Perkawinan Dibawah Usia di Jatim Tinggi

Surabaya, Bhirawa
Tingginya angka usia perkawinan pertama di Jatim, membuat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim mengambil sikap. Dari data yang dihimpun di lapangan rata-rata usia perkawinan pertama di Jatim berumur di bawah 20 tahun.
Plt BKKBN Jatim Suhartuti MM menyatakan, dalam kontrak kinerja pemerintah (KKP) dengan BKKBN Pusat, upaya penurunan usia perkawanian pertama remaja dibawah umur di Jatim belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
Dalam KKP menyebutkan penurunan usia perkawanian pertama sebesar 14,83 persen akantetapi Jatim masih diatasnya yaitu 19,08 persen. Menurutnya, dari data yang ada pada bulan Januari-Oktober 2013, jumlah wanita yang nikah di Jatim mencapai 276.761 orang dan 19,08 persen remajanya nikah mudah. ”Jadi angkanya masih tinggi dan menjadi PR bagi BKKBN Jatim,” ujarnya.
Wanita berjilbab ini menjelaskan, banyaknya usia perkawanian pertama disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah kurang pahamnya remaja tentang kesehatan reproduksi, kurang sosialiasi dan pendampingan dari orang tua, serta masalah ekonomi. ”Masalah-masalah ini yang menyebabkan remaja melakukan pernikahan dini sehingga banyak yang memutuskan untuk nikah muda atau dibawah umur,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut menurutnya sangat memprihatinkan, karena wanita yang nikah muda rentan berbagai penyakit. “Padahal, perkawinan dini ini sangat rentan bagi kesehatan wanita. Sebab, rawan terkena kanker serviks, mudah mengalami keguguran hingga anak yang akan dilahirkan memiliki resiko kecacatan. Secara psikologis, menikah usia muda emosinya masih labil,” ungkapnya
Ditanya daerah mana yang banyak nikah mudahnya adalah untuk daerah yang wanitanya hobi nikah muda banyak ditemukan di kawasan Tapal Kuda dan Madura. Yang paling banyak nikah muda adalah wanita asal Kabupaten Probolinggo sebanyak 4.077 orang. Bahkan di sana ada wanita usia 14 tahun yang telah melahirkan.
“Sesuai dengan usia ideal pernikahan pertama adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Ternyata jumlah wanita yang nikah di bawah usia 21 tahun cukup banyak di Jatim. Tentu saja kondisi ini tak bisa dibiarkan,” tegasnya.
Kedepan Suhartuti menghibau, semua pihak untuk berkejasama dalam menurunkan angka penernikah muda. Menurutnya, pernikahan dini sendiri juga berimbas dengan kenaikan laju pertumbuhan penduduk. ”Meski belum ada penelitian secara ilmiah, kebanyakan mereka yang kawin usia muda ada kecenderungan memiliki anak banyak. Sebab, usia subur mereka cukup panjang sehingga potensi melahirkan beberapa kali masih terbuka lebar,” jelasnya. [dna]

Tags: