Asyiknya Wisata Pungut Sampah dan Tanam Mangrove

Sejumlah komunitas melakukan aktivitas di Rumah Mangrove Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya, Minggu (10/4). Mulai memungut sampah, tanam mangrove hingga memotret burung migran dan satwa lain di sana. [gegeh bagus]

Sejumlah komunitas melakukan aktivitas di Rumah Mangrove Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya, Minggu (10/4). Mulai memungut sampah, tanam mangrove hingga memotret burung migran dan satwa lain di sana. [gegeh bagus]

Komunitas Rek Ayo Rek Mantapkan Gerakan Peduli Lingkungan
Kota Surabaya, Bhirawa
Selama ini pungut sampah bukan sesuatu yang asyik bagi kebanyakan orang. Kesan jorok tertanam kuat di benak mereka. Namun dengan mengubah mindset yang ada, pungut sampah bisa dikemas menjadi Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) tersendiri. Bagi mereka yang punya kesadaran tinggi, kemauan keras untuk berpartisipasi menjaga lingkungan, pastinya ini menjadi sesuatu yang oke punya.
Ini yang terlihat di Rumah Mangrove Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya, Minggu (10/4) kemarin. Pungut sampah berpadu tanam mangrove, melihat serta memotret burung migran dan satwa lain hutan mangrove menjadi embrio pariwisata baru di Kota Surabaya.
ODTW pungut sampah dan paketan item yang menyertai benar-benar menarik perhatian banyak pihak. Ini yang terlihat dari upaya Komunitas Rek Ayo Rek (RAR), komunitas foto se-Indonesia Stylus Photo Gallery, Komunitas Nol Sampah, Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) untuk lebih memperkenalkan ODTW yang satu ini.
Selain komunitas dalam negeri, Warga Negara Asing (WNA) tak ketinggalan berwisata sekaligus berbuat dan memberi manfaat untuk lingkungan. Ada dua WNA Jepang yang ikut menikmati wisata ini.
“Komunitas Rek Ayo Rek memotori dan berupaya agar wisata pungut sampah ini bisa diterima publik. Ini bisa dikatakan wisata, kerja bakti peduli lingkungan,” kata Ketua Divisi Advokasi RAR Hermawan Some  di sela wisata pungut sampah kemarin.
Kelompok Nelayan Truno Joyo, Wonorejo, Rungkut digandeng dalam kegiatan ini. Mereka binaan Satpolairud Polda Jatim. Selain itu para petani tambak juga ikut peduli lingkungan. Mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari pemanfaatan perahu-perahu mereka.
“Meski wisata pungut sampah, banyak orang tertarik. Ada banyak anggota DPRD Surabaya ikut dalam kegiatan hari ini (kemarin, red),” imbuh Wawan Some, sapaan Hermawan Some.
Pria asal Lombok ini menyebut keberadaan sampah di muara Wonorejo tidak akan pernah habis. Keberadaannya seiring arus sungai maupun arus air laut yang pasang serta masuk ke aliran sungai. Keberadaan sampah ini membahayakan pertumbuhan tanaman mangrove yang menjadi ‘benteng’ pantai serta muara di Wonorejo dari ancaman abrasi air laut.
Mangrove yang berusia setahun bisa gagal tumbuh, hingga akhirnya mati karena terlilit dan tertutup sampah, terutama sampah plastik. Sampah itu terikat lumpur dan membuat mangrove gagal tumbuh.
Ini menjadi salah satu alasan para anggota DPRD serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya ikut cancut taliwondo memungut sampah di sekitaran muara, disusul tanam mangrove.
Moch Sutadi, Dyah Katarina, Layla Mufidah adalah anggota DPRD Surabaya yang kemarin ikut serta menikmati wisata ini. Selain itu, Ketua Kadin Surabaya sekaligus Ketua Tim Ekonomi Global Pemprov Jatim Jamhadi. Belum lagi mantan anggota DPRD Surabaya yakni Ernawati serta Sachiroel Alim Anwar. Serta Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jatim Herman Rivai. Nama terakhir juga sebagai Ketua Umum RAR.
“Ini seiring pasang air laut, sampah masuk lagi ya?,” tanya Jamhadi seraya memungut sampah dan tanam mangrove.
Karena itu, mantan staf ahli Wali Kota Surabaya saat dijabat Bambang DH ini menyebut perlunya membangun kesadaran bersama di kalangan warga untuk tidak membuang sampah di aliran sungai. Jamhadi juga berharap ada banyak pihak yang menikmati wisata pungut sampah dan tanam mangrove di Rumah Mangrove, sisi Selatan Ekowisata Mangrove.
Anggota Komisi C DPRD Moch Machmud mengapresiasi semangat menjadikan pungut sampah ini sebagai ODTW. Menurutnya hal bisa diselaraskan dengan keberadaan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang memayungi hutan mangrove sebagai kawasan konservasi. “Selama ini banyak pengusaha mendanai warga membuka tambak di tanah oloran kemudian mengurus sertifikat atas nama warga. Selanjutnya sertifikat dipegang pengusaha. Modusnya, seolah pengusaha beli dari warga, padahal tidak. Warga ini hanya suruhan,” beber Machmud yang juga mantan ketua DPRD Surabaya ini.
Keberadaan hutan mangrove di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya, sudah ada sejak zaman Belanda. Mulai ditata oleh Wali Kota Muhaji Wijaya dengan membuat master plan 2000). Saat Wali Kota Surabaya dijabat Purnomo Kasidi dan era Sunarto Sumoprawiro, sempat tidak terurus. Kemudian era pemerintahan Wali Kota Bambang DH terbitlah Perda No 3 Tahun 2007.
Perda tersebut mengubur kepemilikan tanah masyarakat. Ini karena pencanangan konservasi. Sebenarnya hutan mangrove punya kemampuan untuk terus bertambah alami asal dijaga.
Pada 2007 yang membuat Bambang DH sebagai wali kota kala itu prihatin pohon mangrove ditebang hingga dapat 70 truk. Celakanya pohon mangrove dekat pantai yang menjadi sasaran. Padahal ini benteng abrasi.
Pemerhati Maritim Surabaya Oki Lukito merinci luas laut Surabaya 1.889 km2, panjang garis pantai 26,7 km, luas mangrove 1.180 hektare dan yang rusak sekitar 40% (400 hektare dengan nilai kerugian Rp 16 miliar).
“Di pesisir Surabaya ditampung limbah dari sedikitnya 105 perusahaan yang dibuang ke Kali Surabaya. Dalam limbah antara lain ada unsur logam berat seperti merkuri dan timah yang berbahaya bagi mahluk hidup,” sebut Oki yang juga aktif di RAR.
Tingkat pencemaran merkuri di sejumlah sungai Surabaya sebesar 0,09 miligram per liter. Jumlah itu 90 kali lebih banyak dari ambang batas yang diizinkan untuk air minum.
Hutan bakau juga menjadi tempat hidup nyaman bagi berbagai spesies burung dan hewan darat.
Di pesisir Surabaya, tercatat 147 jenis burung, 40 di antaranya migran. Ada dari Siberia, Korea dan Tiongkok sebagaimana cincin yang terpasang di kaki burung. Burung dari Wonorejo juga pernah ditemukan di Korea.
“Benar-benar menjadi spot foto yang bagus di sini, ” kata Wiwik Hariyanto, anggota Stylus Photo yang kemarin hunting bersama penghobi foto bertema Save Our Nature. “Banyak teman-teman Stylus yang datang. Ada dari Kalimantan, Jakarta, Surabaya dan daerah lain di Jatim,” sebut Wiwik, karyawan PT Petrokimia Gresik ini.
Kei Wada, warga Edogawa Ku Matsue 5116, Tokyo, Jepang mengaku senang bisa menikmati wisata pungut sampah. Sepanjang perjalanan, dia memotret burung migran dari atas perahu. Bens, sapaannya mengaku senang berada di Surabaya. Terlebih dia juga menjalankan usaha perikanannya di Surabaya. Selama di Kota Pahlawan, dia menetap di Apartemen Puncak Permai. [Gegeh Bagus Setiadi]

Tags: