Jatim Harus Evaluasi Atlet Dansa

25-dansaSurabaya, Bhirawa
Kegagalan Jatim meraih hasil maksimal di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Dansa Bandung Agustus lalu, menjadi cambuk bagi Pengprov Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI) Jatim untuk melakukan evaluasi. Karena cabor ini memperebutkan 15 emas di PON 2016 Jabar.
Menurut Ketua Umum I Bidang Organisasi daerah PP IODI, John A. Christian, sebenarnya Jatim memiliki peluang untuk merebut emas karena memiliki atlet yang memiliki kemampuan diatas rata-rata, yakni Albert. Sayangnya hingga kini Albert belum punya pasangan yang pas setelah partner lamanya Johana harus absen karena hamil.
Saat berlaga di Kejurnas lalu, Albert berpasangan dengan Tania, namun secara teknik Tania masih belum bisa mengimbangi gerakan Albert. “Keduanya baru berlatih selama empat bulan dan Tania memiliki talenta yang cukup bagus, namun ia masih harus berlatih lagi untuk mengimbangi teknik Albert,” kata John Christian, Rabu (24/9).
Hal lain yang harus diperhatikan oleh IODI Jatim adalah, saat ini beberapa provinsi sudah mengirimkan atau mengundang pelatih dari luar negeri untuk persiapan PON Jabar, seperti Sulsel yang mengirimkan atletnya ke Italia kemudian Jabar yang dikenal memiliki banyak atlet dansa potensial juga mendatangkan pelatih dari luar negeri. “Jatim harus melakukan evaluasi agar bisa bersaing di PON, karena rival terberat seperti Jabar, Jateng, NTB, Bali dan Di Yogjakarta sudah melakukan persiapan cukup bagus,” kata pria yang juga pelatih Kempo itu.
Saat disinggung mengenai isu kalau ada beberapa juri yang ‘bermain’ dan tidak fair saat melakukan penilaian, dengan tegas John Christian membantahnya, karena penunjukkan juri dilakukan beberapa menit sebelum atlet turun di arena. Selain itu ada 11 juri yang melakukan penilaian. “Juri tidak tau kapan ia ditugaskan, sehingga kecil kemungkinan ada permainan. Kami sudah membuat sistem untuk mengantisipasi masalah ini,” tegasnya.
Pada kesempatan itu pria yang juga berprofesi sebagai lawyer itu menjelaskan mengenai proses kepindahan atlet, menurutnya dalam anggaran dasar rumah tangga IODI atlet diberikan kebebesan untuk pindah ke provinsi lain asal dengan ketentua tidak melewati batas waktu yang sudah ditentukan.
Seperti untuk proses perpindahan atlet untuk PON sudah ditutup pada pertengahan September lalu. “Kami tidak mempersulit atlet pindah karena sudah diatur di anggaran dasar rumah tangga,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Jatim, Erlangga Satriagung mengakui jika harus ada evaluasi terhadap prestasi di cabor dansa. Sebab selama ini Jatim juga dianggap memiliki peluang untuk bisa meraih emas di cabor yang pernah dilombakan pada PON Kaltim 2008 itu. “Harus segera di evaluasi dan kami minta pelatih untuk melakukan penilain secara objektiv terhadap kemampuan atlet,” katanya. [wwn]

Keterangan Foto : John Christian

Rate this article!
Tags: