Guru Pelempar Sepatu Terancam Dimutasi

Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 1 Kepanjen, Kecamatan, Kabupaten Malang H Maskuri

Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 1 Kepanjen, Kecamatan, Kabupaten Malang H Maskuri.

Kab Malang, Bhirawa
Kasus pelemparan sepatu yang dilakukan Ari guru kesenian  SMAN 1 Kepanjen  terhadap siswanya Mahardika yang duduk di kelas X, menuai sanksi. Tidak hanya Ari, namun istrinya Rini Astuti yang berprofesi sebagai honorer juga kejatuhan sanksi.
Ari yang kini berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) terancam dimutasi di sekolah lain. Sedangkan istrinya Rini Astuti yang berstatus tenaga honorer terancam di keluarkan dari SMAN 1 Kepanjen.
Menurut Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 1 Kepanjen, Kecamatan, Kabupaten Malang H Maskuri, Selasa (5/4), saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, sanksi yang dijatuhkan karena Ari terindikasi ada upaya tindak kekerasan terhadap siswa, yaitu melakukan pelemparan sepatu saat kegiatan menyanyi.
“Untuk Bu Rini Astuti yang tak lain istrinya Pak Ari, saat itu juga memaki-maki Mahardika yang mengarah kepada pribadi orang tuanya, yaitu Geng Wahyudi,” terangnya.
Menurut dia, sanksi yang diberikan guru pasutri tersebut, karena dirinya mendapatkan perintah dari Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kabupaten Malang, Budi Ismoyo. Namun, perintah sanksi itu masih belum tertulis hanya melalui lisan saja. Sehingga pihaknya masih menunggu surat resmi dari Kadindik. Karena sanksi itu dari Kadindik, maka pihaknya hanya mejalankan perintah. Sebab, sanksi ketika ada guru yang melanggar atau melakukan upaya kekerasan terhadap siswa, itu wilayahnya Kadindik.
Maskuri mengaku, ketika kejadian pelemparan sepatu tersebut, dirinya masih melakukan kunjungan kerja ke negara Jerman. Sehingga kronologis persoalannya tidak tahu, hanya diberitahu Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Humas, Lukman Huri.
“Dengan kasus itu dan sudah tersebar di media cetak, online, dan televisi, maka Dindik Kabupaten Malang melakukan proses tindakan yang dilakukan oleh guru pasutri tersebut,” paparnya.
Ditegaskan, dalam kasus itu, tidak hanya guru pasutri saja yang meminta maaf kepada siswa dan orang tua siswa. Namun, dirinya dan semua guru SMAN 1 Kepanjen sudah meminta maaf kepada orang tua Mahardika terkait kasus pelemparan sepatu itu.
“Tapi, sanksi kepadanya masih tetap berjalan, sehingga dia mau tidak mau harus menerima sanksi tersebut. Padahal, di SMAN 1 Kepanjen ini masih kekurangan guru kesenian,” ujarnya.
Mendengar informasi adanya sanksi yang akan dijatuhkan guru pasutri SMAN 1 Kepanjen, orang tua siswa Geng Wahyudi menyambut baik.  Sebab, tindakan guru terhadap muridnya berupa kekerasan sudah tidak jamannya lagi. Sehingga kekerasan terhadap murid merupakan tindakan pidana, dan itu sebenarnya harus diproses secara hukum. Namun, dirinya tidak melakukan untuk melaporkannya kepada Polisi dalam kasus tersebut, dan cukup mereka diberikan sanksi saja dari pimpinannya.  Selain itu, Geng melanjutkan, hal itu juga sebagai pelajaran bagi guru-guru yang lainnya, agar tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap muridnya. Karena jamannya kini sudah berubah, sehingga seorang pendidik harus bisa sebagai contoh yang baik bagi muridnya. Karena jika seorang guru melakukan kekerasan, maka secara otomatis akan ditiru muridnya.
“Guru itu kata orang Jawa, Digugu Lan Ditiru. Artinya guru itu sebagai panutan dan ditiru muridnya,” tegasnya, yang juga seorang Purnawiran Polisi dari Polres Malang. [cyn]

Tags: