AC Diduga Ditimbun di Rumah Penjaga Sekolah

Sidoarjo, Bhirawa
Walaupun menyumbang Air Condition (AC) seharga Rp3,5 juta kepada pihak sekolah namun Wajah Astini (nama samara) benar-benar sumringah. Dengan cara itu dirinya tak perlu merogoh kocek Rp7,5 juta untuk menuruti kemauan oknum yang mengaku bisa meloloskan anaknya yang dibawah 7 tahun masuk sekolah favorit itu.
Di Jl Pucang, Jenggolo atau tepat di samping timur pendopo kabupaten berjajar 4 SDN yang dikenal memiliki segudang prestasi pada anak didiknya. Sekolah itu adalah Pucang I, II,III dan IV.  Keempatnya memiliki kualitas yang merata, sehingga banyak orang tua yang memaksakan anaknya diterima di sekolah itu kendati usianya dibawah 7 tahun. Sesuai aturan siswa yang di atas 7 tahun mendapat prioritas diterima.
Namun orang tua yang usia anaknya belum mencapai batasan usia kerap memaksakan diterima, sehingga ibarat ada gula ada semut. Kesempatan menarik ini digunakan oknum untuk mengeruk keuntungan dengan menjual tiket masuk. Tentu saja oknum ini harus memiliki akses dengan kepala sekolah. Ada dua jalur untuk menerobos masuk di sekolahan, biasanya ada guru Taman Kanak-kanak yang menjadi makelarnya. Guru itu menawarkan kesempatan ini kepada wali murid, tentu saja guru ini sudah mengenal usia TK yang akan menginjak sekolah dasar.
Transaksi liar pun dilakukan sebelum beredar pengumuman penerimaan resmi dari Diknas. Siswa yang belum 7 tahun ditawari masuk  SDN Pucang. Salah satu SDN itu, misalnya tawarannya lucu cukup menyediakan AC baru ukuran 2,5 PK. Mereknya boleh bebas apa saja, yang penting ukurannya 2,5 PK. Kalau tak bisa membeli AC sendiri, bisa diganti dengan  menyetorkan uang senilai Rp7,5 juta. Nominal uang dengan harga AC sebenarnya tidak relevan, terkesan hanya meminta kapasitas AC yang besar tanpa memikirkan beaya pemakaian listrik. Padahal AC sekarang untuk pemakaian ruang kelas diberi ukuran 1 PK saja sudah dingin.
Saat Harian Bhirawa menengok ruang kelas ternyata AC yang dipasang di situ hanya ukuran 1 PK saja. Lalu ke mana saja AC 2,5 PK sumbangan walimurid ? Konon menurut sumber Bhirawa di ruang kerja kepala sekolah itu ada tumpukan dos AC yang masih baru, bahkan di rumah penjaga sekolah juga jadi tempat penyimpanan.
Jalur lain yang ringkas dan cepat selesai adalah menemui kepala sekolahnya. ”Saya nekad menemui kepada sekolah untuk negoisasi,” tandasnya.
Akhirnya anaknya yang berusia 6,8 tahun bisa diterima asalkan menyumbang AC atau uang Rp7,5 juta. Tentu saja pilih sumbang AC yang hanya seharga Rp3,5 juta saja. Bodohnya kalau mau memberi uang. Penyerahannya langsung diantarkan ke sekolah dan tanpa tanda terima.  Pihak sekolah tak mau memberi tanda terima karena ini tak resmi. Yang saling mengerti dan tahu sama tahu, ujarnya. Kasus ini tidak sampai mcuat karena murid di sekolah itu umumnya anak pejabat penting di Sidoarjo maupun di Surabaya. Jadi aman-aman saja saling melindungi karena dasarnya sama-sama membutuhkan
Tidak semua SDN Pucang melakukan sistem inden, masih ada yang patuh pada ketentuan Diknas dengan tak mendahului penerimaan siswa sebelum ada pengumuman penerimaan secara resmi dari Kantor Diknas.
Ia membenarkan, selebihnya tak ada pungutan lagi. Karena memang sekolah negeri dilarang memungut uang gedung. Kalau inisiatit komite tak masalah, seperti ada yang menyumbang untuk pembangunan toilet atau taman, untuk pagar dan mengecat ruang kelas.
Kadiknas Sidoarjo, Mustain Baladan, menyatakan, tidak boleh ada inden dan pihaknya mnelarang keras sekolah memungut biaya sebelum ada pungumuman resmi dari Kantor Diknas. ”Pokoknya jangan macam-macam,” paparnya. Ia meminta jalankan sesuai aturan.
Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah SH, mengaku belum tahu tentang perkembangan kasus ini. Ia memanggil staf ahli, M Syafik, untuk mengumpulkan kliping berita SDN Pucang. [hds]