17 Desa di Kabupaten Tuban Dilanda Krisis Air

Petugas Badan Penangulangan bencana (BPBD) Kabupaten Tuban saat mendroping air bersih di Dusun Gowah, Desa Jadi, Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban.

(Jalan Tiga Kilometer Ke Hutan untuk Dapatkan Air Bersih)

Tuban, Bhirawa
Meski sudah menurun dibanding tahun sebelumnya, ternyata hingga bulan Agustus tahun 2019 ini, masih ada 17 Desa di wilayah Kabupaten Tuban, yang tersebar pada tujuh Kecamatan di Bumi Wali, masih kekurangan air bersih pada musim kemarau tahun ini.
Dari ke tujuh belasa desa tersebut, terparah ada di Desa Dagangan, Kecamatan Parengan, ada sekitar enam dusun mengalami krisis air bersih. Setiap musim kemarau desa ini di pastikan kekurangan air. Hal itu dibenarkan oleh Abdul Wahab Kepala Desa (Kades) setempat.
“Iya Benar, jika musim kemaru desa dagangan selalu krisis air,” Kepala Desa Dagangan, Abdul Wahab, (30/8).
Mantan aktifis Pergerakan Mahasiwa Islam (PMII) ini juga menambahkan, jika musim krisis air bersih seperti saat ini, warga memanfaatkan air bersih yang berada di kawasan hutan dengan jarak kurang lebih 3 KM, karena air bersih yang ada di kawasan pemukiman sudah tidak mencukupi lagi.
“Ini kalau ingin mengambil air bersih, jalan menuju hutan sekitar 3 kilo,” katanya.
Ditempat berbeda, Gaguk Hariyanto Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban, membenarkan dan mengatakan pihaknya sudah menjadwal pendistribusian air bersih jilid II ke tujuh kecamatan yakni, Semanding, Grabagan, Parengan, Senori Rengel, Parengan, Kerek dan Montong.
“Untuk tahap II ada 17 Desa di tujuh kecamatan yang ada,” katanya.
Ditambahkan, kekeurangan air bersih pada tahun ini dan pada bulan yang sama, tidak begitu parah dibanding tahun sebelumnya. Di tahun 2018 ada sekitar 31 desa di tujuh kecamatan. Alasan menurunnya, karena banyak daerah yang sudah teraliri Hipam yang di daerah sekitar.
“Dibandingkan kemarin, tahun ini menurunn di periode yang sama,” terangnya.
Untuk diketahui, di tahun 2015 ada sekitar 43 desa yang mengalami kekeringan, kemudian 2016 terjadi kemarau basah sepanjang tahun, untuk 2017 ada sekitar 35 desa yang krisis air bersih. Sedangkan tahun 2018, ada 51 titik kekeringan yang tersebar di 11 kecamatan di seluruh wilayah Bumi Wali. (Hud)

Tags: