Harap harap Cemas Nasib Mobil Listrik

Wahyu Kuncoro SNOleh :
Wahyu Kuncoro SN
Wartawan Harian Bhirawa ;
Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya

Keberhasilan mobil listrik Ezzy ITS 1 dan Ezzy ITS 2, buatan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melewati fase ujicoba Tour de Java Molina dengan rute Jakarta-Surabaya (2-6/Mei) yang lalu membangkitkan kembali asa menghadirkan mobil listrik nasional (Molina). Asa ini barangkali tidak jauh berbeda dengan harapan publik ketika pertama kali mobil Esemka (SMK) dikenalkan Joko Widodo (Jokowi) yang saat itu masih menjabat sebagai Wali Kota Solo. Sayangnya, nasib mobil Esemka tidak semujur nasib Jokowi, yang bukan saja mampu menjadi Gubernur DKI Jakarta tetapi hari ini juga menjadi Calon Presiden (Capres) yang menurut sejumlah lembaga survei memiliki elektabilitas paling tinggi dan diprediksi kuat akan memenangkan Pilpres 9 Juli mendatang.
Harapan yang sama kembali terulang ketika  Menteri BUMN Dahlan Iskan memamerkan mobil listrik karya putra terbaik bangsa. Tak tanggung-tanggung, mengawali amanah sebagai Menteri BUMN Dahlan Iskan langsung menggebrak industri tanah air dengan memanggil putera-putera terbaik di bidang mobil listrik yang tersebar di seantero pusat-pusat industri dunia untuk membangun mobil listrik nasional. Lantas berkumpullah  para pakar mobil listrik seperti Dasep Ahmadi, Danet Suryatama, Ravi Desai, Mario Revaldi, dan Ricky Elson. Kelima orang yang kemudian dikenal sebagai Pandawa Putra Petir ini merupakan hasil seleksi dari lebih seribu orang yang mendukung lahirnya mobil listrik nasional.
Kelima orang dengan masing-masing keahlian dan berpengalaman mengembangkan mobil listrik di luar negeri itu diminta kembali ke Indonesia untuk membangun industri otomotif nasional. Dasep Ahmadi, engineer lulusan ITB dan pendidikan luar negeri sudah lama berada di industri mobil. Danet Suryatama, engineer lulusan ITS dengan gelar doktor dari Michigan USA, sudah lebih 10 tahun menjadi engineer di pabrik mobil AS. Selanjutnya, Ravi Desai, lahir dan lulusan Gujarat ahli dalam energi dan menekuni konversi energi. Mario Rivaldi, lulusan Inggris dan Jerman yang pernah di ITB spesialis menciptakan sepeda motor listrik. Dan Ricky Elson, lulusan Jepang ahli perancang teknologi motor listrik yang beberapa temuannya sudah dipatenkan di Jepang.
Dari Pandawa Putra Petir ini lantas lahirlah mobil listrik sport Tucuxi karya Dasep Ahmadi. Sayang, saat melakukan ujicoba Tucuxi ini mengalami musibah dan disusul polemik antara Dahlan Iskan dan sang pencipta Tuxudi Dasep yang membuat pamor mobil listrik meredup. Di luar generasi Tucuxi, Pandawa Putra Petir juga melahirkan generasi mobil listrik tipe Selo dan Gendhis karya Ricky Elson yang saat ini ‘mangkrak’ karena menunggu izin untuk ujicoba yang nggak pernah turun dari pemerintah. Lagi-lagi sungguh sayang, nasib mobil listrik yang digadang-gadang akan menjadi mobil nasional ternyata juga harus masuk gudang. Namun setidaknya mobil listrik ikut mempopulerkan nama Dahlan Iskan.
Menyimak kisah di atas, baik mobil Esemka-nya Jokowi maupun mobil listriknya Dahlan Iskan memunculkan pertanyaan,  apakah memang kemunculan mobil Esemka atau mobil listrik hanya sekadar untuk mengerek popularitas seseorang. Apakah memang para pemimpin di negeri ini sesungguhnya tidak pernah serius mewujudkan mobil nasional?
Lantaran itu, kalau sekarang muncul lagi generasi mobil listrik yang didukung penuh Mendikbud dan lahir dari kampus ITS Surabaya, rasanya publik rasanya patut ragu kalau para pemimpinnya benar-benar menginginkan membangun sebuah industri mobil listrik nasional, mengapa? Karena sesungguhnya yang terlihat kemudian adalah ketiadaan satu langkah bersama yang mampu memberikan keyakinan kepada publik bahwa bangsa ini tengah menapaki peta jalan yang jelas menuju terwujudnya mobil listrik nasional.
Bagaimana tidak, mobil listrik tipe Selo dan Gendhis karya putra terbaik negeri yang punya pengalaman dan reputasi internasional yang nyata-nyata sudah jadi dan tinggal menunggu izin saja sekarang mangkrak, sementara di wilayah lain pemerintah antusias ketika mahasiswa ITS melakukan ujicoba mobil listriknya. Apakah karena ITS adalah tempat asal Mendikbud M Nuh lantas harus didukung, sementara mobil listrik yang dibuat Dahlan Iskan bersama timnya harus disimpan di gudang karena khawatir akan jadi alat bagi Dahlan Iskan yang ingin maju Pilpres saat itu? Seperti itulah kira-kira prasangka yang muncul di tengah publik hari ini.
Harus diakui, berbagai kebijakan strategis negeri ini sering tersandera oleh pertimbangan politik. Akibat ikut sertanya kepentingan politik membuat kebijakan yang diambil menjadi tidak rasional lagi. Singkatnya, penulis sungguh tidak melihat adanya sebuah sinergi besar dalam mewujudkan mobil listrik. Dan jangan dilupakan, bahwa pakar mobil listrik bukan hanya milik kampus ITS saja, apakah pakar otomotif di ITB, UI atau UGM juga akan diberikan panggung untuk hasil karyanya?
Penulis sangat percaya bahwa kualitas SDM yang dimiliki bangsa ini sangatlah memadai untuk mewujudkan impian menghadirkan mobil listrik nasional. Namun justru hambatan paling serius adalah kesadaran para pemimpinnya untuk menyatukan langkah saling bersinergi mewujudkan impian itu. Bukannya justru saling berebut panggung agar nanti dianggap sebagai leader paling menentukan dalam proyek mobil listrik nasional.
Memetik Pelajaran
Di negara-negara maju, riset dan pengembangan kendaraan listrik terus dilakukan. Sampai hari ini pun belum satu pun negara yang telah menyelesaikan proyek risetnya. Artinya, kalau hari ini bangsa Indonesia juga giat melakukan riset maka upaya itu harus didorong semua pihak. Dalam situasi seperti itu maka peran pemerintah adalah merangkul semua pihak agar secara bersama merumuskan peta jalan untuk mewujudkan mobil listrik nasional.
Kesalahan Dahlan Iskan sehingga proyek mobil listriknya terhambat bisa jadi karena tidak mau mengajak dan melibatkan pihak lain. Bagaimanapun program mobil listrik bukanlah program instan yang bisa serta merta menampakkan hasilnya. Dan nampaknya Dahlan Iskan termasuk seorang yang mencari jalan cepat. Imbasnya, banyak pihak yang merasa ditinggalkan oleh program mobil listrik nasional versi Dahlan Iskan.
Belajar dari itu, maka jangan sampai program strategis ini hanya jadi milik sekelompok orang saja, tetapi harus menjadi milik bersama. Bangsa sebesar Indonesia dengan berbagi kampus terbaik dibidang otomotif tidaklah mungkin kalau hanya dikerjakan satu orang atau satu pihak. Kebersaam dan kolekativitas kerja sangatlah dibutuhan.
Proyek masa depan mobil listrik nasional ini jelas merupakan proyek yang tidak main-main. Artinya, kalau pekerjaan ini dikerjakan secara serius, bukan saja akan menjadi jawaban akan krisis energi BBM yang setiap saat membayangi negeri ini, tetapi juga akan memacu akselerasi industri otomotif di negeri ini. Sudah bukan zamannya lagi negeri ini terus menerus menjadi pasar bagi produk-produk otomotif Negara asing seperti Jepang, Cina maupun korea saja. Kalau negeri ini bisa membuat mengapa harus mendatangkan dari negara lain.
Proyek mobil listrik nasional sesungguhnya juga menjadi momentum membangkitkan harga diri bangsa sebagai bangsa yang besar. Ingat, putra-putra terbaik negeri ini tidak kalah dengan Negara-negara lain. Bahkan dalam bidang otomotif banyak ahli-ahli otomotif dunia yang sesungguhnya adalah putra terbaik negeri ini. Dengan demikian tidak terlalu berlebihan kalau bangsa ini pun memimpikan bisa menjadi raja otomotof di masa mendatang.
Program mobil listrik nasional ini harus kita sukseskan bersama. Maknanya, dukungan penuh masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan. Sebab ini sebagai salah satu solusi untuk mengatasi ketergantungan terhadap BBM. Lagi pula, mobil listrik itu teknologi hijau karena ramah lingkungan.  Perkembangan mobil listrik akan menjadi tren dalam beberapa tahun ke depan. Sebab, banyak faktor yang mendorong mobil listrik harus hadir, seperti langkanya bahan bakar minyak serta meningkatnya polusi udara.
Di luar negeri sudah banyak pabrikan mobil yang mulai memproduksi mobil listrik. Artinya, cita-cita menghadirkan mobil listrik itu merupakan suatu inovasi yang berarti bagi masyarakat Indonesia. Sebab, dengan adanya mobil listrik itu, masyarakat Indonesia ternyata bisa melangkah lebih baik dalam mengatasi masalah kelangkaan dan mahalnya BBM. (bersambung).

Rate this article!
Tags: