PN Kota Madiun Segera Kirim Berkas PK dr Bambang

6-foto C dar-dr.bambang sidangKota Madiun, Bhirawa
Sidang pemeriksaan berkas Peninjauan Kembali (PK) dengan pemohon terpidana 1,5 tahun, dr.Bambang Suprapto,SP.BM.Surg, warga Jalan Mayjend Sungkuno 72 Kota Madiun serta Kejaksaan Negeri Madiun sebagai termohon oleh Pengadilan Negeri Kota Madiun, telah usai Selasa (21/10).
Dalam sidang terakhir itu, Ketua majelis hakim, Agus Pambudi dengan anggota masing-masing Mahendrasmara dan Suryodiyono, membubuhkan tandatangan masing-masing di berita acara pemeriksaan berkas. Demikian pula dengan pemohon, dr. Bambang Suprapto dan termohon Kejaksaan Negeri Madiun yang diwakili oleh jaksa Bambang Setyo Hartono, Mohamad Safir dan Fuat Zamroni.
Usai sidang, ketua majelis hakim, Agus Pambudi, mengatakan, dengan ditandatanganinya berita acara pemeriksaan berkas PK, dalam waktu dekat pihaknya akan segera mengirim berkas tersebut ke Mahkamah Agung (MA).
Seterusnya, kewenangan untuk menyidangkan berada ditangan hakim agung yang ditunjuk oleh MA. “Akan kita kirim ke MA secepatnya. Setelah itu, kewenangan berada di tangan MA. Mengenai kapan turunnya putusan PK, kita tidak tahu,” kata ketua majelis hakim, Agus Pambudi, kepada wartawan usai sidang.
Diberitakan sebelumnya, tiga alasan yang menjadi dasar dr. Bambang mengajukan PK, pertama ia menilai Mahkamah Agung (MA) telah melakukan kekhilafan dalam menjatuhkan vonis 1 tahun 6 bulan terhadap dirinya. Kedua, ada dua novum (bukti baru) yang belum terungkap dalam persidangan. Yakni rekam medis milik pasien bernama Yohanes Tri Handoko serta surat perintah dari rumah sakit DKT Kota Madiun.
Untuk diketahui, perkara yang membawa dr. Bambang ke pengadilan, berawal saat ia membedah pasiennya, yakni Yohanes Tri Handoko, warga Jalan Gegono Manis Blok G.5 Nomor 10-11 Kelurahan Manisrejo Kecamatan Taman Kota Madiun, 25 Oktober 2007 silam.
Saat itu, Yohanes dibedah oleh dr. Bambang di sebuah rumah sakit yang ada di Jalan Pahlawan Kota Madiun, karena saat didiagnosa diduga menderita sakit kanker usus. Namun usai dibedah oleh dr. Bambang, kondisi Yohanes tidak membaik. Tapi justru tambah parah. Kemudian oleh keluarganya dilarikan ke sebuah rumah sakit yang ada di Surabaya.
Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata usus Yohanes mengeluarkan nanah karena ada benang jahitan yang tertinggal. Karena itu, kemudian Yohanes kembali menjalani pembedahan pada tanggal 4 Nopember 2007. Namun takdir berkata lain. Meski tim dokter di sebuah rumah sakit di Surabaya sudah berusaha semaksimal mungkin, Yohanes akhirnya meninggal dunia pada tanggal 20 Juli 2008.
Atas meninggalnya Yohanes, kemudian istrinya, Maria Debora Asmawati, melaporkan dr. Bambang ke Polres Madiun Kota. Oleh penyidik, dr. Bambang dijerat dengan pasal 76 dan 79 huruf c Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Hingga pada akhirnya, perkara dr. Bambang disidangkan di Pengadilan Negeri Kota Madiun.
Dalam sidang dengan agenda tuntutan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mohamad Safir dan Suhardono, menuntut dr. Bambang dengan pidana denda sebesar Rp100 juta. Namun dalam sidang dengan agenda vonis pada tanggal 6 Oktober 2013, majelis hakim menjatuhkan putusan Onslag (ada perbuatan namun bukan merupakan tindak pidana) terhadap dokter Bambang atau lepas dari segala tuntutan JPU.
Tak puas atas vonis majelis hakim Pengadilan Negeri Kota Madiun, kemudian JPU mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Dalam putusan MA dengan Nomor 1110 K/PIDSUS/2012 tertanggal 30 Oktober 2013, majelis hakim MA yang diketuai hakim agung Artidjo Alkostar dengan anggota masing-masing hakim agung Surya Jaya dan hakim agung Andi Samsan Nganro, memvonis bersalah dr. Bambang dengan pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan (1,5 tahun).
Pertimbangan vonis kasasi ini, karena dr. Bambang dianggap bersalah melanggar pasal 76 dan 79 huruf c Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Yakni tidak mempunyai ijin praktek di rumah sakit dimana Yohanes dibedah, hanya sebagai dokter tamu dan tiga orang yang membantu melakukan pembendahan, yakni Ismardianto, Sudarsono dan Sunar, bukan dokter ahli.
Tapi hanya lulusan Ahli Madya Kesehtatan/DIII. Atas putusan kasasi ini, kemudian pada tanggal 15 September 2014 lalu, dokter Bambang menyatakan melakukan upaya hukum luar biasa berupa Peninjauan Kembali (PK). [dar]

Keterangan Foto : Terpidana 1,5 tahun, dr.Bambang Suprapto,SP.BM.Surg, warga Jalan Mayjend Sungkuno 72 Kota Madiun, saat sidang di PN Kota Madiun, Selasa (21/10). [sudarno/bhirawa]

Tags: