Pergulaan Makin Kritis

Karikatur-impor-gula-386x290Lagi, ribuan petani tebu turun ke jalan memprotes kebijakan impor gula oleh pemerintah. Kali ini situasi petani tebu bagai petinju yang berkali-kali jatuh, dan dinyatakan kalah TKO. Apa yang akan dilakukan oleh pemerintah agar petani tebu dapat kembali bertarung di atas  “ring” per-gula-an internasional?  Banyak hal harus dibenahi, pada sisi on-farm (problem  lahan) serta off-farm (kritisnya pabrik gula). Selama ini, pemerintah (melalui Kementerian BUMN) seolah-olah tidak berbuat apa-apa.
Sudah lebih dari 8 musim giling, petani tebu selalu kalah. Problem utamanya selalu sama, rendemen rendah. Konyolnya, sejak tahun 2007 problem rendemen tak pernah diselesaikan. Malah terus merosot, dari rata-rata 8,5% menjadi 7,5% (tahun 2014 ini). Konsekuensi logisnya, kandungan gulanya rendah, sehingga hasil gula juga sedikit. Lebih parah lagi, tebu yang tidak berkualitas itu harus diproses pada pabrik gula (PG) yang tua renta. Mesinnya sudah berusia 70-an tahun.
Mesin itu dulu (dekade tahun 1930-an) bagai pahlawan. Pada masa kejayaan PG (tahun 1928-1978) pulau Jawa bisa menghasilkan gula pasir sebanyak 3 juta ton per-musim, separuhnya diekspor. Saat itu rendemen masih setinggi 17%, didukung areal seluas 200 ribu hektar. Kini, rata-rata kondisi PG bagai memaksakan diri. Memasuki dekade tahun 2010, banyak PG tutup karena terus merugi. Contohnya, PG Kedawung di Grati, Pasuruan, pada tahun 2010 lalu mencatat kerugian sebesar Rp 27 milyar.
Sehingga nasib PTPN X yang membawahkannya juga terseok-seok. Sedangkan dijajaran PTPN XI (kawasan tapal kuda Jawa Timur) telah menutup satu pabrik (di Krian) dan akan menyusul tutup giling untuk 6 pabriknya yang lain (Toelangan, Kremboong, Jombang Baru, Tjoekir serta Mojopanggung dan Mrican). Tetapi anehnya, dalam keadaan kritis beberapa PG malah dipaksa bersolek. Pabriknya dibersihkan dan dicat, mesinnya dicuci. Hasilnya, ya cuma kamuflase.
Berbagai laporan produktifitas ternyata di-oplos dengan gula impor. Itu logis, karena produktifitas PG (giling) tetap rendah. Rendemen tebu juga terus merosot makin rendah. Misalnya, pada tahun 2012 lalu, konon dikabarkan di satu perusahaan jajaran BUMN mampu menghasilkan gula sebanyak 494 ribu ton. Itu bagai mimpi. Sebab, gula sebayak itu harus dihasilkan dari tebu sebanyak 5 juta ton tebu, yang dipanen  dari kebun tebu seluas  70 ribu hektar dengan rendemen 8,5%. Dimana adanya?!
Situasi hubungan antara petani tebu dengan BUMN per-gula-an seolah-olah makin diametral. Contohnya, “angin surga” dari Kementerian Perdagangan untuk petani tebu, malah membuat sengsara PTPN. Yakni, pemerintah akan stop impor gula sampai akhir tahun 2014. Ini menyebabkan PTPN galau, karena tidak bisa mengimpor gula kristal putih.
Tetapi kabar gembira untuk petani tebu tidak berlangsung lama. Sebab kenyataannya di pasaran masih banyak beredar gula impor (raw sugar) yang mudah saja diubah menjadi gula kristal putih. Pada saat bersamaan, HPP (Harga Patokan Petani) terus merosot sampai Rp 8.200-an per-kilo. Andai HPP ini direvisi menjadi Rp 9.00-an per-kilo, akan bagai simalakama. Harga gula lokal akan naik. Sehingga semakin tidak bisa bersaing dengan gula impor.
Itulah problem per-gula-an yang sangat kronis. “Ring” pertarungan yang tidak seimbang antara petani tebu, makelar (importir gula), dan PG BUMN. Petani tebu harus menghadapi dua lawan sekaligus. Ironisnya, pemerintah (sebagai wasit) tidak pernah serius memperbaiki problem per-gula-an secara on-farm (urusan di lahan tebu) maupun off-farm (di PG).
Tetapi suatu saat petani juga bisa membalas telak. Menga-alih fungsi-kan lahan tebu!  Lalu pemerintah harus mengimpor gula lebih banyak, sehingga defisit neraca berjalan akan semakin membebani APBN. Pemerintah akan puyeng.

                                                             —————-   000   —————–

Rate this article!
Pergulaan Makin Kritis,5 / 5 ( 1votes )
Tags: