166 Warga terkena DBD, Tiga Orang Meninggal

Kusumawati

Sumenep, Bhirawa
Setidaknya 166 warga Sumenep terkena Demam berdarah Dengue(DBD) dan tiga orang diantaranya meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan, dr. Fatoni melalui Kapala Bidang Pencegahan, Pemberantasan, Pengendalian Penyakit Masalah Kesehatan Masyarakat, Kusumawati menyatakan, jumlah penderita penyakit DBD yang dirawat di rumah sakit, baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit Daerah Moh. Anwar relatif banyak.
Namun, angka itu terus ditekan sehingga tidak sampai dinyatakan KLB (kejadian luar biasa). “Sejak Januari hingga tanggal 11 Februari ini, total penderita DBD di Sumenep sebanyak 166 orang. Kami terus lakukan antisipasi-antisipasi agar tidak terus meningkat,” kata Kusumawati, Kamis (21/2).
Data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumenep, sebanyak 166 warga terkena penyakit DBD. Data tersebut terhitung sejak awal Januari hingga tanggal 11 Februari 2019. Perinciannya, penderita DBD pada bulan Januari sebanyak 157 orang dan Februari (per tanggal 11) sebanyak 9 orang.
Menurutnya, dari 166 kasus DBD itu, sebanyak 3 penderita meninggal dunia. Pasien yang tidak bisa diselamatkan nyawanya itu tersebar di Kecamatan Gapura, Dasuk dan Pragaan. Tiga penderita yang meninggal dunia itu terjadi pada bulan Januari, sedangkan bulan ini nihil.
“Kalau penyebaran penderita DBD sejak Januari tetap seperti pada tahun-tahun sebelumnya, yakni di Kecamatan Kota, Pragaan dan Manding,” ucapnya.
Lebih lanjut ia memaparkan, untuk mengantisipasi bertambahnya penderita DBD, Dinkes setempat berharap agar masyarakat lebih memperhatikan kebersihan dilingkungan rumahnya dengan membiasakan pola 3M yakni menutup, menguras dan menimbun. Dengan pola 3M dilingkungan rumah, dipastikan bisa mengurangi berkembangbiaknya nyamuk yang menyebabkan penyakit DBD tersebut. “Pola 3M ini lebih efektif dalam memberantas bibit nyamuk sebagai penyebab munculnya penyakit DBD. Kalau fogging kurang efektif karena selain berdampak positif juga berdampak negatif, bisa menyebabkan polusi. Untuk itu lebih baik masyarakat membudayakan 3M itu sebelum jatuhnya korban akibat DBD,” tegasnya.
Catatan Dinas Kesehatan, pada tahun 2015, Sumenep merupakan salah satu kabupaten yang dinyatakan KLB DBD, karena penderita DBD mencapai ribuan orang dalam satu tahun. Kendati demikian, melihat siklus lima tahunan, tahun ini dipastikan tidak akan terjadi KLB DBD lagi karena sejak Januari hingga sekarang penderita DBD dapat ditekan sedemikian rupa.
“Pemerintah akan terus berupaya dengan cara sosialisasi hidup bersih dan membiasakan 3M tersebut agar penderita DBD bisa ditekan. Selain itu, masyarakat juga harus cepat memeriksakan anggota keluarganya di tempat-tempat pelayanan kesehatan jika ditemukan tanda-tanda penyakit DBD,” harapnya.
Ia menambahkan, di setiap pelayanan kesehatan yakni Puskesmas telah tersedia alat fogging. Jadi, jika ada warga disalah satu kampung yang dinyatakan menderita penyakit DBD, petugas langsung memberikan surat pemberitahuan bahwa dilokasi itu akan di fogging. Jika warga sekitar siap dilakukan fogging, petugas langsung menfoggingnya. “Kalau warga sekitar tidak mau, ya petugas tidak melanjutkan foggingnya,” imbuhnya. [Sul]