Keperkasaan Perempuan Perempuan Jawa

Perempuan PerkasaJudul             : Perempuan-Perempuan Perkasa Di Jawa Abad XVIII-XIX
Penulis         : Peter Carey & Vincent Houben
Penerbit      : KPG
ISBN             : 9786026208163
Terbit           : 28 Maret 2016
Ukuran        : 13.5 x 30 cm
Ketebalan   : 124 halaman
Peresensi   : Irfan Ansori
Alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta

Beberapa waktu ini, pemberitaan tentang para perempuan Samin dari pegunungan Kendeng beredar di media sosial. Pasalnya, mereka berani mengecor kakinya dengan semen, bentuk protes atas pembangunan pabrik semen di daerahnya. Bahkan terhitung 3 tahun mereka sudah menetap dalam tenda. Tiada lelah, perempuan-perempuan itu terus bergerak dan menyuarakan perlawanan.
Kabar baiknya, perlawanan tersebut telah menemukan legitimasi sejarah. Peran wanita Jawa pada masa kolonialisme kini termaktub dalam Perempuan-Perempuan Perkasa Di Jawa Abad XVIII-XIX. Buku ini ditulis sejarawan terkemuka, Peter Carey dan Vincent Houben.
Sebagaimana diungkapkan pada permulaan buku, kehadiran buku ini sebagai bantahan terhadap penggambaran perempuan Jawa sebagai perempuan lemah. Peter dan Vincent menggambarkan penduduk Hindia Belanda pada masa lalu dianggap “bangsa yang paling lembut di dunia” (de javaan als de zatche volk ter aarde). Gambaran sama berlaku penuh bagi citra perempuan Jawa. Bahkan pada akhir abad ke-19 Belanda gencar membentuk citra perempuan Jawa sebagai makhluk lemah dan ‘bloon’.
Kisah ini digambarkan diungkap melalui buku Heilig Indie (Hindia Suci) karua J.B Rusiuz. Buku yang justru terjual laris di Belanda menceritakan sosok Raden Ayu Jawa, sebagai “boneka yang tersenyum simpul dan meniadakan dirinya sendiri.” Dalam hal tersebut Rusiuz ingin menggambarkan perempuan Jawa dengan “Inilah tipe perempuan elok, namun kepalanya kosong.” (hal.2)
Kedua penulis pun ingin membantah novel De Stille Kracht (kekuatan Gaib) yang ditulis Louis Couperus pada 1909. Kedua novel ini sebagai bentuk propaganda terhadap perempuan-perempuan agar tak banyak melakukan perlawanan.
Buku lumayan tipis ini mengulas wanita-wanita Jawa perkasa pada masanya. Kisah Nyi Ageng Serang misalkan, pada peperangan anaknya Pangeran Serang II, dia berperan untuk pemimpin 500 pasukan melawan pasukan Belanda hingga akhrinya gugur. Dibalik itu, ternyata Nyi Ageng Serang sangat ditakui oleh Belanda. Saat kematiannya itu, Belanda merasa lega. Sosok Nyi Ageng Serang pun saat itu dihormati oleh pengikut Pangeran Diponegoro. (hal. 34)
Pada masa perang Jawa, terdapat sosok Raden Ayu Yudokusumo. Dia merupakan pengatur dan pemimpin penyerangan terhadap rakyat Tionghoa pro-kolonial yang memeras rakyat dengan menarik cukai. Penyerangan itu membuat Raden Ayu Yudokusumo diberi sebutan sebagai “perempuan cerdas namun menakutkan”. (hal. 78)
Gambaran ‘otak kosong’ sangat jauh ketika kita menilik surat-surat Kartini. Sebuah fakta gagasan perempuan menjadi inspirasi gerakan nasionalisme di Tanah Air. Perempuan mampu menyaurakan perubahan. Kartini membawa perjuangan pada fase perjuangan baru, untuk tidak sekedar menuntut pengkauan melainkan klaim peran keberadaan perempuan pada kehidupan bangsa.
Sebenanya, citra perempuan dalam tradisi wayang, kultus Durga, dan Ratu kidul mampu merepresentasikan legtimasi politis kekuasan perempuan atas raja-raja Jawa. Disebutkan pula Ratu Kencono Wulan (1780-1859) yang merupakan permaisuri ketiga Sultan Hamengku Buwono II banyak memanfaatkan posisinya untuk meminta keuntungan dari proyek-proyek kerajaan. Perempuan bisa menguasai dan bergerak rakus layaknya para politisi saat ini untuk meminta jatah proyek.
Kedua penulis pun menguraikan pola asuh matriarki gaya Polineasia terpengaruh secara serentak oleh kolonialisme dan Islam, meski tidak terlalu dalam. Hal ini sebagaimana terjadi pada kasus Pangeran Diponegoro yang dinilai telah merusak pengaruh perempuan keraton dalam masyarakat Jawa.
Sejak masa yang dianggap sebagai high colonial period, yakni 1602-1942. Perempuan-perempuan Jawa ikut berperan pada pos yang seharusnya ditempati oleh laki-laki, seperti militer. Bahkan disebutkan, peneliti masa kolonial asal Perancis pernah mendapati 40 wanita dalam Kraton sedang dilatih menjadi pasukan elite Kraton. (hal. 57) Sungguh perempuan-perempuan perkasa.
Buku kecil ini sangat penting sebagai awal untuk membongkar sejarah dan menemukan kembali akar gerakan perempuan di Nusantara. Mungkin itu.

                                                                                                                 ——— *** ———-

Rate this article!
Tags: