Gubernur Jatim Segera Temui Bos Besar Freeport Amerika

Dr H Soekarwo

Dr H Soekarwo

Pemprov Jatim, Bhirawa
Dalam waktu dekat Gubernur Jatim Dr H Soekarwo bakal bertandang ke Amerika Serikat menemui CEO Freeport McMoran and Gold Inc. Pertemuan tersebut untuk membahas rencana pembangunan smelter atau pabrik pemurnian mineral oleh PT Freeport Indonesia di Gresik.
“Beberapa waktu lalu saya sudah bertemu dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia. Nanti gantian saya yang akan bertemu dengan bos Freeport Amerika,” kata Soekarwo  usai acara Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (28/10).
Menurut Pakde Karwo, sapaan lekat Soekarwo, Indonesia masih mengimpor bahan baku industri termasuk untuk tembaga. Impor bahan baku mencapai 84 persen. Dari jumlah tersebur mayoritas adalah impor tembaga yang dihasilkan dari bumi nusantara. Dengan adanya investasi PT Freeport senilai 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp 25 triliun di atas lahan sekitar 80 hektare di Gresik, smelter tersebut mempunyai kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Pakde Karwo menerangkan, nilai perdagangan ekspor impor mengalami minus sekitar Rp 14 triliun dari Rp 111 trilun ekspor dan Rp 125 triliun impor. “Impor barang setengah jadi atau bahan baku akan berkurang karena ada Freeport, kita punya tembaga,” jelasnya.
Sebelumnya, Gubernur Soekarwo telah bertemu dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Rozik Boedioro Soetjipto, Selasa (21/10) lalu. Pertemuan itu membahas rencana Freeport membangun smelter di Gresik. “Mereka menanyakan bagaimana proses perizinannya,” kata Soekarwo.
Menurut dia, untuk mengolah smelter, sebagian besar bahan baku yang digunakan Freeport adalah tembaga. “Karena itu, kami akan mendukung penuh pembangunan smelter ini,” ujar Soekarwo.
Bahkan lelaki yang biasa disapa Pakde Karwo ini siap memberikan jaminan kepada investor asing yang akan investasi di Jatim. Jaminan itu, antara lain, dengan memberi kemudahan dalam mengurus perizinan yang ditargetkan 14 belas hari kerja selesai. “Namun izin bisa diberikan asal ada dokumen analisis mengenai dampak lingkungan,” tuturnya.
Selain itu, Soekarwo juga menjamin akan memberi dukungan di bidang infrastruktur yang dibangun secara bertahap. Sedangkan untuk kendala dalam persiapan pembangunan, Soekarwo meminta segera diserahkan agar Pemprov Jatim bisa membentuk tim untuk mengkaji.
Sedangkan Rozik mengatakan smelter yang bakal dibangun Freeport itu memiliki kapasitas produksi 1,8 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Untuk keperluan pembangunan ini, pihaknya membutuhkan lahan seluas 80 hektare. Rozik berjanji segera melakukan seleksi untuk membuat rancangan dasar smelter. Begitu juga untuk analisis dampak lingkungan.
Untuk diketahui sejak awal 2014, sesuai UU Mineral dan Batu Bara (Minerba), pemerintah melarang ekspor bahan tambang mentah seperti konsentrat tembaga dan lainnya. Perusahaan tambang di dalam negeri harus membuat smelter agar bisa mengekspor produk bernilai tambah atau sudah ada proses pengolahan. [iib]

Tags: