BAPETEN Tertarik Pelajari e-Government

Karo-bapetenPemkot Surabaya, Bhirawa
Keberhasilan Kota Surabaya meraih penghargaan FutureGov level Asia-Pasifik untuk kategori Data Center dan Data Inclusion melalui Broadband Learning Center (BLC) tahun lalu mengundang perhatian Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).
Namun, kunjungan BAPETEN ke Kota Pahlawan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ancaman radiasi nuklir, melainkan untuk belajar penerapan e-Government (e-Gov) dari Pemkot Surabaya.
Rombongan BAPETEN sebanyak 11 orang yang dipimpin Kepala Biro Perencanaan Yusri Heni Nurwidi Astuti diterima Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di balai kota, Selasa (4/3). Pada kesempatan tersebut, Wali kota memaparkan tentang proses penerapan e-Gov, mulai dari sejarah hingga implementasi saat ini.
Risma tak memungkiri bila menjalankan e-Gov bukan perkara instan. Dibutuhkan proses panjang. Pemkot sendiri, kata Risma, memulai perjuangan mengkonsep e-Gov sejak 2003. Saat itu, walikota perempuan pertama di Surabaya ini masih menjabat Kepala Bina Pembangunan (saat ini Bina Program).
“Pada masa itu, tim pemkot yang kesemuanya PNS harus rela pulang larut malam selama enam bulan berturut-turut,” kenangnya.
Berawal dari usaha “memeras keringat” itu, kini Kota Surabaya bisa memetik hasilnya. Sistem yang digodok dengan susah payah sekarang terbukti mampu menjadi tulang punggung pelaksanaan birokrasi kota. Tidak hanya itu, pelaksanaan e-Gov Surabaya bahkan mampu menyabet penghargaan di tingkat internasional. Alhasil, banyak daerah/negara lain yang berkunjung guna mempelajari sistem e-Gov Surabaya lebih mendalam.
Risma mengatakan, sebenarnya tujuan pemkot menggagas e-Gov sangat simpel. Yakni hanya untuk mempermudah kinerja birokrasi sehingga masyarakat dapat terlayani dengan baik. Sama sekali tidak ada niatan untuk bagus-bagusan apalagi mendapat penghargaan.
“Penghargaan bukan tujuan utama kami, yang penting adalah bagaimana publik dapat terlayani dengan baik,” paparnya.
Sementara itu, Yusri menjelaskan salah satu tugas pokok BAPETEN adalah menjalankan pengawasan terhadap rumah sakit (RS) dan industri. Untuk RS khususnya yang memiliki layanan radiologi. Hal itu bertujuan guna menjamin keselamatan pasien dari radiasi.
Selama di Surabaya, BAPETEN fokus mempelajari Data Center, BLC, dan perpustakaan umum di Balai Pemuda. Menurut Yusri, pihaknya menganggap data center penting utamanya untuk menanggapi keluhan masyarakat. “Biasanya masyarakat banyak mempertanyakan dampak rontgen pada tubuhnya,” ujar pejabat berjilbab ini.
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (diskominfo) Surabaya, Antiek Sugiharti. Dikatakan Antiek, data yang terintegrasi merupakan hal krusial dalam setiap pengambilan kebijakan. Misalnya, untuk intervensi warga yang kurang mampu, pemkot membutuhkan sistem data yang kompleks. Artinya, tidak hanya data kependudukan yang dijadikan acuan, melainkan juga data pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. [dre]

Tags: