Sambut Hari Pangan, Kehati Apresiasi Petani Indonesia

17-panganJakarta, Bhirawa
Dalam peringatan Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap 16 Oktober, Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) mengajak masyarakat untuk memberikan apresiasi kepada rumah tangga petani Indonesia yang telah menyuplai makanan.
“Apresiasi harus diberikan kepada pada petani atas pilihan profesi yang ditekuni,” kata Program Officer Pertanian Yayasan Kehati Puji Sumedi di Jakarta, Kamis (16/10) kemarin.
Selama ini, fakta yang diungkapkan terkait petani selalu dalam konteks yang suram. Petani dianggap miskin dan menjadi pekerjaan yang kurang membanggakan, padahal banyak sekali inspirasi-inspirasi yang muncul dari kalangan petani.
Fakta yang terungkap dalam Sensus Pertanian 2013 menunjukkan telah terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani. Sebanyak lebih dari lima juta rumah tangga petani hilang.
Data sensus tersebut menunjukkan bahwa pada 2003 jumlah rumah tangga pertanian di Indonesia mencapai 31,17 juta rumah tangga dan kemudian menurun pada 2013 menjadi 26,13 juta rumah tangga. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga petani hanya sebesar Rp 12,4 juta per tahun atau Rp1 juta per bulan.
Penurunan jumlah rumah tangga petani ini kemudian dihadapkan dengan proyeksi jumlah penduduk Indonesia yang akan terus membengkak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada 2000 menjadi 273,2 juta pada 2025.
“Hal ini tentu memunculkan permasalahan tersendiri terkait ketersediaan pangan di Indonesia ke depan,” kata Puji.
Tapi Puji optimis harapan akan selalu ada. Saat ini, masih ada petani yang memiliki semangat besar untuk menjalani pekerjaannya. Mereka bahkan menjadi peneliti bagi keragaman sumber pangan Indonesia.
Beberapa pemenang Kehati Award seperti Almarhum Mbah Suko, pemenang Kehati Award 2001 yang berjuang membudidayakan kembali padi-padi lokal di Magelang Jawa Tengah demikian pula di Banjarnegara, ada Mbah Gatot sebagai pemulia padi lokal.
Di Pangalengan, Kustiwa Adinata, petani muda yang membuktikan bahwa profesi petani adalah profesi mulia, lalu pemenang Kehati Award 2009, Saenin yang berhasil melakukan penyilangan berbagai varietas padi unggulan yang menghasilkan varietas baru serta mengembangkan teknologi pupuk organik dengan mikroba lokal dari rumpun akar bambu. [ant.ira]

Keterangan Foto : Warga yang tergabung dari Aliansi untuk Desa Sejahtera (ADS) membawa patung-patung petani saat berunjuk rasa di Bundaran HI, Jakarta, Kamis (16/10) kemarin.

Tags: