Empat Perguruan Tinggi jadi Rintisan Prodi Profesi Insinyur

Profesi InsinyurSurabaya, Bhirawa
Titel Insinyur (IR) ternyata menjadi sebuah  titel profesi, sama seperti akuntan maupun psikolog. Untuk mendapatkan title profesi Insinyur ini  Kementerian Ristek dan Dikti sedang merintis dibukanya Program Studi – Program Profesi Insinyur (PS-PPI), mulai tahun akademik 2016/2017 ini/
Program profesi Insinyur ini bakal didubka pada  40 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se Indonesia. Di Surabaya, empat PTN/PTS sudah ditunjuk untuk memulai program ini.
Keempat PTN/PTS ini antara lain Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Kristen (UK) Petra, Universitas Katolik Widya Mandala.
Rektor Ubaya Prof Juniato Parung menjelaskan, saat ini Ubaya telah membentuk tim untuk mempersiapkan penyelenggaraan program tersebut. Di antaranya ialah menyiapkan kurikulum, sumber daya manusia (SDM), hingga sarana dan prasarananya.
“Informasinya baru minggu ini. Tapi memang soal isu program insinyur ini mulai tahun 2014 lalu,” kata Juniarto, kemarin (17/4). Program tersebut lanjut dia, akan didukung para pengajar, termasuk dosen yang saat ini sudah bergelar insinyur profesional. Sesuai persyaratan yakni harus ada enam dosen tetap di PPI.
“Syukurlah kami memiliki lulusan dosen-dosen yang sudah memiliki sertifikasi dalam keahlian ini, baik itu yang bergelar insinyur profesional madya (IPM) maupun insinyur profesional utama (IPU),” terangnya.
Dalam program PPI tersebut harus ditempuh dalam dua semester dengan menempuh 24 sistem kredit semester (SKS). Menurutnya, insinyur merupakan gelar profesional sehingga pendidikannya adalah pendidikan profesi, bukan akademi atau vokasional. Yang disebut insinyur adalah lulusan fakultas teknik dan pertanian sehingga untuk sementara ini program akan menyasar pada lulusan tersebut.
Sementara itu Rektor ITS, Prof Joni Hermana menjelaskan, perguruan tinggi penyelenggara PS-PPI wajib memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Setidaknya, terdapat 10 poin yang harus dipenuhi, seperti menyiapkan kelembagaan, memiliki akreditasi institusi yang baik serta memiliki sekurang-kurangnya lima prodi teknik.
“Program profesi insinyur ini penting melihat persaingan di masa datang sangat ketat. Ini diatur supaya bisa bersaing di MEA juga tingkat dunia,” terangnya. Terkait dengan konsep untuk PPI, saat ini Kemenristek Dikti dan PPI sedang menyusun ketentuan kompetensi apa yang akan dinilai dan dibutuhkan supaya lulusan teknik dan ilmu terapan lainnya mampu mendapat pengakuan di bidangnya.
“Perlu ada regulasi untuk menentukan kompetensi yang dibutuhkan. Setelah berjalan akan dilakukan evaluasi selama enam bulan. yang penting, kriteria yang diberikan harus bisa mengakomodasi seluruh kampus,” tegasnya.
Di ITS sendiri, lanjut Joni, program insinyur akan dilakukan dengan konsep 30 persen materi di kelas, kemudian 70 persennya adalah praktek di lapangan. “Kami akan menempatkan perusahaan yang sudah ternama supaya mahasiswa PPI magang di sana,” jelas dia. Tak hanya untuk mahasiswa yang baru lulus, program PPI juga dibuka untuk alumnus fakultas teknik yang sudah lulus beberapa tahun lalu. “Untuk gedungnya di ITS banyak kok. Yang pasti kami fokuskan di satu tempat,” pungkas dia. [tam]

Tags: