Dishutan Tak Batasi Peternak Masuk Hutan

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Batu, bhirawa
Musim kemarau yang berkepanjangan membuat persediaan hijauan (rumput maupun daun) pakan ternak mulai sedikit. Kondisi ini membuat Dinas Kehutanan dan Pertanian (Dishutan) memberikan kemudahan kepada peternak untuk mencari rumput di hutan.
Sebelumnya Kepala Dinas Kehutanan dan Pertanian (Dishutan), Arif As Sidiq mendengar keluhan dari para peternak yang mengaku kesulitan untuk mencari pakan ternak, karena rumput di sekitar sudah mulai mengering karena kemarau panjang. Sehingga salah satu alternatifnya adalah mencari rumput di hutan.
“Pakan ternak memang menipis karena tanahnya kering, sehingga pertumbuhan rumput juga kurang bagus. Alternatifnya peternak mencari rumput di hutan, karena di dalam banyak rumput dan semak yang cukup,” terang Arif As Sidiq, Rabu (29/10).
Selain menanam rumput di teras ladang, petani juga menanam rumput di pinggiran hutan dan sungai dalam hutan. Sehingga kalau akses mereka ke hutan dibatasi, maka akan mengancam ketersediaan pakan hijauan ternak.
“Saya sudah komunikasikan dengan pihak Perhutani, prinsipnya tidak ada masalah. Tentunya Perhutani juga mengharapkan mereka juga ikut menjaga hutan. Jangan justru ikut andil merusak hutan,” tegas Arif.
Dari pantauan bhirawa, sejumlah kawasan hutan memang dimanfaatkan untuk menanam rumput, seperti di kawasan hutan desa Tlekung, wilayah lereng gunung Panderman, Coban Talun, dan gunung Banyak. Umumnya petani menanam rumput gajah.
Tak hanya di wilayah kota Batu, di kawan hutan Pujon juga banyak dimanfaatkan peternak untuk menanam rumput gajah. Rumput dari kawasan hutan ini merupakan sumber utama pakan hijauan ternak, khusus peternak sapi perah.
“Kalau sampai dilarang masuk hutan, maka otomatis ketersediaan pakan ternak sangat tidak mencukupi. Saat ini saja masih harus membeli jerami dan tebon jagung untuk memenuhi pakan ternak,” ungkap Majid, peternak asal Pujon. [sup]

Tags: