Gubernur Jatim datangi Komisi II DPR

walikota-risma-pusingBahas Polemik Risma
Pemprov, Bhirawa
Gubernur Jatim Dr H Soekarwo SH, MHum memenuhi panggilan Komisi II DPR RI terkait polemik Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Rencananya, acara rapat dengar pendapat itu juga melibatkan Menteri Dalam Negeri di Senayan Jakarta, Rabu (26/2) malam.
“Nanti jam 19.00 akan ada klarifikasi dengan Komisi II bersama Mendagri di Jakarta. Saya diundang untuk melakukan klarifikasi terkait laporan Wali Kota Surabaya ke DPR soal pelantikkan Wakil Wali Kota Surabaya,” kata Soekarwo ditemui sebelum berangkat ke Jakarta, Rabu (26/2) pagi.
Soekarwo mengaku tidak tahu apakah Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya juga diundang dalam acara tersebut. Meski demikian, ia menyambut baik undangan tersebut agar polemik ini tidak berlarut-larut. Namun  Ketua DPD Partai Demokrat Jatim ini memastikan akan menjelaskan duduk persoalan proses pemilihan hingga dilantiknya Wisnu Sakti Buana sebagai Wakil Wali Kota Surabaya menggantikan Bambang DH.
Karena ada undangan tersebut, lanjutnya, rapat evaluasi penanganan bencana Kelud yang sedianya akan digelar malam nanti (kemarin malam, red) ditunda. “Untuk evaluasi penanganan bencana Kelud ditunda dulu karena ada undangan ini,” jelasnya.
Untuk diketahui Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyoal terpilihnya Wisnu Sakti Buana sebagai Wakil Wali Kota tidak sesuai prosedur. Bahkan, mencuat ada pemalsuan sejumlah tanda tangan panitia pemilihan (Panlih). Atas polemik itu, Risma sempat mengadu ke Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso.
Begitu polemik mencuat, Soekarwo sudah meminta kepada Risma untuk menyelesaikan persoalan sesuai hukum yang berlaku. “Terkait prosesnya, silakan ke Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Sedangkan terkait dugaan pemalsuan tanda tangan Panlih (Panitia Pemilihan), silakan melalui hukum pidana,” ujar Soekarwo .
Tak hanya Gubernur Soekarwo, Komisi II DPR RI memanggil sejumlah unsur pemerintahan untuk membahas persoalan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.  Pejabat yang dipanggil di antaranya  Mendagri Gamawan Fauzi dan Risma.   Selain memanggil ketiganya, Komisi II juga ikut memanggil Ketua dan Sekretaris DPRD Kota Surabaya, Pantarlih Wakil Wali Kota Surabaya, serta Kabiro Hukum Kemendagri.  “Rapat terkait proses pemilihan Wakil Wali Kota Surabaya,” ujar anggota Komisi II Nurul Arifin saat dikonfirmasi via telepon.
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengaku tak tahu apa materi yang akan dibahas dalam pertemuan yang diinisiasi Komisi II DPR terkait persoalan yang dihadapi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. “Ya nggak tahu, yang ngundang DPR kan. Bukan saya. Lihat nanti apa yang mau ditanyakan,” kata Gamawan seusai menghadiri Rapat Kerja VI Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Tahun 2014 di Jakarta, Rabu (26/2) siang.
Menurut Gamawan, mekanisme dan prosedur pengangkatan Wisnu sudah memenuhi syarat formal sehingga Kemendagri mengeluarkan SK pengesahan dan pengangkatannya. “Ya kita tidak mungkin meng-SK-kan kalau tidak memenuhi syarat. Jadi, kan Mendagri itu mengesahkan hasil proses di bawah,” katanya.
Ia menambahkan, dalam mekanisme pergantian wakil kepala daerah, DPRD mendapatkan usulan pengganti dari kepala daerah. Kemudian, DPRD melakukan pemilihan dan selanjutnya hasil pemilihan tersebut diserahkan kepada gubernur. “Dari gubernur diteruskan ke kami. Secara formal, mekanismenya semua sudah terpenuhi. Persyaratan sudah dipenuhi. Ya kita tunggu saja apa masalahnya,” katanya.
Dari Surabaya, Risma memastikan tak akan hadir memenuhi undangan mediasi oleh Komisi II DPR tersebut. Alasannya, dia masih sibuk dengan acara Forum Sampah Internasional yang dihadiri puluhan menteri negara se-Asia Pasifik.  “Kalian kan tahu, saya lagi banyak tamu luar negeri, saya juga sibuk menjadi pembicara di forum diskusinya,” kata Risma singkat seusai peluncuran Eco Mobile di SDN Kaliasin VII Surabayai.
Proses pemilihan Wakil Wali Kota Surabaya yang akhirnya menetapkan Whisnu Sakti Buana masih disoal eks Panitia Pemilihan. Meski Whisnu telah mendapatkan SK dari Mendagri dan sudah dilantik Gubernur Jatim, ternyata 4 (3 unsur pimpinan dan 1 anggota-red) eks Panitia Pemilihan (Panlih) Wawali Surabaya terus menyoalkannya dan menilai pemilihan tersebut tidak prosedural. Isu soal pemilihan Whisnu itu kemudian bergulir bak bola salju. Bahkan dari isu ini muncul kabar Risma berniat mengundurkan diri.
Risma pun mendatangi parlemen dan bertemu wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Di sana dia meminta Priyo meninjau ulang diangkatnya Wisnu  Ketika ditanya kenapa melapor ke Priyo dan bukan ke Megawati, Risma mengaku segan bertemu dengan pimpinannya di partai banteng hitam itu. Langkah Risma ini kemudian menjadi alasan partai lain mendekatinya jelang pemilu tahun ini. Terkait curhatan ini, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santo berjanji akan memanggil Gubernur Jatim dan Mendagri, terkait dugaan kecurangan pengangkatan Whisnu Sakti Buana.

Harus Pamit
Terkait keluhan Risma, Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani ikut buka suara.   Puan menilai, kalau pun memang pendekatan dari partai lain itu nyata dan Risma tergoda, ia meminta Wali Kota Surabaya itu keluar baik-baik. “Apa pun itu, mau keluar atau tetap tinggal harus tunjukan etika. Kalau iya keluar, harus pamit,” kata Puan.
Namun, Puan mengingatkan Risma, PDIP adalah keluarga. Karenanya, ia pun menyesalkan pernyataan Risma yang segan bertemu Ketua umum Megawati Sukarnoputri untuk membicarakan masalah keabsahan pemilihan wakil wali kota Wisnu Sakti Buana.
Karenanya, ia pun sulit membenarkan alasan Risma memilih bertemu pihak lain ketimbang Megawati. Apalagi, ia yakin Megawati tak mungkin enggan atau menolak bertemu Risma. “Kalau ingin bertemu silakan ke saya. Apa yang ingin dibicarakan nanti saya pertemukan dengan Ibu ketua umum,” ujar dia.
Sebelumnya, Risma mendatangi parlemen dan bertemu wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Di sana dia meminta Priyo meninjau ulang diangkatnya Wisnu  Ketika ditanya kenapa melapor ke Priyo dan bukan ke Megawati, Risma mengaku segan bertemu dengan pimpinannya di partai banteng hitam itu. Langkah Risma ini kemudian menjadi alasan partai lain mendekatinya jelang pemilu tahun ini. [iib.ira.geh]

Rate this article!
Tags: