Rotasi Searah Mata Angin, Sukses Jadi Inovasi Terbaik

Kincir angin ASA 01 buatan Tim Himagema Umsida berhasil menorehkan juara satu KKAI kategori Inovasi Terbaik.

Kincir angin ASA 01 buatan Tim Himagema Umsida berhasil menorehkan juara satu KKAI kategori Inovasi Terbaik.

Kab Sidoarjo, Bhirawa
Pengembangan teknologi tepat guna berbasis lingkungan terus digiatkan anak-anak negeri melalui berbagai riset  ilmiah. Tak terkecuali para mahasiswa yang kini belajar Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). Karyanya berupa kincir angin jenis Vertical Axis Wind Turbin (VAWT) sukses menjadi inovasi terbaik di Kompetisi Kincir Angin Indonesia (KKAI) di Bantul, Jogjakarta 15 – 19 September lalu.
Rosdeawan Yusuf, mahasiswa semester 5 Prodi Teknik Mesin Umsida tak dapat berjalan normal. Dia harus menggunakan sepasang kruk untuk menyangga badan jika ingin berjalan. Kakinya masih kesakitan akibat terkilir, dia jatuh saat hendak membongkar kincir angin jenis VAWT setinggi delapan meter.
“Kejadiannya persis dua hari sebelum berangkat kompetisi. Jadi waktu lomba sampai sekarang harus pakai kruk,” kata Wawan, saapaan akrab Rosdeawan saat ditemui di kampus tempat dia kuliah kemarin.
Kondisi demikian tak membuat surut harapannya lalu berhenti berusaha. Empat hari mengikuti lomba, dia masih aktif membantu rekan-rekannya yang berjumlah 11 orang, meski tidak ikut memanjat batang penyangga kincir lagi. Hingga kerja kerasnya itu berbuah prestasi gemilang, yakni menjadi juara satu kategori Inovasi Terbaik.
Predikat itu diterima bukan semata-mata. Karyanya memang unik tak seperti umumnya kincir angin. Jika di Belanda berdiri ribuan kincir dengan arah rotasi searah jarum jam. Kincir jenis VAWT yang diberi nama ASA 01 ini berbeda, rotasinya berkeliling searah mata angin. Dengan model semacam ini, torsi kincir angin diakui lebih besar dan energi yang dihasilkan pun lebih stabil. “Nama ASA 01 ini artinya harapan. Jadi kita yang menjadi anggota tim tidak boleh putus asa dalam kondisi apapun,” yakinnya.
Kincir buatannya ini dapat berfungsi maksimal jika mendapat dorongan angin 6 meter per detik. Dengan dorongan angin sebesar itu, energi listrik yang dihasilkan generator bisa mencapai 2.400 watt. Daya sebesar itu sudah bisa mencukupi kebutuhan listrik rumahan. “Setiap kincir dapat dialirkan ke empat generator. Jadi satu kincir bisa untuk empat rumah sekaligus,” kata dia.
Kelebihan lain kincir jenis VAWT ialah torsi yang stabil. Meski daya dorong angin ke sudu (baling-baling) melemah, kincir masih mampu menyimpan putaran. Berbeda dengan kincir angin pada umumnya, saat angin melemah dalam waktu singkat rotasi juga akan langsung berhenti. Tak hanya itu, sudut sudu juga diatur sesuai daya dorong angin. Jika angin besar, sudu dapat disetel dengan sudut 90 derajat. Namun jika angin melemah, sudu dapat diposisikan pada sudut 45 derajat atau kurang. “Kalau kincir yang biasa sudunya sudah pakem. Jadi tidak bisa disetel ulang,” kata dia.
Sebelum mengikuti lomba, tim berjuluk Himagema ini menjajal kemampuan kincir selama satu minggu di kampus. Selanjutnya, pada saat kompetisi berlangsung, kincir juga diuji selama tiga hari di Pantai Baru Bantul, Jogjakarta. “Hasilnya sangat bagus dan energy yang dihasilkan juga sangat stabil,” kata dia.
Sayang, karyanya belum dapat masuk dalam nominasi terbaik di berbagai kategori. Ini diakuinya lantaran generator yang dibawa saat kompetisi tiba-tiba mengalami gangguan. Akibatnya, energi yang dihasilkan pun tidak maksimal. Meski demikian, dia dan timnya tetap bersyukur dapat menyabet penghargaan karya paling inovatif dari 30 lebih perguruan tinggi yang ikut di kompetisi itu.
Anggota tim Himagema lainnya ialah Mochammad Hidayatur Rochim. Mahasiswa semester 3 di jurusan yang sama ini menjelaskan, kincir angin buatan timnya itu sengaja dibuat dengan putaran searah mata angin untuk memberikan kesan berbeda. Selain itu, timnya juga ingin membuat kincir dengan hasil optimal. “Dan ternyata benar, setelah kita coba buat hasil energinya memang lebih stabil,” tutur dia.
Proses pembuatan ASA 01 ini, tutur dia, memakan waktu hingga tiga bulan mulai dari proses perencanaan hingga aplikasi. Proses yang paling sulit ialah pembuatan rangka sudu. Dalam proses tersebut, tim bahkan sempat mengalami dua kali kegagalan. Pertama sudu terlalu berat, kedua rangka sudu terlalu lebar. “Tapi itu semua dapat dilalui dengan kerjasama tim dan bimbingan dosen pembimbing yang baik,” kata dia.
Wakil Rektor 1 Umsida Isa Anshori menambahkan, kompetisi ini merupakan pertama kalinya yang diikuti kampus yang dia pimpin. Sebelumnya, Umsida belum pernah mengikutinya selama perhelatan tahunan yang telah digelar untuk tahun ketiga ini. “Kita target awalnya hanya masuk 30 besar saja, yaitu lolos proposal. Tapi ternyata justru jadi inovasi terbaik, kata dia.
Mengingat karya ini baru pertama kalinya ada, Isa mengaku akan mematenkan sebaga Hak Atas Karya Ilmiah. “Secepatnya akan kami patenkan. Sebab sudah banyak yang mulai mengincar kincir yang model ini,” pungkasnya. [tam]

Tags: