Revolusi Mental dan Generasi Inspiratif

SusantoOleh :
Susanto
Guru SMA Negeri 3 Bojonegoro, Alumnus Pascasarjana UNS Surakarta

Belakangan ini muncul bahwa desakan adanya revolusi mental dimulai dari dunia pendidikan. Hal itu didasari.   Pertama, dari dunia pendidikanlah perilaku bangsa ini dimulai. Kedua, hal utama yang harus dikedepankan dalam revolusi mental yang ada di lembaga pendidikan yang harus ditanamkan adalah karakter bangsa  dalam hal ini adalah sikap hormat dan tanggung jawab.
Peran Ortu
Pendidikan yang berkarakter dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru. Cara guru berbicara atau menyampaikan materi harus bisa jadikan inspirasi. Lebih detail lagi bagaimana guru bertoleransi dalam berbagai hal dalam konteks nyata dalam kehidupan.
Dalam tataran yang demikian, tentunya ada beberapa hal yang perlu dikaji sekaligus menjadi renungkan bersama agar sebagai menjadi bangsa yang kuat bukan bangsa yang memiliki mentalitas  instan. Pertama, bangsa yang maju dan jaya tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, tehnologi canggih ataupun kekayaan alamnya, tetapi utama dan terutama karena dorongan semangat dan karakter bangsanya. Artinya, pemahaman karakter diri yang tangguh akan menjadikan seorang individu berkarakter yang sesungguhnya. Peran orang tua, guru, dosen, dan juga pemimpin kita untuk kembali meneguhkan kembali nilai-nilai karakter pada anak-anak, pelajar, mahasiswa, para pegawai  selama di rumah, di sekolah, di kampus, dan juga di tempat kerja. Bahwa sesungguhnya mengambil yang bukan hak semacam korupsi adalah perbuatan dosa dan juga merugikan orang lain.
Kedua, pendidikan karakter dalam sekolah adalah solusi sebagai gerakan untuk meneguhkan kembali kemartabatan bangsa. Mengapa demikian? Karena pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah tapi juga di rumah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”.  Dalam pendidikan karakter di sekolah pada khususnya dan di rumah pada umumnya harus melibatkan semua komponen.  Komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan  harus berkarakter.
Ketiga, peran karakter bagi diri seorang manusia adalah ibarat kemudi sebuah kapal. Karakter adalah kemudi hidup yang akan menentukan arah yang benar bahtera kehidupan seorang manusia. Tentunya, kita sudah saatnya untuk selalu mengedepankan sikap dan jiwa yang berkarakter dalam membangun sebuah peradaban. Hanna Jumhana B (dalam H. Soemarsono; 2008: 16) bahwa karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri kita melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan pengaruh lingkungan, dipadukan dengan nilai-nilai dari dalam diri manusia. Sehingga dalam tataran ini sudah langkah mendesak apabila kita selalu mengedepankan sikap keindonesiaan yang bersumber pada kearifan atau semangat .
Guru sebagai Penyelaras
Dalam konteks yang demikian peran guru sangatlah vital sebagai penyelaras pendidikan karakter di sekolah. Dengan kata lain, bagaimana juga pendidikan karakter adalah solusi cerdas dalam meneguhkan kemartabatan sebuah bangsa. Dalam tataran yang demikian ada beberapa solusi agar apa yang dikatakan BS bahwa revolusi mental harus bermula dengan pendidikan. Pertama, mewaspadai tayangan televisi. Artinya, guru dan juga orang tua harus menjadikan permasalahan tayangan yang berbau kekerasan di TV itu sebagai tanggung jawab bersama seluruh komponen. Baik komunitas pertelevisian, pemerintah, maupun masyarakat. Media TV harus paham akan tanggung jawab sosial untuk turun menyajikan tayangan-tayangan positif.  Dalam konteks ini, peran orang tua sangat vital. Mengapa demikian? Karena orang tualah pembimbing sejati anak-anak di rumah. Kalau anak-anak tidak dibimbing langsung oleh orang tua saat melihat tayangan TV atau film atau juga tanyangan yang tidak edukatif niscaya anak-anak akan menelan secara mentah-mentah apa yang mereka tonton. Kalau sudah demikian? Siapa yang harus disalahkan?  Tentunya orang tua harus arif. Menyalahkan tehnologi. Misalnya teman sepermainan atau yang mencari-cari alasan lain. Jadi orang tua harus selektif terhadap tayangan yang dilihat oleh anak-anak. Dengan kata lain masyarakat (baca: ortu)  pun harus selektif terhadap program-program TV.
Kedua, pemerintah harus aktif untuk turut mengawasi media massa agar sesuai dengan fungsi yang sebenarnya. Mengapa ini penting? Menurut saya dengan cara ini pemerintah bisa memberikan teguran atau sanksi manakala ada stasiun TV yang tidak memberikan tanyangan yang edukatif bagi anak-anak. Langkah ini bisa dilakukan oleh pemerintah dengan memberikan penekanan kepada stasiun TV agar membuat tayangan yang memiliki bobot pembentukan karakter anak yang unggul. Diperlukan sebuah tayangan yang merangsang anak-anak kita untuk memiliki “daya tahan”, “daya saing” dan juga “daya keberlanjutan” menjalani hidup dan kehidupan mereka kelak.
Anak-anak harus jauh dari kepungan kekerasan baik fisik maupun verbal. Mengapa hal ini penting? Karena hal tersebut bisa menghambat perkembangan semangat dan daya juang anak dalam menjalani kehidupan. Anak-anak kita akan memiliki karakter pribadi yang kuat dan unggul manakala berpegang dan memiliki daya tahan, daya saing, dan daya berkelanjutan dalam hidup dan kehidupannya.
Fenomena kekerasan  beberapa waktu lalu di JIS, kasus Emon, saling menghujat, dan juga korupsi maka guru dan orang tua dalam mengawal perkembangan psikologisnya. Baik itu secara fisik dan psikis yang semestinya meraka dapatkan. Sebuah langkah mendesak agar guru dan orang tua untuk selalu melakukan pendidikan yang sporif. Perlunya sebuah transformasi keteladanan  yang sehat di usia dini bagi anak-anak kita dalam bentuk kurikulum yang mengikat. Orang dewasa untuk selalu memberikan perlindungan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak kita.
Nah, dalam kerangka revolusi mental dimulai dari dunia pendidikan (sekolah), justru menurut saya harus dimulai dari keluarga. Para orang tua harus memberikan rasa aman dan tidak bahaya. Orang tua tetap memberikan semangat untuk bermain, berkarya,  dan selalu kreatif dalam dunianya sehingga menjadi generasi inspiratif.  Kalau semua ini terlaksana maka ketika di sekolah siswa akan tumbuh dewasa. Dengan demikian guru akan menjadi penyelaras bagi peserta didik saat di sekolah karena orang tua sudah berperan maksimal dalam memberikan arahan saat di rumah.

                                                     —————————– *** ——————————

Tags: