PSK Gude Enggan Dipulangkan Akibat Banyak Hutang

6-FOTO KAKI dar-PSK tunjukan buku pinjamanPemkab Madiun, Bhirawa
Para pekerja seks komersial (PSK) di lokasi Wisma Harapan atau yang lebih dikenal nama Gude di Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, enggan dipulangkan. Alasannya, mayoritas masih mempunyai tanggungan hutang puluhan juta rupiah ke rentenir maupun Bank resmi.
Menurut salah satu PSK asal Jombang, Erni (28), saat ini hutangnya pada rentenir mencapai Rp25 juta rupiah. Sedangkan ‘tamu’ sudah mulai. Karena itu, ia berharap pemerintah menunda penutupan lokalisasi hingga 2-3 tahun mendatang. Selain menanggung hutang, juga harus mencukupi kehidupan keluarganya di rumah.
“Kalau ditutup dalam waktu dekat, bagaimana dengan hutang saya. Belum lagi biaya hidup keluarga saya di rumah,”kata Erni, usai sosialisasi penutupan lokalisasi Gude oleh Dinsosnakertrans bekerja sama dengan Komisi Perlindungan AIDS (KPA) dan lembaga konseling, di aula lokalisasi Gude, Rabu (1/10).
Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang mucikari, Emiel (35) asal Bojonegoro. Menurutnya, memang wisma yang ditempati milik pribadi yang dibelinya sekitar 10 tahun lalu. Namun sertifikatnya digadaikan ke salah Bank.
Kalau lokalisasi ditutup dalam waktu dekat, hampir dapat dipastikan wisma miliknya disita oleh Bank karena tak lagi mampu mengangsur. “Memang wisma ini milik saya. Tapi sertifikatnya saya gadaikan ke Bank. Kalau lokalisasi ditutup, uang apa buat mencicil. Padahal angsurannya baru dapat enam kali,” terang Emiel, kepada wartawan.
Sementara itu, ketua Pokja HIV/AIDS Arjuna lokalisasi Gude, Tohirin, berharap pemerintah meninjau ulang masalah penutupan lokalisasi ini. Alasannya, selain nantinya akan berdampak munculnya prostitusi liar, selama di lokalilasi Gude termasuk paling tertib segalanya. Mulai dari kesehatan hingga keamanan.
“Saya minta pemerintah memikirkan dampaknya. Selain berdampak munculnya prostitusi liar, terus masyarakat sini yang menggantungkan hidupnya dari tempat ini, bagaimana? Mereka punya anak punya keluarga,” ujar Ketua Pokja HIV/AIDS Arjuna lokalisasi, Tohirin, kepada wartawan.
Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Madiun, Drs. Suyadi, M.Si mengatakan, keputusan untuk menutup lokalisasi Gude, sudah final. Sesuai rencana, lokalisasi yang telah berdiri sejak tahun 70-an ini, akan ditutup selamanya pada bulan Nopember 2014 mendatang. Sedangkan untuk para PSK, yang bersedia menjadi TKW ke luar negeri, akan disalurkan.
“Kita menutup bukan tanpa solusi. Selain pesangon sekitar Rp5.050.000/orang, bagi mereka yang ingin bekerja di luar negeri sebagai penata rumah tangga, kita salurkan. Kita sudah tunjuk PJTKI nya. Gratis, tidak bayar,” terang Kadinsosnaker Kabupaten Madiun, Suyadi, kepada wartawan, disela-sela acara sosialisasi penutupan lokalisasi Gude, Rabu (1/10).
Untuk diketahui, saat ini jumlah PSK penghuni lokalisasi Gude, sebanyak 77 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 11 orang berasal dari Kabupaten Madiun dan 46 orang dari beberapa kota di Jawa Timur. Sedangkan sisanya berasal dari luar Jawa Timur. [dar]

Keterangan Foto : Seorang PSK menunjukkan buku pinjaman angsuran ke salah satu bank usai sosialisasi penutupan lokalisasi Gude Rabu (1/10). [sudarno/bhirawa]

Tags: