Ratusan Ulama Jatim Gelar Mudzakarah Tanggapi Pemilu

Surabaya, Bhirawa
Para ulama se Jawa Timur meras prihatin dengan carut marutnya kondis di Indonesia.  Sebanyak 400 lebih ulama se-Jatim dan 79 ulama tamu seluruh Indonesia menggelar Mudzakarah Ulama di Hall Mina Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Sabtu (08/03).
Dalam Mudzakarah ini para ulama menyoroti kondisi Indonesia yang carut marut seperti kesejahteraan, korupsi, intervensi asing dan lain-lain yang bisa mengarah kepada krisis multidimensi.
Dalam Pemilu sebagai salah satu jalan untuk memperbaiki kondisi di Indonesia, para ulama mengingatkan agar masyarakat benar-benar memilih calon legislative yang benar tindakannya.
Salah satu ulama Mudzakarah Ulama, Kyai Abdul Qayyum dari ulama Jawa Timur yang juga pengasuh Majelis Taklim Pondok Bambu Al Islam Malang mengatakan para ulama hanya mengarahkan umat untuk memberikan penilaian sebaik-baiknya terhadap apa yang akan dipilihnya dalam pemilihan umum mendatang.
Karena dalam sudat pandang para ulama dalam keputusan memilih tersebut terdapat pertanggung-jawaban pada masing-masing individu. “Mengenai Pemilu, para ulama akan mengarahkan umat dan masyarakat kepada hak mereka. Karena mereka mempunyai hak untuk memilih, dipilih dan tidak memilih,” kata Abdul Qayyum.
Peran ulama di Jawa Timur melaksanakan tugas bagi masyarakat yang terbaik selama jalannya pemilu berlangsung, dan demokrasi adalah salah satu sistem yang sejak zaman dahulu itu tidak pernah terwujud kebenarannya,
“Sejauh ini, setiap Jalannya Pemilu berlangsung para ulama di Jatim bertugas untuk memberikan nasehat pada masyarakat yang terbaik, Tetapi yang perlu diingat adalah dalam Islam, kalau kita memilih sesorang, dan orang itu benar tindakannya serta adil menjalankan hukum kita tetap mendapatkan pahalanya. Tetapi jika orang yang dipilih tersebut melakukan kedzoliman serta penyelewangan aturan umat, maka yang memilih ini juga akan kebagian dosa,” jelasnya.
Menjelang Pemilu, para ulama menilai hanya dilibatkan sebagai vote geeter saja sehingga tidak sedikit ulama yang kemudian meninggalkan binaannya di pondok pesantren untuk terjun ke politik praktik dalam bentuk terlibat di pancalegan dan Pilkada, sehingga rentan terhadap praktik korupsi yang justru menjerumuskan para ulama dalam konotasi yang negatif.
Abdul Qayyum juga menambahkan adanya sistem demokrasi mulai dari dunia politik, ekonomi, sosial, budaya, sampai sekarang ini makin hancur sistem demokrasinya,”Seperti halnya para politikus hanya mengurusi kepentingan individu, dan dari segi ekonomi hanya membuka peluang bagi kalangan yang punya modal itu yang menang,” tambah Abdul Qoyyum.
Menurut Abdul Qoyyum pemilu itu ibarat casingnya demokrasi sehingga dengan adanya pemilu seolah-olah adil,”dan pemilu itu ibarat casingnya demokrasi, karena dengan adanya pemilu itu adalah seolah-olah adil karena dari rakyat untuk rakyat,” imbuhnya. [geh]

Tags: