Barisan Diatur Sensor Cahaya, Arah Kiblat Terhubung GPS

Empat mahasiswa UM Surabaya memamerkan karyanya berupa prototype masjid dengan dukungan teknologi tinggi. [adit hananta utama/bhirawa]

Empat mahasiswa UM Surabaya memamerkan karyanya berupa prototype masjid dengan dukungan teknologi tinggi. [adit hananta utama/bhirawa]

(Masjid Berteknologi Tinggi Ala Mahasiswa UM Surabaya)
Surabaya, Bhirawa
Seorang imam punya kewajiban untuk mengingatkan makmumnya agar meluruskan dan merapatkan barisan saat salat. Sayang, meski sudah diingakan hal itu seringkali diabaikan oleh jamaah. Padahal, lurus dan rapatnya barisan merupakan bagian dari kesempurnaan salat.
Melihat fakta itu, empat mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya berusaha memberikan solusi dengan merancang prototype masjid berteknologi tinggi. Sebuah masjid yang dilengkapi dengan pengatur barisan dan penentu arah kiblat elektrik serta sistem parkir mobil otomatis.
“Di Indonesia ini jumlah masjidnya terbanyak di Indonesia. Tapi kualitas salat berjamaahnya kadang-kadang masih tidak diperhatikan,” kata Herwin Firman saat ditemui di kampusnya, Selasa (12/4).
Mahasiswa Prodi Teknik Elektro UM Surabaya itu tidak sendiri. Bersama tiga teman lainnya, Syafaat Romadhoni, Luqman Hakim dan Zainal Arifin. Masing-masing membuat karya sehingga menjadi prototype masjid berteknologi. Herwin sendiri bertugas membuat pengatur shaf dengan sensor cahaya dan lampu indikator.
“Sensornya diatur sesuai dengan barisan jamaah. Kira-kira dengan jarak 40-50 centi meter,” tutur Herwin.
Ketika sensor cahaya diinjak, maka lampu indikator secara otomatis akan mati. Sebaliknya, jika lampu indikator masih menyala, maka itu menandakan barisan jamaah belum rapat. “Dengan peringatan lampu ini harapan kita makmum semakin sadar bahwa salat jamaah itu harus lurus dan rapat,” kata dia.
Prototype masjid semakin lengkap dengan laser penunjuk arah kiblat. Luqman Hakim menjelaskan karyanya itu terbuat dari dua komponen, yaitu Global Positioning System (GPS) dan kompas digital. GPS berfungsi untuk menentukan lintang dan bujur dimana arah kiblat itu berada. Setelah ditemukan nilai lintang dan bujurnya, maka GPS akan sinkronisasi dengan kompas digital.
“Arahnya kiblat kalau di Surabaya itu 294 derajat dari arah utara. Kalau ke barat arahnya tidak ke kiblat tapi ke Afrika,” tutur dia.
Arah kiblat memang selalu berubah sesuai wilayah. Namun untuk wilayah Indonesia, pergeserannya diperkirakan hanya terjadi antara 1- 5 derajat saja. “Alat ini bisa kita bawa kemana-mana agar tidak ragu ketika mau menentukan arah salat,” kata Luqman.
Sementara itu, masjid juga dilengkapi sistem otomasi parkir yang memudahkan pemilik kendaraan menemukan slot parkir yang kosong. Syafaat Romadhoni menggunakan program ardoinomega yang ditanamkan untuk mengoperasikan sistem.
Syafaat menjelaskan bagian demi bagian sistemnya, mulai dari masuk ke area parkir mobil langsung disambut dengan sensor photo dioda yang berfungsi membuka palang pintu otomatis. Di bagian depan parkir, pengemudi bisa melihat informasi di papan untuk memantau slot mana yang kosong. Selanjutnya, pengemudi akan dipandu dengan lampu indikator untuk sampai ke slot yang dimaksud. “Jadi pemilik kendaraan tidak perlu muter-muter cari slot mobil yang kosong. Masuk area parkir langsung dibimbing ke slot yang kosong,” pungkas dia. [tam]

Tags: