Kreativitas Tak Terbatas Pakem, Digandrungi Banyak Pengunjung

Kabid PNFI Dindik Jatim Nasor beserta Kasi Dikmas Ninik Astuti mengunjungi stan DPD Tiara Kusuma yang berhasil menerima penghargaan paling favorit.

Kabid PNFI Dindik Jatim Nasor beserta Kasi Dikmas Ninik Astuti mengunjungi stan DPD Tiara Kusuma yang berhasil menerima penghargaan paling favorit.

Surabaya, Bhirawa
Geliat pendidikan non formal kian terasa hingga ke tengah-tengah masyarakat. Baik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) tak bisa lagi di pandang sebelah mata. Kedua satuan pendidikan tersebut menjadi garda terdepan dalam menjawab persoalan pendidikan dan keterampilan di luar bangku sekolah formal.
Selama sepekan terakhir, pusat perbelanjaan Royal Plaza Surabaya terlihat beda dari biasa. Bukan hanya karena pengunjung yang ramai datang berbelanja. Tetapi juga karena kehadiran berbagai lembaga pendidikan non formal, baik pendidikan kesetaraan maupun kursus dan pelatihan yang datang dari berbagai daerah menyapa para pengunjung.
Di antara deretan stan LKP yang berdiri, stan milik DPD Tiara Kusuma terlihat paling banyak digandrungi para pengunjung mal. Maklum, di stan tersebut berkumpul berbagai ahli kecantikan dan pengusaha salon se-Jatim. Sampai akhir pameran itu ditutup, Minggu (26/10), stan milik DPD Tiara Kusuma mendapat penghargaan karena paling diminati masyarakat.
Ketua III DPD Tiara Kusuma Jatim Lin Suharto meluapkan kegembiraannya. Meski bukan pertama kalinya mendapat penghargaan serupa pada tahun lalu, Lin tetap saja bangga. “Ini menjadi tanda keberadaan DPD Tiara Kusuma yang membawahi LKP tata kecantikan rambut dan tata kecantikan kulit masih menarik perhatian masyarakat,” tutur dia bangga.
Meski sudah dinyatakan paling favorit, Lin tak cepat puas. Dia masih ingat berbagai tantangan yang harus dia hadapi dan LKP di bawahnya ke depan. Salah satunya yang utama adalah menghadapi momentum Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dalam berbagai kesempatan, dia mengaku telah diingatkan baik oleh perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) maupun Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim untuk mempersiapkan hal itu.
“Kita tahu, pada 2015 mendatang akan banjir lembaga kursus asing sebagaimana yang sudah diungkapkan Dirjen PAUDNI Kemendikbud maupun Bidang PNFI Dindik Jatim,” tutur Lin. Menyadari tantangan tersebut, Lin pun segera mengambil ancang-ancang. Di antaranya ialah meningkatkan kreativitas pengusaha salon, termasuk instruktur yang menangani warga belajar.
Lin juga sudah melihat, dalam perkembangan dunia tata kecantikan pada 2015 mendatang akan terjadi perubahan besar. Perubahan tersebut bahkan memungkinkan di luar pakem tata kecantikan yang dulu sangat dihargai dan tidak bisa dilanggar. Misalnya saja dalam menggunakan warna eyeshadow  yang dulu harus senada, sekarang tidak lagi berlaku. Bahkan dalam tata kecantikan bertema glamour 2015 itu, dia menyebut penggunaan eyeshadow bisa sangat bebas. Bahkan berwarna rainbow sekaligus.
“Ke depan, tata kecantikan semakin bebas. Tidak terbatas lagi dengan pakem. Termasuk juga tata kecantikan rambut. Penggunaan sanggul yang dulu hanya diletakkan di belakang, sekarang juga bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan,” kata dia. Karena pakem tata kecantikan semakin menipis, maka kreativitas pengusaha salon dituntut lebih besar.
Hal senada juga diungkapkan Ketua LKP Kartika Kabupaten Pasuruan Mayasari. Tantangan globalisasi tidak dapat didiamkan begitu saja. Sejak MEA 2015 didengungkan, berbagai perubahan terjadi. Yang paling menonjol adalah kewajiban untuk mengikutkan uji kompetensi minimal level dasar bagi warga belajar. Selain itu, intruktur juga harus meningkatkan kompetensinya dengan mengikuti pelatihan dan ujian level mahir atau level empat.
“Pengelola juga diwajibkan minimal sarjana S1. Makanya sekarang saya juga harus bersiap-siap untuk kuliah,” tutur perempuan yang kini berusia 58 tahun itu.
Kabid Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Dindik Jatim Abdun Nasor mengatakan, setiap tahun Dindik menggelar pameran PKBM dan LKP agar masyarakat tahu, dalam dunia pendidikan tidak hanya ada pendidikan formal. Sebab pendidikan non formal tak kalah penting perannya. Mereka yang kurang beruntung dari sisi ekonomi, dan tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan formal, maka pendidikan kesetaraanlah yang menampungnya.
Untuk mewadahi keterampilan mereka, masyarakat kurang mampu juga dapat mengakses Program Kecakapan Hidup (PKH). “Semua kita berikan secara gratis. Tujuannya satu, warga belajar usia produktif yang tidak dapat mengenyam pendidikan formal juga dapat terlatih sesuai keahlian mereka,” tutur dia. [tam]

Tags: