RSUD Soetomo Membludak Akibat Tarif INA-CBGs Tak Merata

Piutang RSUD dr Soetomo Rp53 M Nyatol di KemenkesSurabaya, Bhirawa
Akibat ketidaksamaan tarif pengobatan di  Indonesian Case Base Groups (INA-CBGs) pada program Badan Pelayanan Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan membuat rumah sakit daerah cenderung merujuk pasien ke rumah sakit pusat rujukan.
Akibatnya,  RSUD.dr.Soetomo sebagai rumah sakit pusat rujukan harus menerima pasien yang jumlahnya membludak dari 3.000 per hari menjadi 5.500 per hari.  Rumah sakit daerah tipe C dan B terutama di kabupaten dan kota sering memilih merujuk pasiennya ke rumah sakit rujukan tipe A tersebut.
Direktur Utama RSUD dr Soetomo dr Dodo Anondo MPH mengatakan hampir sebulan lebih pasien RSUD dr Soetomo meningkat hampir dua kali lipat. “Sekarang kami coba analisis, apa itu memang dari rujukan atau memang pasiennya yang memilih datang sendiri,” kata Dodo
Namun, karena RSUD dr Soetomo adalah RS rujukan, maka hampir dipastikan lebih dari sebagian pasien adalah rujukan dari rumah sakit, puskesmas atau klinik. Terutama dari pasien BPJS kelas III.
Menurutnya, dari awal persoalan ketidaksamaan tarif pengobatan di INA-CBGs yang disesuaikan dengan tipe rumah sakit menjadi persoalan dalam BPJS. Sebab, tarif yang ditetapkan antar rumah sakit sangat jauh berbeda.
Misalnya, untuk penanganan kasus penyakit kronis rumah sakit tipe A yang ada di wilayah daerah, seperti tarif operasdi hernia RSUD dr Soetomo ini akan berbeda dengan rumah sakit tipe B dan C. Di rumah sakit tipe A tarif INA-CBGs operasi hernia bisa mencapai Rp 6 juta. Sedangkan, di rumah sakit tipe B dan C tarif operasi hernia hanya Rp 3 juta-5 juta.
“Padahal itu satu paket, terkadang daripada rumah sakit di daerah atau puskesmas rugi ya dirujuk kesini (RSUD dr Soetomo, Red),” jelasnya.
Beberapa kasus lainnya, bisa saja pasien langsung meminta untuk dirujuk ke RSUD dr Soetomo karena pasti dilayani. Sebab, sebagai rumah sakit rujukan RSUD dr Soetomo tidak boleh menolak pasien.
Sementara Kepala Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSUD dr Soetomo, dr  Urip Murtedjo, Sp BKL (K) mengaku kewalahan dengan meningkatnya jumlah pasien rujukan ke IRD. “Biasanya IRD hanya menerima 200 pasien sehari, tapi sekarang sampai 350 pasien per harinya,” ungkapnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Jatim Dodo Anondo mengaku, pihaknya meminta agar rumah sakit umum di kabupaten/kota harus bekerjasama agar berhati-hati dalam merujuk pasien ke RSUD dr Soeotomo. Menurutnya, dengan kelengkapan fasilitas yang dimilik rumah sakit daerah penanganan pasien akan dapat diatasi.
”Yang jelas masalah membludaknya pasien di Soetomo tidak hanya dipicu oleh ketidakmerataan taris INA-CBGs akan tetapi terlebih sistem rujukan yang belum berjalan maksimal,” tegasnya. [dna]

Keterangan Foto : Pelayanan yang diberikan RSUD dr Soetomo kepada para pasien. [dna/bhirawa]

Tags: