Menyayangkan Haji Berkali-kali

Ahmad FatoniOleh :
Ahmad Fatoni
Pengajar dan Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyarankan perlunya peraturan yang melarang seseorang menunaikan ibadah haji berkali-kali. Salah satu peraturan yang diusulkannya adalah fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar mengeluarkan landasan hukum agama berkenaan dengan pelarangan haji berkali-kali demi mempersingkat antrean calon jamaah haji.
Saran Menteri Agama RI tersebut sangat beralasan. Pertama, tren kaum muslim Indonesia yang mendaftar sebagai calon jamaah haji, terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga menyebabkan antrean begitu panjang. Bahkan di beberapa daerah telah terjadi antrean hingga belasan tahun. Artinya, jika mendaftar haji pada tahun ini, seseorang harus sabar menunggu hingga belasan tahun untuk bisa berangkat ke tanah suci.
Data Kemenag per Juli 2014, jumlah antrean haji sudah mencapai lebih dari 2,2 juta orang. Yang mengherankan sekaligus memprihatinkan, ternyata dari jutaan orang yang masuk daftar tunggu (waiting list) terdapat ratusan bahkan ribuan calon jamaah haji yang mengulang; kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dalam hal ini pemerintah tentu sudah mengantongi data haji umat muslim Indonesia yang sudah menunaikan ibadah haji.
Alasan kedua, hukum ibadah haji bagi yang sudah berhaji adalah sunnah sehingga apabila tidak mengulanginya tidak ada larangan. Mengutip KH. Ali Mustafa Yaqub dalam buku Haji Pengabdi Setan (2006), sangat boleh jadi haji mengulang tidak lagi bernilai sunah, melainkan bisa jadi makruh atau bahkan haram.
Mereka yang melaksanakan haji ulangan seolah tak tergugah bahwa di balakang mereka banyak orang tua yang antre untuk memperoleh jatah haji. Mereka seperti tak menyadari bahwa di sekitar mereka banyak orang miskin dan anak yatim dalam kondisi menyedihkan. Mereka lalai atau sengaja menutup mata bahwa dana haji berkali-kali itu jika dikumpulkan untuk membantu orang-orang yang lebih membutuhkan tentu lebih bermakna dan justru hukumnya wajib.
Andaikan setiap tahun ada delapan ribu orang Indonesia ingin melaksanakan haji mengulang, lalu mereka membatalkannya dan mengalihkan dana hajinya itu untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Dengan asumsi ongkos haji @ Rp 30 juta, tahun pertama saja akan terkumpul 240 miliar rupiah. Jika uang sebesar itu disimpan dalam bentuk deposito, di akhir tahun uang tersebut akan bertambah sepuluh persen. Selama 20 tahun maka uang itu akan bertambah 200 persen. Iuran tahun kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya sampai tahun ke-20 tinggal dikalikan jumlahnya. Jumlah uang sebanyak itu tentu lebih bermanfaat guna membantu orang-orang miskin, memperbaiki sarana pendidikan, kesehatan dan sebagainya.
Hanya, masih banyak orang yang beranggapan, melaksanakan haji berkali-kali secara otomatis akan mendongkrak derajat kemuliaannya di hadapan Allah SWT sekaligus menaikkan gengsi sosialnya di mata masyarakat. Mereka tidak sadar bahwa setan, selain membujuk manusia berbuat maksiat, juga menggodanya lewat praktik-praktik ibadah yang kurang proporsional seperti-sekadar contoh-menunaikan haji berkali-kali di tengah banyak masyarakat yang hidup serba kekurangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juli 2014 mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 28,28 juta orang. Menurut Bank Dunia, kemiskinan mencapai hampir separuh rakyat Indonesia, 49 persen. Dunia mencatat, penghasilan separuh penduduk Indonesia di bawah dua dollar AS. Itu baru data kemiskinan, belum lagi jumlah pengangguran murni, semi pengangguran, dan ratusan ribu orang yang (terancam) di-PHK akibat dampak kenaikan BBM.
Dari data kemiskinan tersebut secara otomatis akan diikuti duka sosial yang sangat mengenaskan seperti tingginya putus sekolah, meningkatnya angka kriminalitas, merebaknya wabah penyakit, tajamnya konflik sosial, terjadinya berbagai bencana dan sebagainya.
Menyelaraskan ibadah individual dengan amal sosial
Karena itu, mereka yang kemaruk haji berkali-kali sejatinya mengurungkan niatnya mengingat problem kemiskinan dan aneka tragedi sosial lainnya di negeri ini masih terlalu banyak. Alangkah baiknya bila ongkos para jamaah haji ulangan digunakan menyantuni fakir miskin yang bersifat wajib dari pada mendahulukan haji ulangan yang hukumnya, paling banter, sunnah.
Terlebih, sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah SWT dapat ditemui di sisi orang sakit, kelaparan, kehausan, dan orang-orang yang menderita. Rasulullah SAW tidak pernah menyatakan Allah SWT bisa dijumpai di sisi Ka’bah. Dengan kata lain, Allah SWT dapat ditemui pula melalui ibadah sosial, bukan hanya pada ibadah individual semata.
Sebagian orang mengatakan, beribadah haji lebih dari sekali itu guna menyempurnakan ibadah haji sebelumnya dan ingin meraih kepuasan spiritual. Alasan tersebut dapat dimaklumi karena ibadah haji memang selalu menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam sehingga membangkitkan kerinduan untuk kembali pergi ke tanah suci.
Pertanyaannya, pantaskah seseorang setiap tahunnya melakukan perjalanan haji, sementara di kiri kanannya ada orang lain yang hidup dalam situasi yang serba tidak menentu, padahal kewajiban ibadah haji hanya sekali seumur hidup, selebihnya cuma sunnah? Dalam sebuah kaidah Ushul Fiqh dinyatakan, amal perbuatan yang manfaatnya berkesinambungan lebih utama dari pada amal perbuatan yang manfaatnya terhenti.
Hal ini semakin mengukuhkan akan pentingnya ibadah yang bernuansa sosial dan berpahala berkesinambungan di samping ibadah yang bersifat ritual-individual dan pahalanya terhenti kepada yang bersangkutan. Masih banyak saudara-saudara kita dalam kondisi keterbatasan dan tidak sedikit pula generasi penerus bangsa ini yang telantar sembari mengharap uluran tangan orang-orang yang berkecukupan. Beribu panti jompo, panti anak yatim, pusat rehabilitasi, pesanntren, dan sarana ibadah lainnya menunggu ketulusan hati kita demi tegaknya keseimbangan antara ibadah ritual-individual dan amal sosial.
Berhubung antrean calon jamaah haji terus mengalami peningkatan, rasanya, kesadaran kewajiban berhaji itu hanya sekali dalam seumur hidup penting ditekankan. Bukankah Nabi Muhammad SAW hanya berhaji sekali dalam seumur hidup? Padahal, jika berkenan, beliau dapat melakukan ibadah haji lebih dari sekali.
Jika kita mau meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW, ibadah haji pun cukup ditunaikan sekali. Untuk menumbuhkan kesadaran tentang hal tersebut, jelas dibutuhkan seperangkat peraturan yang bersifat mengikat dan memaksa. Itu sebabnya, pemerintah harus membuat regulasi yang tegas berkaitan dengan terus meningkatnya minat umat Islam untuk beribadah haji.
Tokoh agama pun, termasuk melalui MUI, juga perlu memberikan pencerahan kepada umat dalam masalah kewajiban melaksanakan ibadah haji. Umat perlu dicerdaskan bahwa beaya haji yang kedua atau yang kesekian itu akan lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial sebagai amal jariyah yang pahalanya terus-menerus berkesinambungan.

                                                              ———————— *** ———————-

Rate this article!
Tags: