Pemerintah Harus Tingkatkan Penelitian Obat Tradisional

peneliti-perempuan1Surabaya, Bhirawa
Banyaknya tanaman obat yang berasal dari luar negeri yang masuk ke tanah air harus disikapi serius oleh pemerintah. Pemerintah dinilai lamban dalam mengalakkan penelitian yang berhubungan dengan obat tradisonal.
Kepala Poli Obat Tradisional Indonesia (OTI) RSU dr Soetomo Surabaya, Dr dr Arijanto Jonosewojo SpPD menyatakan, saat ini penelitian bahan baku atau tanamana untuk obat teradisional sangat minim.
Pemerintah pusat diharapkan bersedia banyak membiayai penelitian-penelitian yang berhubungan dengan obat tradisional atau herbal di Indonesia. Ini karena saat ini banyak ditemukan tanaman obat dari luar negeri seperti Malaysia yang masuk ke Indonesia, padahal bahan bakunya dari Indonesia.
Saat ini banyak masyarakat mengkonsumsi obat tradisional dari luar negeri yang harganya relatif lebih mahal. Salah satunya, mengkonsumsi biji mahoni bagi pasien diabetes melitus, masyarakat hanya menghabiskan biaya Rp 36 ribu per bulan. Jika bandingkan obat kapsul dengan bahan sama dari Malaysia yang isinya 30 biji untuk konsumsi satu bulan harganya mencapai Rp 450 ribu.
”Harga produk lokal jauh lebih murah dari  pruduk luar sehingga sayang jika kita tidak membuat produk sendiri,” ucpanya.
Selain itu dr Arijanto yang juga Ketua Prodi Pengobatan Tradisional Fakultas Kedokteran Unair Surabaya ini mengatakan, sekarang obat herbal bukan hanya untuk mengobati, melainkan bisa mencegah penyakit. Untuk itu, diharapkan masyarakat juga mau menggalakkan tanaman obat keluarga di lingkungan sekitarnya. Masyarakat dianjurkan menanam tanaman obat sesuai kebutuhannya.
“Dalam banyak penelitian, bagi orang yang sudah sakit, manfaat obat herbal belum bisa maksimal. Untuk itu, harus digabung pemakaian dengan obat kimia. Ini untuk mengurangi efek samping dan mengurangi dosis dari obat kimia,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini Poli OTI sedang melakukan penelitian daun sukun untuk obat diabetes dan kolesterol yang berhubungan dengan kekentalan darah. Penelitian menggandeng kerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Poli OTI, tidak hanya melakukan fungsi pelayanan atau konsultasi, tapi juga fungsi pendidikan dan penelitian. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga membuka jurusan obat tradisional dengan jenjang Diploma 3.
“Jadi untuk ke depan, pengobatan akan semakin berkembang dengan baik, karena sudah mendapat pengakuan dari pemerintah,” imbuhnya.
Pihaknya sebelumnya juga telah meneliti efek kombinasi ekstrak daun sambiloto dan daun salam terhadap kadar glukosa darah penderita diabetes melitus (DM) tipe 2 (bukan turunan). Kemudian, meneliti Daun Pegagan (daun kaki kuda/centella asiatica L), tanaman ini baik untuk menurunkan tekanan darah tinggi yang tidak terlalu tinggi terutama untuk usia manula. Ini karena obat herbal tersebut juga punya efek bersifat anti pikun.
Dia menganjurkan masyarakat rajin minum obat herbal dibandingkan obat kimia. Seperti penyakit Flu, biasanya minum obat flu yang mengandung paracetamol, dalam pemakaian jangka panjang akan menimbulkan efek samping gangguan pada fungsi hati. Untuk itu, bisa diganti dengan mengkonsumsi temulawak. ”Jadi obat tradisional saja sudah bisa menyembuhkan kenapa harus mengkonsumsi obta dari bahan kimia,” ucapnya. [dna]

Keterangan Foto : Peneliti sedang meneliti obat tradisional.

Tags: