Kerajinan Limbah Akar Kayu Jati Bojonegoro Tembus Pasar Internasional

Tingginya Permintaan Tak Ditunjang Permodalan
Kabupaten  Bojonegoro, Bhirawa
Selain terkenal kayu jatinya, Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro dikenal sebagai sentra produksi kerajinan. Warga di sana memanfaatkan limbah akar kayu jati (tunggak) sebagai bahan membuat berbagai barang berharga, seperti meja, kursi, asbak, lemari, tempat lampu dan masih banyak lagi. Menariknya, kerajinan asal Kecamatan Margomulyo  sekarang ini sudah merambah ke sejumlah pasar internasional baik benua Asia, Afrika, Eropa, Australia maupun Amerika.
Salah satu kerajinan kayu jati yang sudah go international adalah  milik Anik Suswari (45), warga Desa Geneng. Dengan bangga Anik mengatakan usaha yang dirintisnya sejak 2010 lalu itu selain diminati pasar lokal juga pasar dunia.
” Alhamdulillah, sejak empat tahun lalu usaha saya terus berkembang. Awalnya dari coba-coba,tak disangka permintaan cukup besar, bahkan hasil kerajinan kami dapat tempat dari pasar luar negeri,” jelasnya.
Untuk  pasar Indonesia , permintaan tertinggi berasal dari Jogjakarta, Semarang, Bali dan Cirebon. Mereka rata-rata  pesan kerajinan setengah jadi yang belum di-finishing. ” Rata-rata mereka memesan kerajinan sesuai dengan keinginan mereka. Dari desain yang diberikan, kita buat setengah jadi, sebab untuk finishing kita tidak menyediakan,” terangnya.
Sementara itu, untuk pasar internasional kerajinan miliknya sering dipesan oleh warga Australia, Amerika, Belanda, Jerman dan  Afrika. Mereka sudah mengakui kualitas limbah akar kayu jati yang ada di Bojonegoro memiliki kualitas lebih bagus dibandingkan dengan negara mereka.
“Untuk yang luar negeri, mereka memesannya melalui online. Kita memiliki alamat website hingga jejaring sosial, sehingga bisa diakses di seluruh dunia,” imbuhnya.
Anik menceritakan saat awal merintis usaha dulu dia mengaku sempat frustasi. Gara-garanya dia beberapa kali pernah jadi korban penipuan.  Bermodal kepercayaan, dia mengirim barang sesuai pesanan kepada pembeli yang mampir ke gerainya. Namun setelah barang dikirim ke alamat tujuan, pemesan tidak mentransfer uang sepersen pun.
” Kita awal-awal membangun usaha kerap tertipu, seperti pemesan dari Bali dan nilainya tak sedikit, antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta. Waktu dapat pesanan, awalnya senang sekali, tapi nyatanya setelah barang dikirim uang tidak ditransfer,” tegasnya.
Beberapa kali tertipu membuat cash flow usahanya sempat terganggu. Karena dia harus membayar pekerja dan biaya operasional lain. Namun hal itu tidak membuatnya patah semangat. Dia tetap bekerja keras, membuka jaringan dan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam berbisnis.
Untuk mendapatkan uang segar, Anik hingga  menjual usaha lainnya yakni dua unit kendaraan huler yang dimilikinya. Hasil penjualan itu dimanfaatkan untuk modal bangkit berbisnis kerajinan kembali.
” Sekarang kita benar hati-hati dan selektif dalam melayani pemesanan. Kita  akhirnya menerapkan prinsip, ada uang ada barang. Jadi kalau hanya bayar uang muka dulu, kita  belum berani kirim,”tandasnya.
Untuk sekarang ini jumlah pekerja yang dimiliki mencapai sekitar 40 orang, mereka berasal dari wilayah sekitar. Keinginannya memang  untuk mengurangi angka pengangguran dan  meningkatkan perekonomian warga sekitar.
“Awalnya tidak banyak, cuma tiga orang pekerja. Setelah kerajinan maju pesat, kita menambah pekerja lagi hingga ada  total 40 pekerja. Jumlah itu belum ditambah puluhan pekerja yang mencari akar kayu jati di hutan,” urainya seraya mengatakan modal awal usaha membuka kerajinan dulu sebesar Rp 15 juta.
Ibu dua anak ini juga menambahkan harga jual kerajinan dari akar kayu jati bervariatif tergantung besar kecil barang yang dipesan. Untuk ukuran kecil mencapai Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu, untuk ukuran sedang seperti kursi mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, dan ukuran besar bisa mencapai Rp 200 ribu ke atas.
Dari ratusan perajin yang ada di wilayahnya,  masih belum mendapatkan perhatian penuh dari pihak Pemkab Bojonegoro.   Selama ini mereka mengandalkan kemandirian masing-masing untuk mengawali usahanya. ” Selama ini para perajin yang ada di sini mandiri semua, dan tak ada respon dari Pemkab Bojonegoro. Harapannya  pemerintah setempat  ikut membantu,” ujarnya.
Misalnya memberikan bantuan permodalan karena banyak perajin terkendala urusan modal usaha. Selain itu bisa dibantu peralatan lengkap untuk membuat kerajinan hingga peralatan finishing.
“Banyak perajin menggunakan cara manual dalam bekerja, belum ada bantuan alat modern dari pemkab setempat. Rata-rata yang dimiliki sarkel, mesin bubut dan remplas listrik,” imbuhnya.
Dijelaskan Anik, meskipun sudah memiliki paguyupan perajin, namun hal itu masih belum membantu untuk mendapatkan bantuan permodalan dari instansi terkait di Pemkab Bojonegoro.  Paguyupan bernama Jati Aji itu saat ini membawahi sekitar ratusan perajin yang tersebar di Kecamatan Margomulyo, Tambakrejo dan Ngraho. [bas]

Tags: