Pendidikan Melalui Tayangan Televisi

Siti Hasanatut TholibahOleh :
Siti Hasanatut Tholibah
Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya, AMBISI (Aliansi Mahasiswa BidikMisi), dan Warga Laskar Ambisius

Media massa saat ini memang menjadi pusat manusia untuk mendapatkan informasi. Baik media cetak maupun elektronik. Mereka dengan sangat mudah mendapatkan informasi-informasi yang mereka inginkan. Kekuatan media saat ini memang sangat besar. Mengapa tidak?. Isu dari yang terpanas hingga basi pun dapat diakses dengan mudahnya. Jika zaman dulu, perubahan aplikasi bisa bertahun-tahun. Beda dengan sekarang, manusia dapat merasakan perubahan hanya dalam menghitung minggu,hari, bahkan jam sekalian. Itulah bukti bahwa dunia teknologi saat ini memang benar-benar canggih. Bahkan jika manusia kampung dulu yang lebih dikenal dengan orang yang primitif. Namun tidak pada saat ini, mereka telah menunjukkan eksistensinya dan bisa juga merasakan cepatnya dunia digital saat ini. Mereka tak lagi ketinggalan informasi karena mereka sudah dituntun untuk menyesuaikan diri dan mengikuti zaman.
Salah satu media yang masih banyak digunakan masyarakat saat ini adalah televisi. Televisi mempunyai daya tarik kuat untuk memikat masyarakat ketimbang media cetak seperti koran dan majalah. Radio yang juga ternasuk media elektronik pun masih kalah dengan televisi. Itu disebabkan, media televisi bukan hanya menyampaikan informasi secara langsung tetapi ada gambar yang langsung dipertontonkan. Hal itu lebih menarik dibandingkan hanya membaca dan  mendengar saja. Apalagi masyarakat yang cenderung suka dengan dunia visual ketimbang audio.
Indonesia mengenal televisi sekitar tahun 1962, dimana ketika Presiden Soekarno memberikan instruksi kepada Direktorat Perfileman Negara dan Direktur Teknik Jawatan Radio untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta. Sejarah mencatat, bahwa adanya televisi tiu sebagai perluasan dari radio saja. Sistem antenanya pun dibuat dari beberapa pipa besi yang ditancapkan pada puncak menara Hotel Indonesia dengan daya 10 KW. Siaran pada saat itu, hanya dapat ditangkap oleh beberapa daerah seperti, daerah Senayan, Kebayoran Baru, Tanah Abang, Menteng, dan sekitar Harmoni.
Dewasa ini, dunia pertelevisian telah memberikan inovasi-inovasi baru. Kini semua daerah baik kota maupun desa dapat menikmati tayangan yang dihadirkan oleh  televisi tersebut. Bahkan dari segi tampilan, saat ini jauh lebih menarik. Hal itu ditopang oleh canggihnya dunia teknologi sekarang ini. Program yang ditayangkan pun lebih bervariasi. Bukan hanya berita tetapi ada juga yang bernuansa hiburan. Hal itu yang menyebabkan, televisi masih banyak digandrongi masyarakat hingga saat ini.
Namun, tak semua hal ada sisi positifnya. Sekian banyak program televisi, ada program yang menampilkan sesuatu yang kurang mendidik. Mengingat, tayangan televisi dapat diakses oleh siapa pun dan dimana pun. Apalagi anak-anak di bawah umur. Terutama tayangan sinetron yang mempunyai gaya tarik besar terhadap orang yang menontongnya. Mengapa tidak?. Masyarakat terutama kalangan anak-anak dan remaja cenderung meniru gaya idolanya, baik segi penampilan dan gaya bicaranya. Remaja saat ini pun mangadopsi tutur kata yang orang tua pun tidak mengerti maknanya. Itu hanya permasalah sederhana, parahnya ketika anak di bawah umur mencabuli temen perempuannya, melakukan tindakan kriminalitas. Miris bukan, ketika kita mendengarnya.
Seharusnya bukan hanya tanggung jawab orang tua untuk menjaga anak-anaknya, tetapi pemerintah juga harus mengontrol pula tontonan yang dihadirkan di televisi. Tak bisa kita pungkiri, anak-anak bangsa pasti tidak pernah meninggalkan untuk menonton televisi. Namun saat ini, tontonan yang mendidik sangatlah kurang. Banyak anak-anak sekarang yang kurang menyukai lagu anak-anak bahkan ada yang tidak mengetahuinya. Bukan hanya itu, dalam sinetron pun anak-anak lebih suka menonton yang bernuansa percintaan. Tak jarang, anak SD pun saat ini banyak yang berpacaran. Parahnya anak TK pun ada yang mencium teman perempuannya gara-gara meniru program yang ada di televisi.
Patut diingat oleh orang tua, guru, dan pemerintah. Waktu belajar anak-anak di sekolah hanya berkisar 5-8 jam di sekolah. Selebihnya mereka gunakan bermain, belajar kembali, dan salah satunya menonton televisi. Sederhana memang, jika hanya mendengar mereka menonton, tetapi selain itu harus pula ada pengawasan dan dipertanyakan, apa yang mereka tonton?. Belajar sangat lama, tidak menutup kemungkinan mereka paham semuanya. Tetapi, menonton dalam waktu yang singkat saja, bisa mempengaruhi sikap mereka dengan cepat.
Maka dari itu, pemerintah harus bekerja sama dengan pihak pertelevisian untuk menampilkan program-program yang mendidik. Masalahnya, sejauh pengamatan penulis tayangan yang seharusnya ditonton oleh kalangan dewasa malah ditaruh pada jam dimana anak-anak bisa pula menontonnya. Seharusnya pihak pertelevisian harus bisa mengatur waktu, mana tayangan yang cocok untuk anak-anak, mana pula bagi orang dewasa. Selain memperbaiki kurikulum pendidikan. Pemerintah juga harus memperhatikan tampilan-tampilan yang dihadirkan televisi. Mengarah pada kurikulum 2013 yang lebih  menekankan pada pengembangan karakter. Namun di sisi lain, pemerintah juga harus ingat, bahwa waktu sekolah anak-anak hanya seperempat waktu ketika di rumah. Tidak menutup kemungkinan malah waktu belajar mereka malah lebih sedikit dari pada menonton televisi. Maka dari itu, pemerintah harus harus mengadakan penyeleksian terlebih dahulu sebelum program itu ditayangakan. Dan seharusnya pihak pertelevisian bukan hanya memikirkan keuntungan agar tetap menjaga reputasi programnya, tetapi juga harus memikirkan nasib anak bangsa.

                                                          ———————- *** ———————–

Rate this article!
Tags: