LSF Apresiasi Jatim Bentuk Perda Perfilman

Lembaga Sensor FilmPemprov Jatim, Bhirawa
Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Dr Mukhlis PaEni mengapresiasi Jatim sebagai satu-satunya  provinsi yang mempunyai peraturan daerah mengenai perfilman. Hal ini juga mengingat produksi dunia perfilman di Jatim juga semakin meningkat.
Menilik hal itu, LSF Pusat bersama Pemprov Jatim segera membentuk LSF yang ada di tingkat provinsi untuk memenuhi tuntutan kualitas produksi film yang baik, mendidik, serta sesuai dengan kultur budaya bangsa.
“Jatim harus punya LSF, karena Jatim cukup produktif menghasilkan karya seni perfilman,” kata Ketua LSF Pusat, Dr Mukhlis PaEni saat Sinkronisasi Pembentukan Perwakilan Lembaga Sensor Film (LSF) di Ibukota Provinsi Jawa Timur, bertajuk Penandatanganan Nota Kesepahaman Pembentukan Perwakilan LSF di Ibukota Provinsi Jatim, di Hotel Sheraton, Selasa malam (1/10).
Dikatakannya, merupakan salah satu provinsi Jatim yang memiliki gedung bioskop dan rumah produksi atau PH. “Stasiun televisi baik nasional maupun lokal juga tidak sedikit di sini. Sehingga LSF menilai perlu membuka kantor perwakilan di Jatim agar film produksi Jatim tak usah jauh-jauh dimohonkan ke pusat,” katanya.
Agar berjalan lancar, menurutnya, pemerintah daerah harus membantu kreativitas perfilman, jangan dijadikan sensor untuk membelengu atau memasung kreativitas seni perfilman. Yang harus dipahami adalah etika atau norma yang ada di Indonesia. Film punya pengaruh yang luar biasa. “Satu gambar bisa diartikan seribu kata-kata, karena itu harus berhati-hati dalam membuat film,” paparnya.
Pembentukan LSF Pusat di daerah sudah diatur dan tertuang dalam amanat Undang-undang Nomor 23 Tahun2009 tentang perfilman dapat membentuk perwakilan LSF di ibu kota provinsi kalau dibutuhkan.
Ditargetkan, tahun depan perwakilan LSF di Jatim ini sudah terbentuk. Tugasnya nanti, lanjut dia, sama dengan LSF pusat, yakni melakukan penelitian, penilaian, penentuan layak atau tak layaknya sebuah film untuk tayang di televisi atau di gedung bioskop.
“Dibutuhkan 9 tenaga untuk LSF di Jatim nantinya. Pemprov Jatim yang akan mengusulkan siapa-siapa anggotanya ke LSF pusat, terus kami di pusat yang akan menyeleksinya,” kata dia.
Sementara Asisten Kesejahteraan Masyarakat (Kesmas) Setdaprov Jatim, H M Asyhar saat membacakan sambutan Gubernur Jatim menyampaikan, kebudayaan Jatim sangat beragam. Perkembangan perfilman akan mempengaruhi budaya masyarakat. Karena itu butuh perhatian pemerintah dan masyarakat sehingga filter bisa dilakukan berlapis.
Selain itu dengan adanya LSF, diharapkan kualitas perfilman Indonesia khususnya Jatim, bisa semakin baik dan membawa dampak positif pada generasi muda.
“Diharapkan nantinya LSF Jatim menjadi kepanjangan tangan pusat. ini sangat penting karena LSF merupakan petugas yang meneliti, menilai serta menentukan layak atau tidaknya sebuah tayangan tampil dan dilihat masyarakat banyak,” terangnya.
Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim, Dr H Jarianto MSi mengatakan, dirinya menyetujui adanya pembentukan LSF yang diiringi dengan profesional dan komitmen secara orang per orang bukan pada instansi. “Nantinya seleksi terhadap kepengurusan LSF di Jatim harus dilakukan secara ketat,” katanya. [rac]

Tags: