Unjuk Rasa Asongan, Hadang KA Sri Tanjung

6-unjukrasa-asonganMadiun, Bhirawa
Untuk yang kesekian kali, puluhan pedagang asongan Stasiun Besar Madiun, kembali melakukan aksi unjuk rasa atas larangan dari pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) berjualan di dalam stasiun, Rabu (5/3).
Aksi pertama, dilakukan di depan pintu masuk stasiun. Mereka menuntut untuk bertemu Kepala Stasiun Besar Madiun Sofwan Hadi. Namun karena pintu masuk menuju peron ditutup dan diblokade oleh Polsuska, sambil mengikatkan pita warna merah putih dan menggantung nasi bungkus di setiap pintu yang ditutup, aksi dilanjutkan ke Kantor Daops VII Madiun yang berjarak sekitar 300 meter dari stasiun. Di sini, mereka minta bertemu dengan Kepala Daop VII Madiun. Lagi-lagi mereka tidak bisa masuk karena blokade dari Polsuska.
Karena gagal bertemu dengan Kepala Daop VII Madiun, pedagang asongan kemudian nekad mau masuk stasiun melalui palang pintu rel kereta api di sisi barat. Lagi-lagi, di tempat ini mereka dihadang oleh Polsuska yang di-backup Marinir. Sempat terjadi aksi dorong antara mereka. Bahkan nyaris terjadi baku hantam. Namun karena kalah jumlah, para asongan memilih mundur.
Situasi nyaris tak kendali ketika KA Sri Tanjung jurusan Jogjakarta-Banyuwangi, datang dari arah barat. Beberapa pedagang asongan berusaha memblokade rel dengan berdiri di tengah rel sambil mengibarkan baju dan kain merah. Tak ingin terjadi sesuatu, beberapa Polsuska langsung berusaha menarik mereka ke pinggir. Situasi pun kian memanas. Pasalnya, para pedagang yang memblokade rel tidak mau menyingkir. Karena sama-sama ngotot, batu hantam kembali nyaris terjadi. Beruntung, beberapa polisi dari Polres Madiun Kota, bisa menenangkan mereka dan berhasil membujuk pedagang yang memblode rel untuk menyingkir dari rel. Apalagi, jarak KA Sri Tanjung dengan mereka tinggal sekitar 100 meter.
Ketua Payuban Pedagang Asongan Stasiun Besar Madiun Hadi Suloso mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan sikap Daop VII yang tidak memberikan solusi terhadap asongan yang dilarang berjualan di dalam stasiun. Apalagi, sebelumnya mereka telah dipungut urunan sebesar Rp 600 ribu/tahun oleh pihak stasiun.
“Kami semua punya keluarga. Bahkan ada yang sudah mengasong di sini selama 40 tahun. Tapi kemudian kami tiba-tiba dilarang berjualan. Sementara tidak ada solusi bagi kami. Lebih dari itu, sebelum ini, kami dipungut Rp 600 ribu tiap tahun. Pokoknya kalau kami tetap tidak boleh berjualan, kami akan terus melakukan aksi demo,”kata Hadi Suloso kepada wartawan.
Menurutnya lagi, selain dipungut Rp 600 ribu tiap tahun, pihak stasiun juga menjual baju seragam kepada pengasong yang harganya dinilai terlalu mahal. Pasalnya, satu helai baju dijual seharga Rp 200 ribu. Itupun seragam sering gonta-ganti. Bahkan baru dua bulan, pihak stasiun sudah menjual baju seragam lagi. Tak hanya itu, meski hanya sebagai pengasong, pada hari Raya Idul Adha, mereka juga dipungut tarikan sebesar Rp 10 ribu.
“Dua bulan seragam sudah ganti. Satu lembar harganya Rp 200 ribu. Tapi kami tidak menolak untuk membeli. Hari Raya Idul Adha, kami dipungut Rp 10 ribu tiap orang, juga kami kasih. Kalau akhirnya seperti ini, kami merasa didzolimi. Mudah-mudahan yang mendzolimi kami, nanti anak-anaknya akan lebih susah dari kami,” tambah Hadi Suloso.
Untuk diketahui terakhir para pedagang asongan melakukan aksi unjuk rasa, Senin (3/3) lalu. Namun dalam perundingan dengan pihak PT KAI Daop VII Madiun, mengalami jalan buntu. Bahkan juga nyaris terjadi baku hantam. [dar]

Tags: