Tanamkan Budi Pekerti Lewat Cerita Dongeng

Kepala Dindik Jatim Dr Harun MSi bersama Kabid PNFI Abdun Nasor, Kabid Tendik Gatot Gunarso dan Kasie PKPB Endang Widiastuti menyapa peserta festival mendongeng

Kepala Dindik Jatim Dr Harun MSi bersama Kabid PNFI Abdun Nasor, Kabid Tendik Gatot Gunarso dan Kasie PKPB Endang Widiastuti menyapa peserta festival mendongeng

Pemprov, Bhirawa
Mendongeng bukan sekadar cara untuk mengantar anak terlelap. Ceritanya menggiring anak masuk ke fantasi negeri dongeng. Merangsang  imajinasi, terlibat sebagai tokoh di dalamnya lalu menyimpulkan segala makna yang terkandung pada bait-bait ceritanya.
Sikap bertanggung jawab, tolong-menolong, bijaksana, dan berbagai bentuk budi pekerti lainnya biasa terkandung dalam cerita dongeng. Budi pekerti inilah yang kemudian di internalisasi dan membentuk karakter anak. Sudah tepat, jika guru di Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terus melestarikan dongeng sebagai salah satu cara mendidik dan membentuk karakter anak.
Budaya mendongeng ini pun menarik perhatian Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim. Sehingga upaya pelestarian terus digalakkan secara serius melalui berbagai pembinaan dan apresiasi, seperti Festival Mendongeng untuk guru TK dan PAUD se Jatim.
“Dongeng harus terus dilestarikan sampai kiamat nanti,” kata Kepala Dindik Jatim, Dr Harun MSi kepada para peserta festival mendongeng 2014 yang digelar Bidang Pendidikan Non Formal, Informal (PNFI) dan Nilai Budaya, Selasa (30/9).
Harun MSi juga mengatakan, dongeng dapat melatih anak berlogika. Dulu dongeng bahkan menjadi alat komunikasi pembelajaran dan sarana memberi pendidikan hidup. Karena itu guru diminta tetap melestarikan dongeng sekaligus berinovasi. Khususnya seputar materi.
Menurutnya, guru tidak perlu menceritakan dongeng tentang dunia yang tidak dipahami anak. Namun guru bercerita dengan menyelipkan kearifan lokal, kecintaan alam, kesenian, dan lainnya.
“Saya sepakat dengan lomba mendongeng semacam ini karena bisa menggali nilai luhur. Kedepan, kualitas, kuantitas dan reward harus ada peningkatan dalam pelaksanaan lomba ini setiap tahunnya,” tutur dia.
Kabid PNFI dan Nilai  Budaya,  Abdun Nasor mengatakan dongeng akan menunjang pendidikan karakter. Apalagi sasaran dongeng adalah anak yang masih berusia nol hingga enam tahun. Pendidikan karakter sangat penting di usia itu. “Tanpa pendidikan karakter, sehebat apapun knowledge anak tidak akan berarti,” tutur Nasor.
Nasor mengatakan, salah satu tujuan festival adalah untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dalam penulisan naskah mendongeng. Festival ini juga bagian melestarikan sekaligus membentengi budaya mendongeng dari ancaman budaya asing bersamaan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Desember 2015.
Kasie Pendidikan Karakter dan Pekerti Bangsa (PKPB) Dindik Jatim Endang Widiastuti SSos MSi menambahkan, terdapat tiga kategori lomba dalam festival mendongeng ini. Diantaranya ialah kategori penyaji dari guru TK dan Kelompok Bermain, kategori penulis naskah PAUD, dan kategori penulis naskah dongeng tingkat Dindik kabupaten/kota se Jatim. Tiap kategori terdapat 76 peserta yang selanjutnya akan diambil 10 besar untuk menerima penghargaan dari kepala Dindik Jatim.
“Masing-masing peserta yang masuk dalam 10 besar akan mendapat uang pembinaan sebesar Rp2  juta,” tutur Endang.
Antusiasme peserta festival mendongeng ini diakui Endang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun lalu, peserta yang ikut berpartisipasi hanya datang dari 28 kabupaten/kota. Namun tahun ini 38 kabupaten/kota di Jatim secara menyeluruh ikut dalam ajang ini.
“Kami berharap ke depan dapat ditingkatkan lagi. Sehingga budaya mendongeng untuk penanaman budi pekerti bangsa dapat terus berkembang di Jatim,” kata dia.
Seperti diungkapkan Ninuk Suryantini, salah seorang bunda PAUD asal Madiun ini mengaku senang bisa ambil bagian pada festival dongeng. Kemarin dia menyampaikan dongeng berjudul Tolong Aku Jack. Dengan alat peraga berbentuk hutan dan aneka satwa, Ninuk menggambarkan seorang anak desa yang bersahabat dengan alam.
Selain Ninuk, Samuel dari TK Pembina Kota Blitar mengaku bangga bisa tampil di panggung festival mewakili daerahnya. Sejak 1988 dia mengajar TK, kegemarannya dengan anak semakin terpupuk dengan ajang semacam ini. “Saya senang mendongeng untuk anak-anak. Karena itu saya betah mengajar dari 26 tahun lalu sampai sekarang,” kata dia. [tam]

Tags: