Lumpur Lapindo Sidoarjo Tembus Bibir Tanggul

22-lumpur tipis-Ach-2Sidoarjo, Bhirawa
Kondisi luapan lumpur Porong yang belum terhenti hingga kini mengakibatkan lumpur terus meninggi hingga bibir tanggul. BPLS (Badan Penanggulan Lumpur Sidoarjo) sendiri sudah tidak bisa bekerja apa-apa, karena dihadang warga. Selain itu, tempat pembuangan yang masih berfungsi hanya satu arah, yakni ke Sungai Desa Ketapang, Tanggulangin.
Menurut Kepala Dinas PU Pengairan Sidoarjo, Ir Fathurrochman MSi kemarin (21/10), kalau pihaknya harus terus mewaspadai, kawatir terjadinya luberan air yang berada diatas luapan lumpur bila terjadi hujan deras. Hingga kini belum ada airnya saja kondisinya sudah menipis hingga bibir tanggul, bagaimana nanti bila terjadi hujan deras pasti airnya meluber kemana-mana. Bahkan mungkin bisa terjadi banjir di sekitar Sungai Ketapang, Kalitengah Tanggulangin dan sekitarnya.
Keadaan Sungai Ketapang selama ini sudah sering dilakukan pengerukan atau program normalisasi sungai. Namun jika air luapan lumpur terus dibuang kesana, lama kelamaan akan terjadi pendangkalan. Kalau sudah  terjadi pendangkalan, bila nanti sudah waktunya musim hujan deras, sudah dipastikan banyak terjadi genangan-genganan. ”Bahkan bisa-bisa sampai banjir di sekitar lumpur,” keluh Fatkhurrochman.
Padahal, pertengahan September 2014 lalu, akibat terik sinar matahari yang begitu tinggi, endapan lumpur di kolam penampungan semakin mengering dan sangat mengeras. Dampak belum terasa karena masih musim kemarau. ”Nanti bila waktunya musim penghujan pasti akan sangat merepotkan,” terang Humas BPLS, Dwinanto Hesty Prasetyo ketika itu.
Menurutnya, lumpur mengalir secara alami dan sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan kondisi alam. Tiga titik tanggul penahan lumpur yang sebelumnya sempat kritis yaitu titik 73 Desa Kedungbendo, Kec Tanggulangin, titik 21 Desa Siring, Kec Porong dan titik 34 Desa Pajarakan, Kec Jabon kondisinya mulai berangsur-angsur aman. Sebelumnya di tiga titik itu ketinggian lumpur cair sudah hampir setara dengan bibir tanggul.
Hingga saat itu BPLS tak bisa memperkuat kondisi tanggul karena dihalang-halangi warga Renokenongo yang ganti ruginya belum diberesi. Endapan lumpur di beberapa titik semakin mengering dan mulai retak-retak. Adapun di sisi utara yang sebelumnya juga mengkhawatirkan, debitnya mulai menurun meski tidak terlalu signifikan. ”Karena permukaan lumpur mengeras, masyarakat bisa melihat pusat semburan pada jarak sekitar 70-75 meter,” ujarnya. [ach]

Keterangan Foto  :  Kondisi lumpur yang sudah mulai mendekati bibir tanggul. [achmad suprayogi/bhirawa]

Tags: