Huruf), sejak dekade 1980-an. Hasilnya pasti sudah banyak yang melek huruf latin.
Tetapi sebagian komunitas masyarakat, hingga kini  masih “men-tabukan” sekolah. Antaralain, komunitas Samin di Bojonegoro, Jawa Timur, serta Badui dalam, di Lebak (Banten). Secara nasional, masih banyak regional (kepulauan) juga “men-tabukan” sekolah. Di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Pada sisi lain masih banyak generasi muda yang tidak dapat meng-akses fasilitas pendidikan, karena ke-terisolasi-an daerah. Banyak anak usia sekolah tidak dapat bersekolah. Misalnya di Papua Barat, Papua, Maluku dan regional Sulawesi.
Pemerintah memiliki kewajiban untuk memenuhi aksesi layanan pendidikan, dengan berbagai cara. Lebih lagi pendidikan merupakan kewajiban yang diamanatkan UUD pasal 31ayat (2). Secara tekstual dinyatakan: “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Amanat wajib UUD juga di-breakdown dalam Pasal 6 ayat (1) UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional (Sisdiknas).
Pada pasal 6 ayat (1) UU Sisdiknas dinyatakan: “Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.”  Pndidikan dasar, bukan cuma SD. Melainkan SD dan SMP. Sebagaimana dinyatakan pada pasal 17 ayat (2): “Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.”
Terdapat kata “wajib” sekolah, yang diamanatkan UU. Siapa harus melaksanakan wajibnya pendidikan dasar? UUD pasal 31 ayat (2), menyatakan, “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Sebagai konsekuensi, UUD memerintahkan negara dengan skala  prioritas menyediakan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD.

                                                                                                       ——— 000 ———–

Rate this article!
Melek Baca Masih Rendah,5 / 5 ( 1votes )
Tags: