SMI Gelar Demo Lawan Kapitalisasi Pendidikan

halaman 3.jpg (1)Surabaya, Bhirawa
“Pendidikan bermutu itu mahal”, kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah.
Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) dengan lambang bintang merah dan gerigi hitam ini melakukan aksi orasi di depan Gedung Grahadi Surabaya, senin (03/3). Gabungan dari berbagai Universitas di Indonesia ini dalam SMI memprotes karena biaya pendidikan di Indonesia mahal.
Mahasiswa Unesa Fakultas Ilmu Sosial, Reza mengatakan berharap kepada pemerintah agar mewujudkan suatu pendidikan gratis dan demokratis dan bervisi kerakyatan, karena pendidikan yang sekarang menjadi ajang komoditas jual beli kepada pemodal (pengusaha).
“Kami berharap kepada pemerintah untuk mewujudkan pendidikan gratis dari TK sampai Perguruan Tinggi, karena yang saya lihat pendidikan sekarang menjadi ajang komoditas jual beli kepada kaum pengusaha atau pemodal, dari situ dunia pendidikan mulai dimasuki oleh pemodal-pemodal yang ingin mencari keuntungan melalui pendidikan itu sendiri,” tutur Reza selaku Korlap.
Dalam aksi ini dihadiri dari Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) dari perwakilan seluruh cabang seluruh Indonesia yang ada SMInya dan ada dari solidaritas dari buruh untuk mendukung aksi ini,”Aksi ini dihadiri dari SMI seluruh Indonesia yang ada cabang SMInya dan dari solidaritas dari buruh untuk mendukung aksi kami ini,” tambahnya saat ditemui Bhirawa.
Seperti yang diketahui masyarakat bahwa perguruan tinggi yang dulunya terkenal murah tapi nyatanya sekarang mahal,”khususnya di Perguruan Tinggi ini mengalami suatu kenaikan yang cukup signifikan, yang dulunya di tingkatan kampus-kampus yang terkenal murah seperti Unesa tapi hari ini berkisar 3 Juta sampai 6 Juta soal uang kuliah tunggal,” tambahnya.
Risky, mahasiswa dari Universitas Bumi Hijrah Maluku Utara menambahkan dengan adanya agenda Nasional ini juga ingin menyuarakan daerah asal kami di Maluku Utara. Di sana sekarang sekolah-sekolah yang berstatus Negeri di swastakan,” pendidikan di sana yang berstatus negeri tapi sekarang banyak yang diswastakan mas,” tutur Rizky. [geh]

Tags: