Akibat Kebijakan Impor, 110 Ton Garam Petani Sampang Tak Terserap

Tambak garam di Desa Gulbung, Kec. Pengarengan Sampang

Tambak garam di Desa Gulbung, Kec. Pengarengan Sampang

Sampang,Bhirawa
Kebijakan impor garam oleh pemerintah pusat berdasarkan Permendag nomor 125 tahun 2015, berdampak pada stok garam petani Sampang yang tidak terserap mencapai 110 ton hasil produksi 2015 lalu, kondisi ini membuat petani garam sangat merugi dan tidak bisa memasarkan hasil produksi garam mereka.
Moh Aksan  petani garam dan salah satu anggota Paguyupan Petani Garam Sampang (P2GS)  mengungkapkan, kebijakan impor garam oleh pemerintah sangat merugikan petani garam dengan tidak terserapnya hasil produksi garam tahun 2015 hingga saat ini masih berada di gudang petani mencapai 110 ton.
“Berdasarkan data kami, kebutuhan garam nasional pertahun totalnya mencapaik 1.500.000 ton, sedangkan total produksi petani garam secara keseluruhan se-Indonesia mencapai 1.800.000 ton, sedangkan khusus Kabupaten Sampang produksi tahun 2015 dari total keseluruhan mencapai 320.000 ton.” Teranganya, Minggu (3/4).
Masih dikatakan Moh Aksan, jika pemeraintah tidak meninjau kembali kebijakan impor garam tersebut, maka nasib petani garam akan kesulitan untuk memasarkan hasil produksinya, bahkan  PT Garam (persero) yang berada di Kecamatan Pengarengan Sampang hingga saat ini masih belum melakukan penyerapan garam dari petani, padahal PT Garam tersebut ada anggaran penyerapan garam rakyat melalui dana penyertaan modal Negara (PMN) sebesar Rp 222 miliar se-Indonesia.
Ada beberapa poin permendag 125 tahun 2015 yang merugikan petani garam, salah satu poin dihilangkannya kewajiban bagi importir untuk menyerap garam rakyat sedikitnya 50 persen dari total kapasitas produksi perusahaan, Kemudian, poin berikutnya yang dinilai merugikan petani garam, adalah tidak adanya ketentuan yang mengatur tentang masa impor garam yang berkaitan dengan masa panen produksi garam rakyat.tambah Moh Aksan.
Sementara Rofii Kepala bagian produksi pengaraman di Kecamatan Pengarengan Sampang saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu, ia membenarkan jika tahun 2016 ini direncanakan akan melakukan penyerapan garam rakyat, namun secara teknis masih sedang dilakukan pengakajian, sementara yang sedang berjalan saat ini kami masih fokus pada kebutuhan garam industri dengan luas lahan garapan di Kabupaten Sampang seluar 1.040 hektar.
“jika kami melakukan penyerapan garam milik petani harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu, sebab produksi garam milik petani di Kabupaten Sampang masih minim untuk kualitas satu (K1), karena untuk kebutuhan garam industri secara kualitas harus memenuhi standat (K1).tambahnya. [lis]

Tags: