Capres Dongkrak Bursa Saham

Politik memang sering bertautan dengan perekonomian. Hal itu ditunjukkan dengan respons pada perdagangan saham maupun pasar uang. Ingat, ketika pak Harto dilengeserkan, perekonomian nasional turut melorot tajam. Meski tidak secara langsung mengendalikan politik, kalangan pengusaha lazim merespon even politik utama sebagai tolokukur iklim usaha. Lebih lagi pilpres (pemilihan presiden) akan menjadi “kalkulator” baru pengusaha untuk menghitung investasi.
Aktivitas investor pada perdagangan pekan lalu sampai membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 152 basis poin, atau naik 3,2%. Ini posisi  tertinggi sepanjang tengah semester tahun 2014. Pelonjakan bersamaan dengan deklarasi pencalonan presiden Joko Widodo (Jokowi) oleh PDIP. Boleh jadi pelonjakan IHSG merupakan euforia pemodal, seolah-olah menggambarkan kesukaan pada Capres tertentu.
Melonjaknya IHSG diyakini sebagai sentimen lokal. Buktinya, bursa di kawasan Asia (regional) malah banyak yang anjlok. Rupiah juga terus menguat ke level Rp 11.280-an per-dolar AS. Sayangnya, investor lokal terburu-buru ambil untung dengan menjual saham. Sedangkan investor asing malah melakukan aksi beli sampai lebih dari Rp 2 trilyun.
Euforia bursa saham terhadap pencapresan, karena Jokowi dianggap mampu menggenjot pembangunan infrastruktur. Wajar saja mengingat isu sarana prasarana menjadi masalah utama perekonomian Indonesia. Sentimen positif, khususnya kepada IHSG atau Rupiah, akan dipengaruhi persepsi pasar terhadap kandidat. Bukan hanya kepada Jokowi, melainkan juga Capres dan Cawapres lain yang dianggap punya kemampuan mengatasi persoalan infrastruktur.
Sebenarnya apresiasi terhadap Jokowi tergolong wajar. Mengingat Gubernur DKI Jakarta itu selama ini (dan sebelum menjadi Walikota Solo) dikenal sebagai pengusaha sukses. Apalagi pasar sejak lama merasa Jokowi, sapaan sang gubernur dari PDIP itu, sebagai calon presiden ideal. Tetapi euforia pasar modal, pasti ada batasnya. Sehingga investor harus tetap ekstra waspada, terutama pada sektor reksadana. Disiplin pengalokasian aset harus menjadi pertimbangan utama.
Jokowi sejak enam bulan terus memimpin pada isu figur calon presiden RI tahun 2014-2019. Seluruh lembaga jasa survei memapar hasil yang sama: Jokowi teratas. Bahkan jika dipasangkan dengan siapapun, nama Jokowi (bersama pasangannya) tetap unggul. Pada hasil survei yang dilakukan oleh Cirus Surveyors Grup (CSG), Jokowi bisa meraih single majority manakala disadingkan dengan Jusuf Kalla.
CSG merilis survei yang dilakukan selama bulan Pebruari hingga 8 Maret 2014. Berbagai nama coba di-chemstry, dengan pengkhususan empat nama Capres Aburizal Bakri (ARB), Jokowi, Prabowo Subianto, serta Wiranto. Sedangkan nama Cawapres terdiri dari sembilan nama. Hasilnya, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla meraih dukungan single majority (57,3%). Posisi kedua (47,6%) diperoleh Mahfud MD manakala di-Cawapreskan bersama Capres Jokowi.
Nama Jusuf Kalla, memang masih memiliki magnitude besar pada tataran Cawapres. Misalnya pada chemistry dengan Prabowo diperoleh dukungan 26,5%. Tetapi pasangan ini masih dibawah dukungan untuk pasangan Jokowi-hatta Rajasa (44,7%). Hasil survei pasangan utak-atik Capres-Cawapres yang dilakukan oleh CSG, memang tidak menggambarkan apapun. Misalnya, mengapa tidak memasangkan Jokowi-Dahlan Iskan?
Padahal dalam simulasi kontestansi tiga pasangan, nama Dahlan Iskan memperoleh dukungan cukup besar. Pasangan Prabowo-Dahlan Iskan, berada di posisi kedua dengan memperoleh 20,5% responden. Dukungan itu jauh di atas ARB-Mahfud MD yang memperoleh 9,9%. Tetapi memang kalah telak oleh pasangan Jokowi- JK (52,8%).
Hingga kini belum ada satupun parpol (maupun koalisi parpol) yang mendeklarasikan pasangan Capres-Cawapres. UU Nomor 42 tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wapres, masih mengamanatkan “Pilpres di belakang pileg.” Pada pasal 9 mensyaratkan perolehan 20% kursi DPR atau 25% suara pileg. Analognya, andai benar Jokowi direspons luas, maka parpol pengusungnya akan beruntung pula di pileg.

000

Rate this article!
Tags: