Kisah Pertobatan Sang Musisi

Markas CahayaJudul Buku   : Markas Cahaya
Penulis          : Salman Al-Jugjawy
Cetakan       : I, Januari 2016
Penerbit       : Bunyan (Bentang Pustaka)
Tebal            : xvi+220 halaman
ISBN            : 978-602-291-146-3
Peresens   : Fakhruddin Aziz
                       Alumnus UIN Yogyakarta

Siapa yang tak kenal dengan Sheila on 7, band asal kota gudeg yang kesohor dan sarat prestasi. Salah satu pentolannya adalah Sakti yang tentu tidak asing di kalangan anak muda. Pada tahun 2006, gitaris handal itu membuat kejutan karena memutuskan keluar dari band yang turut ia besarkan dan saat itu sedang berada di tangga popularitas. Lantas sebenarnya apa yang melatarbelakangi keputusannya itu?
Buku ini merupakan jawabannya, di dalamnya menguak perjalanan hijrah pemilik nama asli Saktia Ari Seno yang kemudian menjadi Salman Al-Jugjawy. Bermula pada tahun 1995, ketika itu Sakti dan Adam sudah punya band dengan nama W.H.Y Gank, kemudian mengajak Duta untuk menjadi vokalisnya. Mereka sering berlatih di sebuah studio musik di jalan Kaliurang. Kegiatan mereka bermusik sempat vakum beberapa lama sampai kemudian mereka kenal dengan Eross yang kelak pegang lead guitar dan Anton sebagai drummer. Mereka kemudian memutuskan memulai sebuah band baru dengan nama Sheila Gank.
Setelah itu, mereka mulai dikenal dan sering malang melintang di berbagai event di sekitaran Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dari band lokal, pada tahun 1998 menjelma menjadi band terkenal dengan nama baru Sheila on 7. Banyak prestasi yang disabetnya, diantaranya: penjualan album terbanyak, album terbaik, soundtrack film terbaik, penghargaan versi festival musik, dan lainnya.
Titik balik kehidupan Sakti dimulai pada tahun 2004 ketika Sheila on 7 berada di puncak popularitas. Ketika baru selesai konser di Surabaya, ia ingin segera pulang ke rumah di jogja. Sesampainya di rumah ternyata ia mendapat kabar ibunya sedang sakit. Dengan perasaan cemas, ia segera menuju ke rumah sakit tempat ibunya dirawat. Melihat kondisi ibunya, ia merasa seperti ditampar karena terlalu sibuk dengan urusannya dan menepikan orang yang paling dicintai. Setelah itu ia mulai merenungi ihwal tujuan hidup, berbakti kepada orangtua, kemudian kepada Allah, dan kematian. Sejak saat itu ia semakin khusuk beribadah dan senang mendengarkan nasehat-nasehat agama (hal 14-15).
Motivasinya untuk mendekat kepada Allah semakin tebal ketika Sakti menemukan sebuah buku berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah” di sebuah toko buku di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Ketika itu ia dan Sheila on 7 akan terbang ke Malaysia untuk menghadiri acara penghargaan industri musik. Buku itu ia baca sampai tuntas, salah satu kutipan penulisnya yang paling diingat adalah ” Setiap amal yang kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, pasti akan menjadikan cahaya hidayah untuk orang lain.”
Setelah dari Malaysia, motivasinya mendalami agama semakin berlipat ketika ia berada di Bali dan di sana banyak berinteraksi dengan abah Mahmud Zakariyya. Pria keturunan India itu dikenalnya sebagai sosok yang ramah dan akhlaknya menyejukkan. Banyak pelajaran dan teladan agama darinya yang membuat Sakti semakin termotivasi. Suatu waktu, ia diajak ke sebuah mushalla di daerah Karangasem dan di sana belajar tentang tuntunan Nabi Muhammad sehari-hari. Ia kemudian sering melakukan i’tikaf dan sholat berjamaah tepat waktu.
Sepulang dari Bali, semangatnya untuk beramal semakin bertambah, seperti membantu orangtua dan menjalankan sholat lima waktu di masjid. Tak hanya itu, ia juga banyak menulis syair yang bertemakan indahnya Islam, juga memupuk keberaian mengajak pacar untuk menikah. Namun karena takdir Allah, Sakti dan pacarnya berpisah. Sakti memutuskan tekadnya untuk mendalami agama sedangkan pacarnya sibuk menyelesaikan kuliahnya. Setelah itu ia mulai banyak kenal dengan aktivis masjid, diantaranya Abdur Rouf. Melalui temannya itu pula ia kemudian berjumpa dengan seorang aktivis dakwah wanita yang kelak menjadi pendamping hidupnya.
Pada tahun 2006, dengan semangat tinggi mendalami agama, ia memutuskan untuk belajar agama dan dakwah di India, Pakistan, dan Bangladesh. Pilihan tiga negara itu diambil karena ia mendengar cerita bahwa di sana amal agama amat tampak dan terasa. Suasana dakwahnya juga menyegarkan iman dan suasana akhlak yang menyejukkan hati. Pada momentum itulah, Sakti atau Salman Al-Jugjawy memutuskan keluar dari Sheila on 7, band yang sudah melingkupi hidupnya selama 10 tahun terakhir  (hal 41). Selain mengenai kisrah perjalanan hijrahnya, penulis dengan gaya bahasa bertutur juga menyuguhkan banyak hikmah yang bermanfaat. Bagaimana kisah selengkapnya, ada baiknya anda membaca buku motivasi islami yang inspiratif ini. Dengan membacanya akan semakin menambah keimanan dan semangat untuk beribadah serta berdakwah demi menggapai keridlaan Allah.

                                                                                                        ——————- *** ———————

Rate this article!
Tags: