Listrik dan Gas Elpiji Picu Inflasi Jatim 0,33 Persen

11-elpiji-LPG-12kg

Inflasi di Jatim masih dipengaruhi kenaikan listrik dan elpiji.

Pemprov Jatim, Bhirawa
Dampak dari kenaikan harga bahan bakar gas elpiji 12 kg dan tarif dasar listrik (TDL) masih menjadi pemicu kenaikan inflasi Jatim pada September 2014 mencapai 0,33 persen. Tingginya inflasi Jatim lebih tinggi dari inflasi nasional periode sama hanya 0,27 persen.
“Memang inflasi di Jatim masih dipengaruhi kenaikan listrik dan elpiji. Sebab, rata-rata masyarakat Jatim merupakan kalangan menengah dimana menggunakan gas elpiji 12 kg. Gas elipiji tersebut kini mengalami kenaikan harga,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Jatim, M Sairi Hasbullah di Surabaya, Rabu (1/10).
Penyebab lainnya inflasi di Jatim diantaranya sumbangan dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar elpiji mencapai 0,21 persen terhadap kinerja inflasi selama September 2014.
Ditambahkan Sairi, penyebab lain inflasi di Jatim ikut dipengaruhi pola permintaan masyarakat yang tinggi terhadap bahan makanan mengingat pasca lebaran 2014 masih banyak perayaan seperti hari raya ketupat dan keberangkatan haji juga memicu inflasi pada September. “Hal itu mengakibatkan sensitivitas masyarakat Jatim lebih besar dibandingkan nasional,” katanya.
Di sisi lain, kata Sairi inflasi selama September  juga disebabkan banyaknya masyarakat di Jatim yang menggunakan listrik dengan daya 900-1.300 kVA di mana pelanggan di golongan itu menjadi sasaran kenaikan tarif listrik bulan lalu.
“Selama September lalu, Jatim juga menanggung inflasi lebih tinggi dibandingkan provinsi lain karena wilayah ini memiliki perkembangan ekonomi yang lebih baik,” katanya.
Selanjutnya, kenaikan harga elpiji 12 Kilogram termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi ke inflasi karena sensitivitas masyarakat di perkotaan kabupaten kota di Jatim khususnya Kota Surabaya banyak yang terdampak akibat naiknya harga gas elpiji 12 kg yang meningkat dari Rp 96.000 menjadi Rp 108.000 per tabung.
Selain elpiji dan listrik komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah akademi/perguruan tinggi, daging ayam ras, cabai merah, beras, mie, es, tukang bukan mandor, dan gipsum.
Sementara komoditas yang harganya terkendali dan memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah turunnya harga bawang merah. Kemudian emas perhiasan, angkutan antar kota, daging sapi, cabai rawit, angkutan udara, kelapa, kendaraan carter/rental, bensin dan buah melon.
Pada September 2014 dari 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim, semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember dan Surabaya masing-masing 0,41 persen. Kemudian diikuti Kediri 0,34 persen, Malang 0,26 persen, Sumenep 0,25 persen, Banyuwangi 0,11 persen, Madiun 0,07 persen dan inflasi terendah terjadi di Probolinggo 0,04 persen.
“Seperti Kota Surabaya, penyebab inflasi dikarenakan juga biaya kuliah. Sebab, Surabaya merupakan pusatnya pendidikan ,” tambahnya.
Dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, semua kota mengalami inflasi dan inflasi terendah terjadi di Kota DKI Jakarta 0,16 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bandung 0,57 persen, diikuti Kota Jogjakarta 0,49 persen, Kota Serang 0,43 persen, Kota Semarang dan Kota Surabaya masing-masing 0,41 persen.
Dari 82 kota IHK nasional ada 64 kota mengalami inflasi dan 18 kota mengalami deflasi, inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang 1,29 persen. Dari 64 kota IHK di Indonesia yang mengalami inflasi, 5 kota inflasi terendah yaitu Gorontalo, Depok, Pare-Pare, Samarinda, dan Probolinggo.
Sedangkan dari 18 kota IHK di Indonesia yang mengalami deflasi tertinggi yaitu di Tual 0,89 persen dan deflasi terendah di Kudus 0,03 persen.
Laju inflasi tahun kalender Desember 2013-September 2014 Jatim mencapai 3,38 persen. Inflasi year-on-year dari September 2014 terhadap September 2013 Jatim sebesar 4,13 persen, angka ini lebih tinggi dari pada inflasi year-on-year Agustus 2014 hanya 3,53 persen. [rac]

Laju Inflasi di Jatim
Surabaya    0,41
Jember      0,41
Kediri       0,34
Malang     0,26
Sumenep     0,25
Banyuwangi     0,11
Madiun     0,07
Probolinggo     0,04 (terendah)

Inflasi 6 Kota di Pulau Jawa
Bandung     0,57
Jogjakarta     0,49
Serang     0,43
Semarang     0,41
Surabaya     0,41
Jakarta    0,16

Tags: